Hujan Guyur Kubu Raya Usai 67 Hari Terlanda Karhutla Ekstrem
Ketegangan yang menyelimuti Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, akhirnya mereda ketika rintik hujan berintensitas sedang hingga lebat membasahi tanah ga
Ketegangan yang menyelimuti Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, akhirnya mereda ketika rintik hujan berintensitas sedang hingga lebat membasahi tanah gambut yang mengering pada awal pekan ini. Selama 67 hari berturut-turut, wilayah ini terkunci dalam periode kekeringan kritis yang memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masif. Fenomena presipitasi alami ini menjadi titik balik krusial dalam menekan eskalasi titik api (hotspot) yang sempat melumpuhkan kualitas udara di kawasan pesisir Kalimantan Barat tersebut.
Bagi ratusan personel gabungan—mulai dari Manggala Agni, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI-Polri, hingga Masyarakat Peduli Api (MPA)—turunnya hujan disambut dengan rasa haru mendalam. Sejumlah relawan di garis depan pemadaman bahkan terekam melakukan aksi sujud syukur di atas tanah gambut yang masih berasap. Beban fisik dan mental para petugas yang berjibaku tanpa henti di bawah ancaman paparan asap pekat akhirnya terangkat oleh guyuran hujan alami.
"Hujan ini adalah mukjizat bagi kami di lapangan. Memadamkan api di kedalaman gambut kering setebal dua hingga tiga meter hampir mustahil dilakukan hanya dengan selang air manual jika kemarau terus berlanjut," ungkap seorang koordinator lapangan pemadam kebakaran hutan swadaya di Kubu Raya.
Karakteristik Lahan Gambut dan Tantangan Pemadaman Bawah Tanah
Kubu Raya memiliki topografi lahan gambut dalam yang sangat rentan saat kemarau panjang. Secara hidrologis, gambut yang kehilangan kadar air akibat kemarau ekstrem lebih dari dua bulan akan berubah menjadi material organik yang sangat mudah terbakar (combustible). Kebakaran pada lanskap semacam ini tidak hanya menjalar di permukaan, melainkan merayap secara lambat di bawah tanah (subsurface fire), menghasilkan gas monoksida dan partikulat berbahaya (PM2.5) dalam jumlah masif.
Tabel berikut mengilustrasikan perbedaan kondisi teknis sebelum dan sesudah presipitasi melanda wilayah Kubu Raya:
| Indikator Operasional | Masa Kering (67 Hari) | Pascahujan |
|---|---|---|
| Kadar Air Gambut (Moisture) | Kritis (< 20%) | Meningkat (> 55%) |
| Kedalaman Titik Api | 1 hingga 3 meter di bawah tanah | Terpadamkan di permukaan, pendinginan bawah tanah |
| Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) | Kategori Sangat Tidak Sehat / Berbahaya | Kategori Sedang menuju Baik |
Urgensi Manajemen Tata Air dan Mitigasi Berkelanjutan
Meskipun hujan membawa intervensi alami yang efektif, para pengamat lingkungan menegaskan bahwa curah hujan sesaat bukanlah solusi jangka panjang atas persoalan karhutla berulang. Pembasahan gambut (rewetting) memerlukan rekayasa tata kelola air yang sistematis melalui pembangunan dan pemeliharaan sekat kanal (canal blocking) secara ketat.
Langkah preventif yang mendesak untuk segera diperkuat di antaranya meliputi:
- Monitoring Hidrologis: Memastikan tinggi muka air tanah gambut (TMAT) tetap berada di bawah batas ambang bahaya 0,4 meter dari permukaan tanah.
- Penegakan Regulasi Pembukaan Lahan: Menghentikan total praktik land clearing dengan metode pembakaran oleh korporasi maupun perorangan.
- Optimalisasi Deteksi Dini: Mengintegrasikan sistem peringatan dini berbasis citra satelit resolusi tinggi dengan patroli darat berkelanjutan.
Guyuran hujan di Kubu Raya telah memutus siklus darurat 67 hari, namun evaluasi tata kelola lanskap gambut harus tetap menjadi prioritas strategis agar bencana ekologis serupa tidak kembali berulang pada musim kemarau berikutnya.
Comments (0)