Kejutan di Perempat Final: Norwegia Singkirkan Inggris 2-0

Drama besar tersaji di Stade Vélodrome, Marseille, ketika Norwegia secara mengejutkan menumbangkan Inggris dengan skor meyakinkan 2-0 dalam laga perempat final Piala Dunia 2026. Dua gol di babak kedu...

Kejutan di Perempat Final: Norwegia Singkirkan Inggris 2-0

Drama besar tersaji di Stade Vélodrome, Marseille, ketika Norwegia secara mengejutkan menumbangkan Inggris dengan skor meyakinkan 2-0 dalam laga perempat final Piala Dunia 2026. Dua gol di babak kedua membungkam The Three Lions yang sejak awal diunggulkan, sekaligus mengukir sejarah baru bagi sepak bola Norwegia yang terakhir kali berhadapan dengan Inggris di panggung Piala Dunia lebih dari empat dekade lalu, tepatnya pada edisi 1983.

Babak Pertama: Tembok Kokoh Skandinavia

Sejak peluit pertama dibunyikan, tensi tinggi langsung terasa. Inggris, dengan formasi 4-3-3 andalan mereka, mencoba mendikte permainan melalui penguasaan bola yang dominan. Statistik penguasaan bola menunjukkan angka 62 persen untuk Inggris di 45 menit awal. Namun, Norwegia yang tampil dengan skema 4-5-1 yang disiplin mampu meredam setiap ancaman. Gelandang bertahan Norwegia, Sander Berge, tampil sebagai poros vital yang memutus aliran bola ke lini depan Inggris. Beberapa kali tusukan dari sayap yang dibangun Bukayo Saka dan Marcus Rashford berhasil dipatahkan oleh bek kiri Norwegia, David Møller Wolfe. Meski Inggris melepaskan 8 tembakan, hanya 2 yang mengarah tepat ke gawang yang dikawal Ørjan Nyland. Peluang terbaik Inggris datang di menit ke-34 melalui sundulan Harry Kane yang masih melambung tipis di atas mistar. Skor kacamata bertahan hingga turun minum.

Babak Kedua: Badai Gol dari Nordik

Memasuki babak kedua, Norwegia keluar dengan intensitas berbeda. Pelatih Ståle Solbakken tampaknya memberikan instruksi untuk lebih berani menekan garis pertahanan tinggi Inggris. Hasilnya instan. Pada menit ke-58, serangan balik cepat yang dibangun dari kaki Martin Ødegaard merobek lini tengah Inggris. Sebuah umpan terobosan brilian dilepaskan kepada Alexander Sørloth yang melakukan overlap. Dengan cerdik, Sørloth mengembalikan bola ke kotak penalti menggunakan tumitnya, dan Erling Haaland yang tidak terkawal dengan dingin menyambar bola menjadi gol. Skor berubah 1-0 untuk keunggulan Norwegia.

Gol tersebut memaksa Inggris meningkatkan agresivitas. Akan tetapi, strategi ini justru membuka ruang lebih lebar di lini belakang. Menit ke-73, petaka kembali datang. Berawal dari eksekusi sepak pojok, bola muntah gagal diamankan oleh Declan Rice di muka kotak penalti. Bola liar jatuh ke kaki Antonio Nusa. Pemain muda Club Atlético de Madrid itu menusuk ke dalam dan melepaskan tembakan melengkung indah dari jarak 20 meter yang bersarang telak di sudut kiri atas gawang Aaron Ramsdale tanpa bisa dihalau. Papan skor menunjukkan 2-0, dan para pendukung The Three Lions meredup.

Inggris sebenarnya memiliki peluang emas untuk memperkecil kedudukan di menit ke-81 setelah wasit menunjuk titik putih usai Reece James dilanggar di kotak terlarang. Namun, penalti yang dieksekusi Harry Kane berhasil dimentahkan oleh Ørjan Nyland lewat tebakan brilian ke arah kanan bawah. Momen itu seakan menjadi puncak frustrasi Inggris. Meski unggul shots on target dengan total 6 berbanding 4, efektivitas Norwegia di kotak 16 menjadi pembeda mutlak malam ini.

Analisis Performa dan Dampak Historis

Kemenangan ini bukan sekedar tiket ke semifinal, melainkan sebuah deklarasi kebangkitan sepak bola Norwegia. Lini pertahanan mereka pantas menerima kredit tinggi dengan mencatatkan clean sheet melawan lini depan bertabur bintang. Duet Leo Skiri Østigård dan Andreas Hanche-Olsen di jantung pertahanan tampak solid, memenangkan 80 persen duel udara. Selain itu, variasi serangan di babak kedua yang tidak melulu bertumpu pada crossing menunjukkan maturitas taktik tim asuhan Solbakken.

Bagi Inggris, kekalahan ini dikonfirmasi sebagai salah satu eliminasi paling mengecewakan di fase gugur. Formasi menyerang yang tidak diimbangi oleh keseimbangan transisi bertahan menjadi kelemahan fatal. Kegagalan Rice dan Jude Bellingham dalam mengontrol lini kedua membuat Ødegaard leluasa menjadi dirijen permainan. Kini, mimpi membawa pulang trofi Piala Dunia setelah puluhan tahun kembali harus terkubur, sementara Norwegia melangkah penuh percaya diri untuk menghadapi pemenang laga antara Prancis melawan Brazil di semifinal. Sebuah malam di mana seorang raksasa tumbang oleh kekuatan kolektif tim non-unggulan yang bermain dengan hati dan disiplin luar biasa.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User