Gunung Semeru Erupsi Tiga Kali, Kolom Abu Capai 1.000 Meter
Aktivitas vulkanik Gunung Semeru yang terletak di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, kembali menunjukkan eskalasi signifikan pada Senin
Aktivitas vulkanik Gunung Semeru yang terletak di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, kembali menunjukkan eskalasi signifikan pada Senin pagi. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat gunung api tertinggi di Pulau Jawa tersebut mengalami tiga kali erupsi beruntun hanya dalam rentang waktu sekitar dua jam, dengan letusan tertinggi menyemburkan kolom abu vulkanik hingga ketinggian 1.000 meter di atas puncak.
Peningkatan frekuensi letusan ini mengindikasikan dinamika suplai magma di kedalaman kawah Jonggring Saloko yang masih sangat aktif. Pola erupsi berkala ini terus dipantau secara intensif melalui pos pengamatan guna mengantisipasi potensi bahaya sekunder yang dapat mengancam keselamatan warga di lereng gunung.
Kronologi Rentetan Erupsi Berdasarkan Data PVMBG
Berdasarkan data seismik dan visual dari Pos Pengamatan Gunung Api Semeru, rangkaian erupsi pada Senin pagi berlangsung secara bertahap dengan intensitas kolom abu yang semakin meningkat:
- Erupsi Pertama (Pukul 04.20 WIB): Letusan awal terdeteksi memuntahkan kolom abu setinggi 500 meter di atas puncak, atau setara dengan ketinggian 4.176 meter di atas permukaan laut (mdpl). Asap kawah berwarna putih kelabu teramati condong mengarah ke barat laut. Erupsi ini terekam seismograf dengan amplitudo maksimum 21 mm dan durasi gempa letusan selama 128 detik.
- Erupsi Kedua (Pukul 05.53 WIB): Berselang sekitar satu setengah jam kemudian, aktivitas vulkanik kembali berulang dengan kekuatan lebih tinggi. Erupsi kedua ini menghasilkan kolom letusan setinggi 800 meter dari bibir kawah.
- Erupsi Ketiga: Letusan susulan berikutnya mencapai intensitas maksimum pagi ini dengan semburan abu vulkanik menembus ketinggian 1.000 meter di atas kawah aktif Jonggring Saloko.
"Abu vulkanik teramati berintensitas tebal dan bergerak ke arah barat laut. Aktivitas kegempaan didominasi oleh gempa letusan dan hembusan yang terekam jelas pada perangkat pemantauan kami," ujar Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Sigit Rian Alfian, dalam laporan resminya.
Analisis Bahaya dan Rekomendasi Zona Terlarang
Secara vulkanologis, rentetan erupsi berturut-turut menunjukkan bahwa akumulasi gas di dalam kawah terus mencari pelepasan. Walaupun material erupsi dominan berupa abu dan pasir halus, PVMBG memperingatkan potensi ancaman bahaya primer berupa Awan Panas Guguran (APG) serta guguran lava pijar di sepanjang jalur bukaan kawah.
Untuk meminimalkan risiko bencana, otoritas kebencanaan menetapkan sejumlah batasan aktivitas di kawasan rawan bencana (KRB):
- Sektor Tenggara: Masyarakat dilarang keras melakukan aktivitas apapun di sepanjang Besuk Kobokan hingga radius 13 kilometer dari puncak.
- Sempadan Sungai: Warga diimbau tidak beraktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan karena ancaman perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 kilometer.
- Radius Kawah: Area dalam radius 5 kilometer dari kawah atau puncak aktif Semeru harus steril dari segala aktivitas manusia karena rawan bahaya lontaran batu pijar.
Masyarakat diimbau tetap waspada terhadap potensi banjir lahar dingin, terutama di sepanjang aliran sungai yang berhulu di puncak Gunung Semeru, mengingat intensitas curah hujan di kawasan Jawa Timur masih cukup fluktuatif.
Comments (0)