INHU — Kapolda dan Pangdam Tinjau Karhutla Serta Gelar Salat Istisqa
Ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) kembali menguji ketangguhan Provinsi Riau. Di tengah eskalasi cuaca ekstrem yang melanda wilayah Kabupaten Ind
Ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) kembali menguji ketangguhan Provinsi Riau. Di tengah eskalasi cuaca ekstrem yang melanda wilayah Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan bersama Pangdam XIX/Tuanku Tambusai Mayjen TNI Agus Hadi Waluyo turun langsung memimpin peninjauan lapangan di Desa Pulau Jumat, Kecamatan Kuala Cenaku, pada Rabu (16/9/2026). Langkah strategis ini menegaskan bahwa penanganan Karhutla tidak lagi sekadar urusan teknis pemadaman di tingkat tapak, melainkan telah menjadi prioritas pertahanan kawasan dan keselamatan publik. Peninjauan yang dirangkaikan dengan pelaksanaan Salat Istisqa bersama ratusan personel Satgas menjadi bentuk komitmen moral dan spiritual di tengah kepulan asap yang mengepung tanah gambut.
Sinergi Komando Taktis di Medan Gambut
Kunjungan bersama pucuk pimpinan TNI dan Polri di Riau ini menggarisbawahi pentingnya mitigasi terpadu dalam menanggulangi bencana ekologis tahunan. Wilayah Kuala Cenaku dikenal memiliki karakteristik tanah gambut yang cukup dalam, membuat pemadaman api di permukaan kerap kali tidak mampu menghentikan membara-nya material organik di bawah tanah. Sebanyak puluhan hektar lahan potensial terancam hangus jika mitigasi dini tidak dilakukan secara masif dan terstruktur. Dalam inspeksi tersebut, pimpinan penegak hukum dan pertahanan memastikan ketersediaan pasokan air, efektivitas pompa portabel, hingga skenario pemadaman udara (water bombing).
"Penanganan Karhutla di tanah gambut membutuhkan presisi tinggi dan konsistensi. Kita tidak hanya memadamkan api yang terlihat di permukaan, tetapi juga menembus bara di lapisan dalam. Kehadiran kami di sini untuk memastikan seluruh pemangku kepentingan bekerja dalam satu komando yang solid," tegas Irjen Pol Herry Heryawan di lokasi pemadaman.
Salat Istisqa: Dimensi Spiritual dan Penguat Moral Tim Gabungan
Di tengah keterbatasan sumber air dan cuaca yang kian terik, rombongan petinggi TNI-Polri bersama jajaran Satgas Karhutla meluangkan waktu melaksanakan Salat Istisqa secara khusyuk di tanah terbuka yang tersapu asap. Langkah ini merefleksikan pendekatan humanis di samping operasi fisik yang menguras stamina. Pendekatan berbasis keagamaan ini dinilai krusial untuk menjaga ketahanan psikologis serta moralitas para petugas lapangan yang telah bertaruh nyawa di garis depan selama berminggu-minggu.
Mayjen TNI Agus Hadi Waluyo menekankan bahwa perjuangan melawan karhutla adalah tugas kemanusiaan yang membutuhkan daya tahan spiritual. Sinergi antara usaha manusiawi dan doa menjadi fondasi utama dalam menghadapi krisis iklim ini.
"Selain ikhtiar fisik dengan alutsista dan peralatan teknis, kita berserah diri memohon pertolongan Tuhan Yang Maha Kuasa agar hujan segera diturunkan untuk menuntaskan pemadaman ini," ujar Mayjen TNI Agus Hadi Waluyo.
Analisis Evaluatif Penanganan dan Tantangan Karhutla Riau
Secara analitis, penanganan Karhutla di Riau menuntut transformasi dari respons reaktif menjadi pencegahan struktural. Lahan gambut Inhu yang terdegradasi akibat kanalisasi liar mempercepat pengeringan air tanah, menjadikannya sangat rentan terbakar pada musim kemarau. Evaluasi penanganan Karhutla memerlukan penguatan pada tiga aspek utama yang saling berkaitan.
| Kategori Tantangan | Faktor Kendala Utama | Solusi Strategis Operasional |
|---|---|---|
| Karakteristik Lahan | Gambut dalam & kanalisasi tidak terkontrol | Pembasahan kembali (rewetting) & penyekatan kanal |
| Logistik Pemadaman | Ketersediaan embung air terbatas di lokasi | Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) & pembuatan sumur bor |
| Penegakan Hukum | Pembukaan lahan secara ilegal dengan membakar | Gakkum tegas & integrasi program Desa Bebas Api |
Penguatan penegakan hukum terhadap oknum pembuka lahan dengan cara membakar (slash-and-burn) harus berjalan beriringan dengan edukasi masyarakat. Data kepolisian menunjukkan bahwa mayoritas titik api masih dipicu oleh faktor aktivitas manusia. Oleh sebab itu, ketegangan antara kepentingan ekonomi jangka pendek dan kelestarian ekologis jangka panjang harus diselesaikan melalui regulasi daerah yang mengikat serta pemberian insentif bagi desa yang berhasil menjaga wilayahnya dari bahaya api.
Kesimpulannya, langkah taktis Kapolda Riau dan Pangdam XIX/Tuanku Tambusai di Kuala Cenaku merupakan sinyal kuat bahwa negara hadir secara penuh dalam krisis ini. Namun, keberlanjutan lingkungan Riau sangat bergantung pada konsistensi penegakan hukum, restorasi gambut berkelanjutan, dan kesadaran kolektif seluruh lapisan masyarakat.
Comments (0)