IFA Cabut Dukungan untuk Infantino Jelang Kongres FIFA
Skor akhir dari pertandingan politik yang jarang disorot kamera ini tercatat tegas: Federasi Sepak Bola Israel (IFA) resmi mencabut dukungannya terhadap Gianni Infantino sebagai Presiden FIFA. Keputus...
Skor akhir dari pertandingan politik yang jarang disorot kamera ini tercatat tegas: Federasi Sepak Bola Israel (IFA) resmi mencabut dukungannya terhadap Gianni Infantino sebagai Presiden FIFA. Keputusan itu diumumkan menyusul proses evaluasi internal yang berlangsung berbulan-bulan, dan langsung mengubah arah peta kekuatan menjelang Kongres FIFA berikutnya. Bila diibaratkan laga sepak bola, ini adalah gol telak di menit ke-90 yang membuat ruang ganti Infantino kehilangan keseimbangan — dan stadion politik FIFA mulai bergemuruh.
Berdasarkan catatan yang beredar, Infantino telah mengendalikan FIFA selama sepuluh tahun, sejak memenangkan Kongres Luar Biasa 2016 di Zurich menggantikan Sepp Blatter. Selama periode itu ia tercatat memenangkan tiga kali pemilihan — semacam hat-trick kekuasaan yang jarang terjadi di panggung sepak bola dunia — sekaligus membawa ekspansi besar-besaran: Piala Dunia 2026 di Amerika Utara dengan 48 tim peserta dan format baru Piala Dunia Antarklub pada 2025. Namun penguasaan bola di ruang kekuasaan itu tak pernah berjalan mulus. Kritik terhadap transparansi, remunerasi eksekutif, hingga penanganan isu politik yang melibatkan negara anggota terus berdatangan, seperti kartu kuning yang tak henti dikeluarkan wasit sepanjang laga.
Babak Pertama: Sepuluh Tahun di Puncak Klasemen
Untuk memahami langkah IFA, kita perlu menengok starting XI awal kepemimpinan Infantino. Pada 2016 ia hadir sebagai figur reformis yang berjanji membersihkan FIFA pasca-skandal era Blatter. Statistiknya memang mengesankan: pendapatan FIFA dilaporkan meroket dari kisaran USD 4,5 miliar pada siklus 2015-2018 menjadi sekitar USD 7,5 miliar pada 2019-2022, dan ditargetkan menembus USD 11 miliar pada siklus 2023-2026. Di atas kertas, angka-angka itu seperti formasi 4-3-3 yang indah: produktif, dominan, penuh shots on target. Namun di balik layar, sejumlah anggota menilai gaya kepemimpinan Infantino terlalu personal dan jauh dari semangat kolektif yang ia janjikan saat kampanye.
Babak Kedua: Kartu Kuning dari Ruang Ganti UEFA
Keputusan IFA menjadi kartu kuning resmi pertama yang dilayangkan seorang anggota kepada Infantino dalam periode terakhirnya — dan menariknya, kartu itu datang dari anggota UEFA, konfederasi yang selama ini dianggap sebagai basis kekuatan terkuatnya. Latar belakangnya tak lepas dari dinamika Timur Tengah yang memanas. Sejak 2023, Asosiasi Sepak Bola Palestina (PFA) berulang kali mendesak FIFA agar menjatuhkan sanksi terhadap Israel, dan isu tersebut sempat masuk dalam agenda Kongres FIFA. Infantino merespons dengan mengusulkan inisiatif perdamaian yang melibatkan kedua federasi — langkah yang oleh sebagian pihak dinilai sebagai strategi menunda keputusan. Bagi IFA, sikap itu dinilai kurang tegas membela kepentingan anggotanya. Dukungan pun goyah, seperti pertahanan yang kehilangan bek tengah di tengah serangan balik.
"Kami tidak bisa selamanya mendukung kepemimpinan yang gagal menjaga netralitas dan kepentingan setiap anggota. Ini bukan keputusan emosional, melainkan hasil evaluasi panjang yang berlangsung di internal federasi," ujar seorang pejabat eksekutif IFA yang enggan disebutkan namanya.
FIFA sendiri belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait keputusan IFA. Sejauh ini, setiap keputusan politik yang menyangkut anggota biasanya harus melewati semacam pemeriksaan VAR oleh komite etik dan komite kongres sebelum menjadi agenda resmi — dan jika keputusan itu disahkan, kredibilitas Infantino boleh dibilang menerima kartu merah di tengah peta politik. Pertanyaannya kini: apakah langkah IFA akan diikuti federasi lain yang selama ini menahan kritik di ruang tertutup?
Babak Ketiga: Starting XI Politik dan Peta Kekuatan Baru
Dalam peta politik FIFA yang beranggotakan 211 asosiasi, suara IFA memang kecil secara kuantitas. Namun nilainya sangat simbolis dan strategis. Israel tercatat menjadi anggota UEFA sejak 1994 — federasi yang justru kerap menjadi penyangga utama kursi Infantino. Keputusan IFA karenanya bisa dibaca sebagai sinyal bahwa ruang ganti UEFA mulai terbelah. Seperti offside yang membatalkan gol di menit-menit akhir, satu keputusan kecil bisa mengubah jalannya pertandingan besar.
Di sisi lain, Infantino bukan figur yang mudah dijatuhkan. Sejak 2023, belum ada kandidat serius yang berani menantangnya secara terbuka. Ia mencatat clean sheet dalam setiap pemilihan sejauh ini, dan agenda komersial FIFA yang menguntungkan negara-negara anggota menjadi tameng yang sulit ditembus. Meski begitu, pengamat menilai dukungan politik, bukan sekadar pendapatan, adalah kunci menuju Kongres 2027 — dan di sinilah pukulan IFA terasa paling perih.
Analisis Pemain Kunci: Momen Kebenaran Infantino
Layaknya pemain bintang yang menghadapi tendangan penalti di menit ke-90, Infantino kini berdiri di titik penalti politik terbesarnya. Pencabutan dukungan IFA adalah semacam assist yang dilepaskan blok oposisi — kini tinggal menunggu siapa yang akan menuntaskannya menjadi gol. Jika sebelumnya Infantino nyaman dengan penguasaan bola penuh di ruang ganti FIFA, mulai hari ini ia harus berbagi kendali.
Skor akhir memang belum berubah di papan klasemen resmi FIFA, tetapi arah pertandingan sudah bergeser. Keputusan IFA membuktikan bahwa loyalitas di panggung sepak bola dunia tidak diwariskan; ia harus dimenangkan setiap hari. Untuk Infantino, pertandingan sesungguhnya baru saja dimulai — dan lawannya kini bukan lagi di lapangan, melainkan di ruang suara 211 federasi.
Comments (0)