INGGRIS — Gelombang Separatisme Mengancam Keutuhan Wilayah Britania Raya Pasca-Brexit
Stabilitas konstitusional Britania Raya kini menghadapi ujian terberat sepanjang sejarah modernnya. Untuk pertama kalinya, tiga wilayah di bawah naungan ta
Stabilitas konstitusional Britania Raya kini menghadapi ujian terberat sepanjang sejarah modernnya. Untuk pertama kalinya, tiga wilayah di bawah naungan takhta London—Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara—dipimpin oleh faksi politik serta figur yang secara terbuka menuntut redefinisi hubungan kekuasaan dengan pemerintah pusat, bahkan membuka wacana pemisahan diri secara permanen.
Dinamika disintegrasi ini merupakan efek lanjutan dari keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit). Alih-alih memperkuat kedaulatan nasional terpadu sebagaimana dijanjikan para pendukung Brexit, langkah pemisahan tersebut justru memicu friksi internal yang mengancam eksistensi The United Kingdom of Great Britain and Northern Ireland.
Kronologi Eskalasi Tekanan Disintegrasi di Britania Raya
- September 2014: Skotlandia menggelar referendum kemerdekaan resmi; kubu pro-persatuan menang tipis dengan perolehan 55% berbanding 45%.
- Juni 2016: Referendum Brexit mencatat mayoritas pemilih di Skotlandia (62%) dan Irlandia Utara (55,8%) memilih bertahan di Uni Eropa, namun dipaksa keluar karena dominasi suara di Inggris (England).
- Mei 2022: Partai nasionalis pro-unifikasi Irlandia, Sinn Féin, mencetak sejarah dengan memenangkan kursi terbanyak di Majelis Irlandia Utara (Stormont).
- 2023–2024: Tekanan politik di Edinburgh dan Cardiff menguat seiring tuntutan perluasan devolusi fiskal dan hak penentuan nasib sendiri yang terus disuarakan kepada Parlemen Westminster.
Dinamika Tiga Wilayah yang Menggugat London
Di Skotlandia, Partai Nasional Skotlandia (SNP) secara konsisten mempertahankan mandat politik pro-kemerdekaan. Narasi utama mereka bertumpu pada argumen ekonomi: Skotlandia kehilangan akses pasar tunggal Eropa di luar kehendak mayoritas warganya. Ketidakpuasan atas kebijakan ekonomi London memicu dorongan kuat untuk menggelar referendum kemerdekaan kedua (*Indyref2*).
Sementara itu, di Irlandia Utara, dominasi partai loyalis pro-Inggris telah tergeser oleh naiknya Sinn Féin. Protokol Irlandia Utara pasca-Brexit secara *de facto* menempatkan perbatasan perdagangan di Laut Irlandia, menjauhkan wilayah ini secara ekonomi dari London dan mendekatkannya ke Republik Irlandia.
"Brexit telah membongkar konsensus konstitusional yang telah bertahan selama ratusan tahun. Ketika wilayah-wilayah penyusun Britania Raya merasa aspirasi geopolitik mereka diabaikan oleh London, pemisahan diri bukan lagi sekadar retorika, melainkan opsi politik yang nyata," ungkap laporan kajian geopolitik Eropa.
Di Wales, gerakan kemerdekaan melalui partai Plaid Cymru dan elemen masyarakat sipil mencatat lonjakan dukungan signifikan. Isu krisis pembiayaan publik serta ketimpangan infrastruktur daerah memperkuat tuntutan otonomi fiskal penuh, merongrong kontrol terpusat dari Westminster.
Implikasi Geopolitik dan Ekonomi
Ancaman fragmentasi ini menempatkan pemerintah pusat Inggris pada posisi rentan. Kehilangan wilayah tidak hanya akan mengurangi skala ekonomi dan basis sumber daya energi di Laut Utara, tetapi juga mereduksi status strategis Inggris sebagai kekuatan global utama di panggung internasional.
Comments (0)