JAKARTA — Pakar Otomotif Beberkan Dampak Kebiasaan Berganti Jenis BBM

Dinamika harga bahan bakar minyak (BBM) yang terus berfluktuasi kerap mendorong para pemilik kendaraan untuk berganti-ganti jenis bahan bakar. Sebagian pen

Sep 16, 2026 - 09:03
0 0
JAKARTA — Pakar Otomotif Beberkan Dampak Kebiasaan Berganti Jenis BBM

Dinamika harga bahan bakar minyak (BBM) yang terus berfluktuasi kerap mendorong para pemilik kendaraan untuk berganti-ganti jenis bahan bakar. Sebagian pengendara memilih untuk berpindah dari BBM beroktan rendah ke oktan tinggi saat memiliki anggaran lebih, lalu kembali menurunkan jenis bahan bakar ketika finansial mengetat. Fenomena gonta-ganti BBM ini memicu perdebatan lama di dunia otomotif: apakah kebiasaan tersebut benar-benar dapat menghancurkan komponen mesin dalam jangka waktu singkat, atau sekadar mitos konsumen semata?

Secara analitis, anggapan bahwa sering mengganti jenis bahan bakar akan langsung merusak mesin kendaraan adalah hal yang tidak sepenuhnya tepat. Namun, dampaknya tidak bisa diabaikan begitu saja. Perubahan nilai Research Octane Number (RON) yang dikonsumsi kendaraan secara berulang dapat memengaruhi efisiensi pembakaran dan optimalisasi sistem elektronik kontrol kendaraan (ECU) dalam jangka panjang.

Mekanisme Kerja Mesin dan Mitos Kerusakan Instan

Kendaraan modern saat ini telah dilengkapi dengan teknologi Engine Control Unit (ECU) yang adaptif. Sistem canggih ini mampu mengukur kadar emisi dan mendeteksi kualitas pembakaran melalui sensor oksigen serta knock sensor. Ketika pengendara mengganti BBM dari RON 90 ke RON 92, ECU memerlukan waktu untuk menyesuaikan waktu pengapian (ignition timing) agar pembakaran tetap efisien.

Kerusakan fisik pada komponen mesin tidak akan terjadi secara instan dalam sehari atau dua hari akibat pengisian BBM yang berbeda. Masalah utama sebenarnya muncul ketika perbedaan nilai oktan yang digunakan terlalu signifikan dan tidak sesuai dengan rasio kompresi mesin yang direkomendasikan oleh pabrikan.

Dampak Teknis: Kerak Karbon Hingga Knocking

Kebiasaan mencampur atau berganti-ganti BBM dengan nilai oktan yang jauh berbeda dapat memicu proses pembakaran yang tidak sempurna. Jika mesin berkompresi tinggi dipaksa menggunakan BBM beroktan rendah secara terus-menerus, risiko pembakaran dini atau knocking (mesin ngelitik) akan meningkat secara signifikan. Kondisi ini lambat laun dapat mengikis piston dan merusak dinding silinder.

Sebaliknya, jika mesin berkompresi rendah dipaksakan menggunakan BBM beroktan sangat tinggi, BBM tidak akan terbakar sepenuhnya karena suhu kompresi mesin yang kurang panas. Sisa BBM yang tidak terbakar ini akan meninggalkan penumpukan kerak karbon pada ruang bakar dan katup mesin.

"Sistem ECU kendaraan modern memang bisa menyesuaikan timing pengapian, namun penyesuaian berulang-ulang secara drastis akan mengganggu efisiensi rasio bahan bakar dan udara. Akibatnya, performa mesin menjadi tidak stabil dan tumpukan karbon di ruang bakar akan semakin cepat membesar," ujar Dr. Ir. Bambang Supriadi, Peneliti Senior Laboratorium Termodinamika Mesin Otomotif.

Untuk memahami kecocokan antara rasio kompresi mesin dan jenis BBM yang ideal, berikut adalah tabel panduan umum yang direkomendasikan pabrikan otomotif:

Rasio Kompresi Mesin Nilai Oktan (RON) Ideal Potensi Dampak Jika Tidak Sesuai
9,0 : 1 s.d. 10,0 : 1 RON 90 (Subsidi/Pertalite) Residu karbon jika diisi oktan terlalu tinggi
10,0 : 1 s.d. 11,0 : 1 RON 92 (Pertamax/Shell Super) Mesin ngelitik dan daya turun jika diisi RON 90
11,0 : 1 s.d. 12,0 : 1 RON 95 / RON 98 Kerusakan permanen pada piston akibat knocking berat

Rekomendasi Pabrikan dan Efisiensi Jangka Panjang

Konsistensi adalah kunci utama dalam menjaga keawetan komponen internal mesin kendaraan. Pabrikan otomotif menetapkan standar oktan bukan tanpa alasan, melainkan telah melalui pengujian teknis yang ketat sesuai spesifikasi kompresi ruang bakar. Menggunakan satu jenis BBM yang konsisten sesuai buku petunjuk pemilik akan membuat sisa pembakaran menjadi lebih stabil dan terukur.

Bagi pemilik kendaraan yang ingin menghemat biaya operasional, langkah terbaik bukanlah gonta-ganti BBM secara ekstrem, melainkan memilih jenis BBM dengan oktan terendah yang masih diizinkan oleh batas toleransi kompresi mesin kendaraan tersebut. Dengan mempertahankan konsistensi penggunaan BBM, risiko deposit karbon liar pada injector dan busi dapat ditekan semaksimal mungkin, sekaligus menjaga usia pakai komponen mesin tetap panjang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
indah-permata

Reporter Kriminal. Meliput Polri, kejaksaan, dan pengadilan pidana.

Comments (0)

User