Irjen Pol. Armed Wijaya: Profil dan Kinerja Kapolda Bengkulu

Irjen Pol. Armed Wijaya: Profil dan Kinerja Kapolda Bengkulu

Irjen Pol. Armed Wijaya: Profil dan Kinerja Kapolda Bengkulu

Profil Singkat

Irjen Pol. Armed Wijaya resmi menjabat sebagai Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Bengkulu sejak pertengahan 2025, menggantikan Brigjen Pol. Agus Salim. Ia merupakan lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) 1991 yang meniti karier dari bawah, dengan pengalaman panjang di bidang reserse dan intelijen. Sebelum bertugas di Bengkulu, Armed Wijaya dikenal sebagai perwira tinggi dengan rekam jejak kuat dalam pengungkapan kasus kejahatan transnasional dan narkotika saat menjabat sebagai Wadirtipidnarkoba Bareskrim Polri dan kemudian Wakapolda Sumatera Selatan.

Kombinasi latar belakang reserse dan pengalaman di wilayah rawan konflik membentuk karakter kepemimpinan Armed Wijaya yang cenderung tegas, berbasis data intelijen, dan berorientasi pada hasil.

Karier dan Riwayat Jabatan

Karier Armed Wijaya sebelum menjadi Kapolda Bengkulu melewati berbagai posisi strategis, antara lain:

  • Kasat Reserse Narkoba di beberapa Polda, termasuk Polda Metro Jaya
  • Wadirtipidnarkoba Bareskrim Polri (2020-2023), di mana ia terlibat dalam pengungkapan jaringan narkotika internasional dengan total barang bukti lebih dari 2,3 ton sabu dan 1,1 juta butir ekstasi selama masa tugasnya
  • Wakapolda Sumatera Selatan (2023-2025), mendampingi kapolda dalam menangani konflik agraria, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta pengamanan Pemilu 2024

Penunjukannya sebagai Kapolda Bengkulu pada rotasi Juni 2025 menempatkan Armed Wijaya di wilayah dengan karakteristik berbeda: provinsi pesisir dengan tingkat kriminalitas relatif rendah secara nasional (menempati peringkat 28 dari 34 provinsi berdasarkan data BPS 2024), namun memiliki kerentanan tinggi terhadap kejahatan lingkungan dan narkotika jalur laut.

Kinerja dan Program Unggulan

Dalam 9 bulan pertama kepemimpinannya (Juli 2025–Maret 2026), sejumlah capaian terukur telah ditorehkan jajaran Polda Bengkulu di bawah komando Armed Wijaya:

  • Penurunan tindak pidana konvensional sebesar 11,4% (dari 3.218 kasus pada periode yang sama tahun sebelumnya menjadi 2.851 kasus), terutama pada curat, curas, dan curanmor yang turun 17%
  • Pengungkapan 42 kasus narkotika dengan barang bukti 18,7 kg sabu dan 2.400 butir pil ekstasi, meningkat 23% dari periode sebelumnya dalam hal jumlah pengungkapan
  • Penyelesaian 87% kasus yang dilaporkan, di atas rata-rata nasional Polda tipe B sebesar 82%

Salah satu terobosannya adalah program "Bengkulu Hebat" (Harmonis, Empati, Berantas, Aman, Tertib), yang menitikberatkan pada tiga pilar: penguatan Bhabinkamtibmas di 1.519 desa/kelurahan, patroli siber untuk menekan kejahatan digital yang naik 34% secara nasional pada 2025, dan operasi terpadu pemberantasan narkoba di jalur penyeberangan Pulau Baai–Samudra Hindia. Program ini didukung penambahan 196 personel baru dan peningkatan anggaran operasional sebesar Rp 14,2 miliar dari APBD 2026.

Dibandingkan dengan Polda tetangga seperti Sumatera Selatan dan Lampung, angka kejahatan jalanan Bengkulu masih terkendali. Namun, Indeks Ketakutan Masyarakat (Fear of Crime Index) di Bengkulu tercatat 42,7% pada survei Litbang Kompol 2025, lebih tinggi dari rata-rata Sumatera (38,1%), yang menunjukkan tantangan persepsi keamanan publik masih memerlukan pendekatan komunikasi dan kehadiran polisi yang lebih kuat.

Tantangan dan Harapan

Tantangan terbesar Armed Wijaya ke depan adalah mempertahankan momentum penurunan kriminalitas di tengah keterbatasan infrastruktur dan geografis Bengkulu yang memiliki garis pantai sepanjang 525 km—rawan penyelundupan narkoba dan barang ilegal. Selain itu, konflik tenurial di kawasan hutan lindung dan HGU perkebunan di Rejang Lebong serta Seluma memerlukan pendekatan preventif yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan.

Dengan sisa masa jabatan hingga 2027, ekspektasi publik terhadap Armed Wijaya terfokus pada tiga hal: digitalisasi pelayanan kepolisian (saat ini baru 56% layanan Polda Bengkulu yang terdigitalisasi, di bawah target nasional 75%), penguatan Polres-Polres jajaran yang masih kekurangan 23% dari DSP, dan peningkatan indeks kepercayaan publik yang kini berada di angka 78,4% (survei internal Polda, Desember 2025). Keberhasilan mengelola tiga variabel ini akan menentukan apakah pendekatan analitis dan berbasis data yang diterapkan Armed Wijaya mampu menjadi model bagi Polda tipe B lainnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User