Herdman Enggan Kambinghitamkan Wasit, Akui Kedisiplinan Singapura

Skor akhir 1-1 kontra Singapura menjadi penutup perjalanan Timnas Indonesia di Piala AFF 2026. Hasil imbang pada laga hidup-mati fase grup membuat Garuda dipastikan tersingkir, sementara The Lions jus...

Aug 08, 2026 - 21:17
0 0
Herdman Enggan Kambinghitamkan Wasit, Akui Kedisiplinan Singapura

Skor akhir 1-1 kontra Singapura menjadi penutup perjalanan Timnas Indonesia di Piala AFF 2026. Hasil imbang pada laga hidup-mati fase grup membuat Garuda dipastikan tersingkir, sementara The Lions justru melaju ke semifinal berkat satu poin krusial yang memang mereka butuhkan.

Skuad besutan John Herdman sebenarnya tampil dominan hampir sepanjang laga dengan penguasaan bola mencapai 58 persen berbanding 42 persen. Namun dominasi itu berakhir sia-sia karena lemahnya penyelesaian akhir di kotak penalti lawan, ditambah keputusan VAR yang memicu kontroversi di pengujung pertandingan.

Babak Pertama: Singapura Menyerang Lebih Efisien

Herdman menurunkan starting XI dengan formasi 4-2-3-1, menempatkan satu penyerang tunggal yang ditopang tiga gelandang serang di belakangnya. Skema ini dirancang untuk menguasai lini tengah dan menekan pertahanan Singapura sejak menit awal.

Indonesia nyaris unggul lebih dulu ketika menit ke-22 bola hasil skema serangan sayap bersarang ke gawang, tetapi hakim garis mengangkat bendera offside. Alih-alih memimpin, gawang Garuda justru kebobolan pada menit ke-31. Serangan balik kilat Singapura membelah pertahanan Indonesia, dan umpan terobosan dari tengah lapangan diselesaikan dengan sepakan mendatar ke sudut bawah gawang tanpa mampu diantisipasi kiper. Skor 1-0 untuk The Lions.

Garuda mencoba merespons melalui tekanan dari kedua sisi sayap. Menit ke-40, tembakan keras dari luar kotak penalti masih bisa ditepis kiper Singapura. Hingga turun minum, Indonesia melepaskan 7 attempts dengan 2 shots on target, sementara Singapura hanya butuh satu peluang bersih untuk memimpin.

Babak Kedua: Gol Penyama dan Drama VAR

Memasuki interval kedua, Herdman melakukan perjudian dengan memasukkan penyerang tambahan dan mengubah struktur permainan menjadi lebih agresif. Keputusan itu membuahkan hasil pada menit ke-66. Pergerakan apik di sisi kiri diakhiri umpan silang mendatar yang disambar sempurna menjadi gol. Assist tercatat atas nama winger Garuda, dan kedudukan kembali imbang 1-1.

Drama mencuat pada menit ke-79. Penyerang Indonesia dijatuhkan dalam duel perebutan bola di kotak terlarang, tetapi wasit memilih melanjutkan permainan. VAR melakukan pengecekan hampir dua menit sebelum mengonfirmasi tidak ada penalti. Keputusan ini memicu protes keras dari bangku cadangan Garuda dan menjadi sorotan utama selepas laga.

Di sisa waktu, Indonesia mengurung total pertahanan Singapura yang bermain dengan blok rendah nan rapat. Statistik akhir mencatat Garuda melepaskan 15 attempts dengan 6 shots on target, berbanding 8 attempts dan 3 shots on target milik lawan. Sayang, gol kedua yang dinanti tak kunjung lahir hingga peluit panjang berbunyi.

Herdman Enggan Menyalahkan Wasit

Ditanya soal insiden VAR tersebut, Herdman memilih bersikap ksatria. Pelatih asal Inggris itu menolak menjadikan keputusan pengadil lapangan sebagai alasan di balik tersingkirnya Garuda dari turnamen.

"Tidak ada gunanya kami terus membicarakan wasit. Itu tidak akan mengubah apa pun. Saya justru memberi apresiasi tinggi kepada Singapura. Mereka disiplin, terorganisasi, dan tahu cara mengelola momen-momen krusial pertandingan," ujar Herdman.
"Kami menciptakan lebih banyak peluang, tetapi sepak bola bukan sekadar statistik. Ini soal siapa yang memaksimalkan momennya. Malam ini kami tidak cukup tajam, dan itu sepenuhnya tanggung jawab saya sebagai pelatih," lanjutnya.

Statistik Akhir dan Pekerjaan Rumah Garuda

Indonesia sebenarnya unggul di hampir seluruh metrik: penguasaan bola 58-42, shots on target 6-3, sepak pojok 7-2, dan umpan sukses 412 berbanding 289. Singapura sendiri diganjar 3 kartu kuning akibat taktik memperlambat tempo permainan, sementara Garuda menerima 2 kartu kuning. Namun satu-satunya angka yang benar-benar menentukan nasib — jumlah gol — berakhir sama kuat.

Kegagalan ini menjadi bahan evaluasi besar bagi Herdman dan jajaran pelatih. Dengan materi pemain yang disebut-sebut sebagai yang terkuat dalam sejarah Garuda, tersingkir di fase grup jelas jauh di bawah target. Kini fokus Indonesia beralih ke agenda internasional berikutnya, sementara Singapura melangkah ke semifinal dengan kepala tegak.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
vina-melati

Data Journalist Hukum. Visualisasi data kejahatan dan analisis tren kriminal.

Comments (0)

User