Hana Saraswati Sebut Film Lastri Dorong Kemandirian Ekonomi Perempuan
Di tengah gegap gempita industri perfilman nasional yang kembali bergeliat pascaletupan pandemi, aktris Hana Saraswati hadir membawa angin segar—bukan seka
Di tengah gegap gempita industri perfilman nasional yang kembali bergeliat pascaletupan pandemi, aktris Hana Saraswati hadir membawa angin segar—bukan sekadar lewat aktingnya, melainkan juga pesan ekonomi yang terselip di balik karakter Lastri. Film Lastri yang ia bintangi bukan cuma mengupas luka dan cinta, melainkan menyodorkan refleksi tajam: perempuan yang mempertahankan jati diri dan kemandirian finansialnya justru menjadi motor pertumbuhan ekonomi yang kerap terlupakan.
Dalam sebuah kesempatan berbincang, Saraswati mengisyaratkan bahwa cinta sejati tak pernah meminta seseorang untuk menghilang. "Lastri mengajarkan saya bahwa mencintai tidak berarti melebur sampai kehilangan pijakan," tuturnya, matanya menyiratkan keyakinan yang dalam. Namun, di luar urusan personal, komentarnya itu memiliki resonansi ekonomi yang kuat. Sebab, ketika seorang perempuan melepaskan karier, pendidikan, atau potensi produktifnya demi hubungan, yang hilang bukan hanya pendapatannya sendiri, melainkan juga satu unit roda penggerak ekonomi rumah tangga—bahkan negara.
Ketika Kehilangan Diri Sendiri Berdampak pada Dompet
Data Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2025 menunjukkan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan Indonesia masih tertinggal di angka 54,3%, berbanding 84,2% untuk laki-laki. Kesenjangan ini bukan semata soal budaya, tetapi juga konsekuensi dari keputusan hidup yang sering kali tak sadar mengorbankan kemandirian ekonomi. Film Lastri—lewat narasi Saraswati—seakan menjadi alarm halus bahwa memilih "cinta buta" bisa berarti menyusutkan potensi pendapatan nasional. Setiap 1% peningkatan TPAK perempuan, menurut kajian Bank Dunia, dapat mendorong pertumbuhan PDB hingga 0,3%. Bayangkan bila jutaan perempuan memutuskan keluar dari pasar kerja karena tekanan relasi: kita kehilangan bukan cuma mimpi personal, tapi juga angka pertumbuhan yang signifikan.
"Saya ingin perempuan yang menonton Lastri bertanya: apakah saya masih memegang kendali atas hidup saya sendiri? Karena saat kita menyerahkan kendali itulah, termasuk soal finansial, kita menjadi sangat rentan," tutur Hana Saraswati.
Industri Film sebagai Katalis Kesadaran Ekonomi
Tak bisa dimungkiri, layar lebar memiliki kekuatan multiplier effect yang jarang dihitung. Lastri, sebagai produk ekonomi kreatif, tidak hanya menyerap tenaga kerja dari praproduksi hingga distribusi, tetapi juga menyuntikkan wacana yang mengubah perilaku ekonomi. Ketika sebuah film berhasil membuat penontonnya merefleksikan kemandirian finansial, efeknya bisa menjalar ke peningkatan literasi keuangan, partisipasi di sektor formal, hingga keberanian berwirausaha. Sektor perfilman sendiri, menurut data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, menyumbang sekitar 7,4% dari total PDB ekonomi kreatif nasional yang mencapai Rp1.300 triliun pada 2024, dengan pertumbuhan tahunan rata-rata 9%.
Saraswati menambahkan, "Film bisa menjadi cermin yang lebih jujur daripada statistik. Lewat Lastri, kami ingin bilang bahwa harga diri dan kemandirian adalah investasi jangka panjang—lebih stabil daripada sekadar janji manis." Pernyataan ini menohok jantung kajian ekonomi perilaku: keputusan finansial individu sering dipengaruhi oleh konstruksi sosial yang ditayangkan media. Dengan kata lain, makin banyak tontonan yang mempromosikan perempuan berdaya secara ekonomi, makin besar peluang kita mempersempit kesenjangan gender di pasar kerja.
Dari Film ke Praktik: Kemandirian Finansial Itu Rasional
Dalam perspektif ekonomi rumah tangga, perempuan yang memiliki pendapatan sendiri cenderung memiliki daya tawar lebih tinggi—tak hanya dalam distribusi pengeluaran, tetapi juga dalam mengakses kredit, asuransi, dan kepemilikan aset. Riset OJK tahun 2025 menyebut indeks literasi keuangan perempuan Indonesia baru menyentuh 46,8%, sementara indeks inklusi keuangannya mencapai 83%. Artinya, banyak perempuan sudah menggunakan produk jasa keuangan, tapi belum sepenuhnya paham cara mengelolanya. Di sinilah media, termasuk film, menjadi alat edukasi diam-diam yang bisa menjangkau segmen yang tak tersentuh seminar formal.
Hana Saraswati menutup refleksinya dengan pesan yang terasa seperti nasihat investasi jangka panjang, "Jangan takut mencintai, tapi pastikan kamu tetap punya tabungan—baik itu uang, skill, atau kepercayaan diri. Karena cinta sejati tidak akan memintamu bangkrut secara emosional atau finansial." Sebuah pengingat bahwa di era modern ini, mempertahankan diri sendiri adalah bentuk diversifikasi risiko paling mendasar—sebuah prinsip ekonomi yang sering terlupakan di tengah arus romansa.
[TAGS]: Hana Saraswati, Film Lastri, Kemandirian Ekonomi, Perempuan, Industri Kreatif [SOCIAL_TWEET]: Pesan cinta Hana Saraswati di #FilmLastri punya dampak ekonomi nyata: perempuan yang tidak kehilangan jati diri adalah aset pertumbuhan. Setiap 1% kenaikan partisipasi kerja perempuan bisa dorong PDB 0,3%. #EkonomiPerempuan #IndustriKreatif [SOCIAL_FB]: Hana Saraswati bicara cinta sejati di film Lastri, tapi di balik itu ada pelajaran ekonomi penting: mengapa perempuan harus tetap pegang kendali finansialnya. Data dan dampaknya mungkin lebih besar dari yang Anda kira—keputusan personal bisa pengaruhi PDB negara. [SOCIAL_TG]: 💸 "Jangan sampai bangkrut emosional dan finansial demi cinta" — Hana Saraswati lewat #FilmLastri. Kemandirian ekonomi perempuan ternyata kunci pertumbuhan inklusif. Baca datanya di sini 👇
Comments (0)