Israel Tinggalkan Kubu Infantino Jelang Pemilihan Presiden FIFA 2027
Gegar politik kembali mengguncang markas FIFA di Zurich. Federasi Sepak Bola Israel (IFA) resmi menarik dukungannya terhadap Gianni Infantino, dan jadilah ia anggota terbaru dari deretan federasi yang...
Gegar politik kembali mengguncang markas FIFA di Zurich. Federasi Sepak Bola Israel (IFA) resmi menarik dukungannya terhadap Gianni Infantino, dan jadilah ia anggota terbaru dari deretan federasi yang berpaling dari petahana menjelang Pemilihan Presiden FIFA 2027. Jika laga politik ini kita hitung layaknya skor akhir sebuah final, kedudukan sementara kini berubah: ruang ganti pendukung Infantino kehilangan satu pemain kunci, dan tekanan mulai menumpuk dari dua sisi lapangan sekaligus.
Menit-Menit Krusial di Markas Besar Zurich
Bagi pengamat yang setia membaca peta kekuasaan sepak bola dunia, keputusan IFA bukan sekadar kartu kuning simbolis. Ini adalah isyarat nyata bahwa starting XI koalisi petahana mulai goyah. Sejak terpilih pada 2016 lewat kongres luar biasa menggantikan era Blatter, Infantino nyaris tanpa lawan: ia kembali dilantik pada 2019 dan 2023 tanpa rival yang serius. Namun menuju kongres 2027, lapangan permainan berubah total. Seperti penyerang yang tiba-tiba kehilangan assist dari gelandang terbaiknya, petahana kini harus membangun serangan dari lini yang lebih dalam.
Menit ke-90 pertarungan politik memang belum berbunyi, tetapi momentum jelas bergerak. Keputusan IFA datang di tengah gelombang evaluasi sejumlah federasi atas arah kepemimpinan FIFA. Yang menarik, keputusan ini keluar dari kawasan yang selama ini kerap disebut sebagai zona aman. Ketika sebuah federasi dari blok yang dianggap loyal mulai bergeser, pertanyaan besarnya bukan lagi siapa yang akan menang, melainkan berapa banyak federasi lain yang siap mengikuti jejak yang sama. Inilah momen yang dalam dunia sepak bola kerap disebut sebagai offside: semua orang melihat pergerakannya, hanya saja belum ada yang berani mengangkat bendera lebih dulu.
Peta Suara: Hitung-Hitungan di Ruang Kongres
Untuk memahami besarnya dampak langkah IFA, kita harus bicara angka. FIFA memiliki 211 asosiasi anggota, dan presiden terpilih hanya jika meraih mayoritas suara sah dalam kongres. Artinya, ambang kemenangan berada di kisaran lebih dari separuh delegasi yang hadir — angka yang membuat setiap satu suara menjadi mahal. Penguasaan bola dalam konteks ini adalah kemampuan mengamankan dukungan blok-blok besar: Eropa dengan 55 federasi UEFA, Afrika dengan 54 asosiasi CAF, serta Asia dan Amerika yang masing-masing membawa puluhan delegasi ke ruang pemungutan suara.
Di atas kertas, shots on target petahana masih terbilang banyak: program pendapatan kompetisi yang menembus rekor, ekspansi Piala Dunia menjadi 48 tim, serta peran sentral FIFA dalam kalender sepak bola global. Namun sepak bola mengajarkan bahwa penguasaan bola tinggi tidak otomatis berujung gol. Setiap penarikan dukungan seperti sepak pojok yang gagal dimanfaatkan: peluang tetap ada, tetapi lawan makin percaya diri memainkan formasi bertahan sambil menunggu celah serangan balik. Dalam politik federasi, celah itu biasanya bernama agenda pembagian pendapatan, transparansi, dan tata kelola — isu yang selalu hidup di koridor kongres.
Babak Kedua: Strategi Petahana Menjaga Clean Sheet
Infantino bukan tipe pelatih yang menunggu bola. Sepanjang kariernya sebagai pemimpin FIFA, ia dikenal gesit membangun lobi langsung ke kepala-kepala federasi, termasuk di kawasan yang mulai ragu. Dengan mayoritas dukungan yang belum resmi tercabut, ia masih memegang kendali atas agenda kongres, anggaran, dan jadwal. Dalam bahasa taktik, ia masih memimpin penguasaan bola, tetapi clean sheet-nya mulai terancam oleh serangan balik yang terorganisasi. Para penantang tak perlu menunggu kesalahan besar; cukup menggerogoti sedikit demi sedikit, federasi demi federasi, hingga di babak akhir jumlah suara berbicara lebih keras daripada reputasi.
Satu hal yang pasti: keputusan IFA membuat peta dukungan memasuki babak baru. Apakah ini akan memicu efek domino di federasi lain, atau justru memicu respons balik yang lebih agresif dari kubu petahana? Para pengamat menilai kongres 2027 akan menjadi pemilihan paling kompetitif dalam satu dekade terakhir. Seperti laga yang berjalan hingga perpanjangan waktu, pertarungan ini belum menghasilkan pemenang — tetapi setiap federasi yang menarik dukungan kini menambah tensi di tribun. Siapa yang akan mencetak gol penentu, dan federasi mana yang memegang VAR atas keputusan akhir? Kita tunggu babak berikutnya, dengan catatan: di politik FIFA, tidak ada yang menang sebelum penghitungan suara resmi dituntaskan.
Comments (0)