JAKARTA — NexAI Bidik Rp2,5 Triliun Melalui Rights Issue untuk Data Center
PT NexAI Digital Infrastruktur Tbk (MGLV) resmi mengumumkan detail pelaksanaan aksi korporasi berupa Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Te
PT NexAI Digital Infrastruktur Tbk (MGLV) resmi mengumumkan detail pelaksanaan aksi korporasi berupa Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau rights issue. Dalam keterbukaan informasi perseroan, emiten infrastruktur digital ini menargetkan penghimpunan dana segar hingga Rp 2,5 triliun guna mempercepat ekspansi fasilitas pusat data (data center) berbasis kecerdasan buatan (AI) di Indonesia.
Langkah strategis ini mencerminkan tingginya permintaan komputasi awan berkinerja tinggi (high-performance computing) seiring percepatan transformasi digital dan integrasi ekosistem AI di kawasan Asia Tenggara. Manajemen perseroan menegaskan bahwa penguatan permodalan ini penting untuk menjaga rasio keuangan tetap sehat tanpa menambah beban liabilitas berbunga tinggi.
Kronologi dan Rencana Aksi Korporasi MGLV
Proses rights issue NexAI dijadwalkan berlangsung secara bertahap melalui serangkaian agenda korporasi dan regulasi pasar modal:
- Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB): Perseroan telah mengantongi persetujuan pemegang saham independen untuk penerbitan saham baru seri B dengan nominal yang telah disesuaikan.
- Pernyataan Efektif OJK: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) merilis pernyataan efektif setelah peninjauan prospektus dan keterbukaan struktur alokasi penggunaan dana.
- Penetapan Rasio dan Harga Pelaksanaan: Manajemen menetapkan rasio hak memesan efek terlebih dahulu serta harga pelaksanaan yang telah memperhitungkan diskon wajar terhadap rata-rata harga pasar 90 hari terakhir.
- Periode Perdagangan dan Eksekusi HMETD: Investor ritel maupun institusi diberikan rentang waktu lima hari bursa untuk menebus atau memperdagangkan hak mereka di pasar modal.
- Alokasi Belanja Modal (Capex): Dana hasil emisi bersih segera disalurkan ke entitas anak guna membiayai konstruksi fisik dan pengadaan server berspesifikasi tinggi.
"Kebutuhan infrastruktur AI membutuhkan kapabilitas pusat data dengan densitas daya tinggi dan sistem pendingin mutakhir. Dana dari rights issue ini akan memposisikan NexAI sebagai pemain kunci penyedia infrastruktur AI tier-3 dan tier-4 di Indonesia," ujar perwakilan manajemen NexAI dalam keterangan resminya.
Rencana Penggunaan Dana dan Prospek Pertumbuhan
Berdasarkan prospektus ringkas, alokasi dana hasil rights issue sebesar Rp 2,5 triliun tersebut akan difokuskan pada tiga pilar utama:
- 70% untuk Pembangunan Fasilitas Hyperscale Data Center: Pembangunan fasilitas baru di koridor digital Jawa Barat dengan kapasitas daya mencapai 30 Megawatt (MW).
- 20% untuk Pengembangan Jaringan Fiber Optik dan Interkoneksi: Integrasi konektivitas berkecepatan tinggi antar-pusat data guna meminimalkan latensi pemrosesan data AI.
- 10% untuk Modal Kerja (Working Capital): Mendukung likuiditas operasional harian dan pemeliharaan infrastruktur jaringan existing.
Secara analitis, aksi korporasi ini berpotensi mendilusi kepemilikan pemegang saham lama yang tidak mengeksekusi haknya. Kendati demikian, masuknya dana segar secara signifikan akan menurunkan rasio utang terhadap modal (Debt to Equity Ratio/DER) dan meningkatkan nilai aset bersih perseroan, memberikan ruang ekspansi jangka panjang yang jauh lebih kokoh.
Comments (0)