Inter Milan Singkirkan Barcelona 4-3 di San Siro, Flick Gagal ke Final
Skor akhir 4-3 lewat perpanjangan waktu — Inter Milan memastikan tiket ke final Liga Champions 2024/25 usai menahan gempuran Barcelona dalam partai yang layak disebut salah satu semifinal paling dra...
Skor akhir 4-3 lewat perpanjangan waktu — Inter Milan memastikan tiket ke final Liga Champions 2024/25 usai menahan gempuran Barcelona dalam partai yang layak disebut salah satu semifinal paling dramatis dalam sejarah kompetisi. Agregat 7-6 menjadi harga mahal yang harus dibayar Hansi Flick dan anak-anak asuhnya, meski mereka sempat unggul 3-2 hingga menit ke-87.
San Siro bergemuruh sejak kick-off. Simone Inzaghi menurunkan starting XI dengan formasi khas 3-5-2, sementara Flick menjawab dengan struktur 4-2-3-1 yang mengandalkan Lamine Yamal di sayap kanan. Dua puluh menit awal dimiliki Nerazzurri lewat transisi cepat, dan efisiensi itu langsung membuahkan hasil.
Babak Pertama: Efisiensi Mematikan Inter
Menit ke-21, Denzel Dumfries melepaskan umpan dari sisi kanan yang gagal dibaca pertahanan Barcelona. Lautaro Martínez menyambut dengan sentuhan pertama tanpa kontrol, bola menghantam mistar sebelum masuk — 1-0 untuk tuan rumah. Tekanan Inter tidak berhenti. Menit ke-45+2, wasit menunjuk titik penalti setelah tinjauan VAR menyatakan Pau Cubarsí menyentuh bola dengan tangan di kotak terlarang. Hakan Çalhanoğlu mengeksekusi dengan tenang: 2-0.
Barcelona sebenarnya menguasai tempo dengan penguasaan bola mencapai 60 persen di babak ini, namun hanya mencatatkan dua shots on target. Yamal dua kali mengancam, satu di antaranya membentur tiang gawang, sementara Bastoni menerima kartu kuning menit ke-38 karena pelanggaran taktis pada winger remaja itu. Inter tampil dingin: dua peluang bersih, dua gol.
Tangan Ajaib Flick: Comeback Tiga Gol
Ruang ganti menjadi titik balik. Flick melakukan rotasi agresif saat jeda, dan dampaknya langsung terasa. Menit ke-54, umpan terobosan Gerard Martín diteruskan Eric García melewati Yann Sommer — 2-1. Enam menit kemudian, duet yang sama mengulang resepnya: Dani Olmo melepaskan tembakan first-time dari tepian kotak penalti, skor imbang agregat 5-5 seketika berganti arah.
Menit ke-87, stadion nyaris hening. Robert Lewandowski yang baru masuk menit ke-76 tak mampu menghalau bola rebound, dan Raphinya menyambutnya dengan keras — 3-2 untuk Barcelona dalam rentang 33 menit gila. Statistik bicara: penguasaan bola Catalans merangkak ke 71 persen dengan 26 percobaan tembakan, 11 di antaranya tepat sasaran. Inter? Hanya empat shots on target sepanjang 90 menit regulasi.
Acerbi dan Frattesi: Malam Pahit Sang Pelatih Jerman
Namun sepak bola punya alurnya sendiri. Menit ke-90+3, dari sepak pojok, Francesco Acerbi melepaskan voli telak melewati Wojciech Szczęsny. 3-3. San Siro meledak, dan Flick tampak menundukkan kepalanya di pinggir lapangan — momen yang terekam kamera sebagai simbol malam tersebut.
Perpanjangan waktu hanya butuh sembilan menit untuk menentukan nasib. Menit ke-99, Mehdi Taremi menggiring bola masuk kotak penalti sebelum memberikan umpan matang kepada Davide Frattesi. Penyelesaian tenang, 4-3. Barcelona sempat menuntut penalti atas kontak terhadap Yamal di menit-menit akhir, tetapi VAR membiarkan keputusan lapangan berdiri.
'Kami memberikan segalanya selama 120 menit. Sepak bola terkadang kejam, tapi saya bangga dengan karakter tim ini. Kita akan bangkit dan fokus pada sisa musim,' ujar Flick usai laga.
Kekalahan ini memupus impian treble Barcelona pada musim pertama era Flick. Catatan clean sheet yang absen dalam lima laga terakhir menjadi pekerjaan rumah nyata bagi lini belakang Catalans, apalagi dengan duel El Clásico menanti di kalender La Liga. Di sisi lain, Inter melaju ke final di München untuk berhadapan dengan Paris Saint-Germain, membawa misi merebut trofi big ears keempat dalam sejarah klub.
Comments (0)