Jonggol – Puluhan Hektare Sawah Gagal Panen Diterjang Wereng
Lanskap persawahan di Desa Weninggalih, Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor, yang biasanya hijau menguning pada awal Juli, kini berubah menjadi hamparan cok
Lanskap persawahan di Desa Weninggalih, Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor, yang biasanya hijau menguning pada awal Juli, kini berubah menjadi hamparan cokelat keemasan yang gersang. Ratusan petani harus menelan kenyataan pahit ketika batang padi yang mereka rawat selama tiga bulan terakhir roboh tak berdaya, disergap serangan hama wereng cokelat yang ganas dan diperparah oleh musim kemarau panjang. Pada Minggu (5/7/2026), aktivitas panen tetap berlangsung, tetapi hasil yang dikumpulkan jauh dari harapan — sebagian besar bulir padi hampa, mengering sebelum sempat terisi.
Berdasarkan pendataan sementara Dinas Pertanian setempat, sedikitnya 35 hektare lahan sawah tadah hujan di wilayah Jonggol dilaporkan mengalami puso atau gagal panen total. Angka ini merepresentasikan potensi kehilangan produksi gabah kering panen (GKP) sekitar 175 hingga 210 ton, dengan asumsi produktivitas normal 5-6 ton per hektare. Jika dikonversi ke nilai ekonomi, kerugian petani ditaksir menembus Rp1,2 miliar hingga Rp1,5 miliar, mengacu pada harga gabah di tingkat petani yang saat ini berada di kisaran Rp7.000–Rp7.500 per kilogram.
Hama Wereng: Serangan Senyap di Tengah El Nino
Fenomena El Nino yang memicu kekeringan ekstrem di berbagai wilayah Jawa Barat menjadi katalis utama meledaknya populasi wereng cokelat (Nilaparvata lugens). Suhu panas dan kelembapan rendah menciptakan lingkungan ideal bagi serangga ini untuk berkembang biak secara eksponensial. Para petani di Jonggol, yang sebagian besar mengandalkan sawah tadah hujan, tidak memiliki sistem irigasi memadai untuk membasahi lahan dan menekan perkembangbiakan hama.
“Biasanya kami bisa menyemprot dengan pestisida, tapi kalau airnya saja tidak ada, lahan makin stres. Wereng menyerang dari pangkal batang, menghisap cairan, sampai tanaman kering dan mati. Satu rumpun bisa langsung roboh dalam dua hari,” jelas seorang penyuluh pertanian lapangan yang enggan disebutkan namanya.
“Saya tanam padi ciherang seluas 0,7 hektare. Modal untuk sewa lahan, benih, pupuk, dan tenaga kerja habis sekitar Rp8,5 juta. Sekarang hasilnya mungkin cuma dapat 1 kuintal, itupun banyak yang hampa. Ini pukulan berat bagi keluarga kami,” ujar Sumardi (54), salah satu petani terdampak, sembari meraba bulir padi yang kopong.
Rantai Pasok Beras Regional Terganggu
Gagal panen di Jonggol berpotensi memicu guncangan pasokan beras di tingkat lokal dan regional. Kabupaten Bogor merupakan salah satu lumbung pangan penyangga kebutuhan beras Jabodetabek. Kontraksi produksi akibat puso diperkirakan akan mendorong kenaikan harga beras medium dan premium di pasar-pasar tradisional Bogor, Depok, hingga Jakarta Timur, setidaknya dalam dua hingga tiga bulan ke depan.
Data historis menunjukkan, setiap penurunan 10 persen pasokan lokal mampu mendongkrak harga beras di tingkat konsumen sebesar 3 hingga 7 persen, bergantung pada kecepatan distribusi dari wilayah surplus lain seperti Indramayu dan Karawang. Namun, jika El Nino berdampak lebih luas, respons harga bisa lebih tajam dan memperbesar kontribusi pangan terhadap inflasi inti.
Ketergantungan pada Sawah Tadah Hujan
Lebih dari 60 persen lahan pertanian di Kecamatan Jonggol masih bergantung pada air hujan. Minimnya infrastruktur irigasi teknis membuat petani sangat rentan terhadap anomali cuaca. Program asuransi usaha tani padi (AUTP) sejatinya tersedia, namun tingkat partisipasi petani masih rendah. Sosialisasi yang terbatas dan persepsi bahwa premi subsidi tetap menjadi beban menjadi hambatan utama.
Dari sisi kebijakan, pemerintah daerah diharapkan mempercepat verifikasi lahan terdampak agar bantuan langsung benih dan pupuk bisa segera disalurkan untuk musim tanam berikutnya. Langkah antisipatif seperti penyediaan pompa air, embung desa, dan varietas padi toleran kekeringan menjadi kebutuhan mendesak yang harus diprioritaskan dalam alokasi APBD Perubahan 2026.
Kekeringan dan serangan wereng di Jonggol adalah potret kecil dari kerentanan sektor pertanian nasional terhadap perubahan iklim. Tanpa adaptasi struktural, siklus gagal panen akan terus berulang dan memperlebar ketimpangan pedesaan.
Comments (0)