Gol Vinicius Picu Drama, Madrid Bungkam Benfica di Da Luz
Skor akhir Benfica 0-1 Real Madrid pada leg pertama play-off Liga Champions 2025/2026 di Estádio da Luz, Kamis dini hari WIB, tidak sepenuhnya menggambarkan drama yang terjadi di atas lapangan. Gol t...
Skor akhir Benfica 0-1 Real Madrid pada leg pertama play-off Liga Champions 2025/2026 di Estádio da Luz, Kamis dini hari WIB, tidak sepenuhnya menggambarkan drama yang terjadi di atas lapangan. Gol tunggal Vinicius Junior pada menit ke-62 memang menjadi penentu hasil pertandingan, tetapi selebrasi sang winger di hadapan tribun suporter tuan rumah memicu rangkaian insiden panas yang berujung pada dugaan pelecehan rasial dan kini menjadi fokus investigasi UEFA.
Dalam starting XI Real Madrid asuhan Carlo Ancelotti yang bermain dengan formasi 4-3-3, Vinicius ditempatkan di sisi kiri serangan, Kylian Mbappé menjadi penyerang tengah, dan Rodrygo mengisi sayap kanan. Sementara itu, Jose Mourinho merancang Benfica dengan skema 4-2-3-1 yang rapat, mengandalkan dua gelandang bertahan untuk memutus aliran bola ke lini tengah Los Blancos. Sepanjang babak pertama, strategi itu bekerja nyaris sempurna.
Babak Pertama: Dinding Pertahanan Mourinho Frustrasi Madrid
Tuan rumah membuka laga dengan intensitas tinggi. Menit ke-9, kerja sama satu-dua di sisi kanan Benfica menghasilkan umpan silang berbahaya yang memaksa Thibaut Courtois melakukan penyelamatan pertamanya. Madrid merespons lewat pergerakan Mbappé yang dua kali lolos dari jebakan offside, tetapi penyelesaian akhirnya masih melambung dari sasaran.
Menit ke-34, Madrid sempat mengklaim penalti setelah Mbappé dijatuhkan di kotak terlarang, tetapi tinjauan VAR menyatakan tidak ada pelanggaran dan permainan dilanjutkan. Statistik paruh pertama mencatat penguasaan bola Madrid 61 persen berbanding 39 persen milik Benfica, namun shots on target justru berimbang 2-2. Benfica melepaskan tujuh tembakan total, tiga di antaranya diblok barisan belakang Madrid. Wasit mengeluarkan dua kartu kuning di babak ini, masing-masing untuk gelandang Benfica karena pelanggaran taktis terhadap Jude Bellingham dan untuk bek Madrid yang menarik jersey penyerang tuan rumah dalam situasi serangan balik.
Menit ke-62: Gol Vinicius dan Selebrasi yang Menyulut Emosi
Kebuntuan akhirnya pecah di babak kedua. Menit ke-62, Bellingham memenangkan duel udara di tengah lapangan dan mengarahkan bola ke jalur kiri tempat Vinicius berlari bebas. Sang winger menusuk ke kotak penalti, mengecoh satu bek, lalu melepaskan tembakan mendatar ke tiang jauh yang gagal dijangkau kiper Benfica. Skor berubah 1-0 untuk Madrid, dengan Bellingham tercatat sebagai pemberi assist.
Namun, yang terjadi setelahnya mengubah jalannya malam itu. Vinicius berlari ke sudut lapangan tepat di depan tribun suporter Benfica dan melakukan selebrasi yang dinilai provokatif oleh kubu tuan rumah. Reaksi berantai terjadi: benda-benda dilemparkan dari tribun, pemain kedua tim saling berhadapan, dan wasit terpaksa menghentikan pertandingan selama beberapa menit. Di pinggir lapangan, Mourinho terlihat berbicara keras kepada ofisial keempat sambil menunjuk ke arah selebrasi tersebut, menandakan ketidaksenangannya terhadap aksi sang pemain.
Saya pelatih yang percaya sepak bola harus dihormati, oleh pemain saya maupun pemain lawan. Soal apa yang terjadi di tribun, saya tidak melihatnya dengan jelas, jadi saya tidak akan berkomentar membela atau menyalahkan siapa pun, kata Mourinho usai laga.
Sikap netral sang pelatih langsung menuai perdebatan. Di satu sisi, sebagian kalangan menilai Mourinho berusaha menjaga fokus timnya menjelang leg kedua. Di sisi lain, kritik datang karena ia dianggap tidak mengambil posisi tegas terhadap dugaan rasisme, sesuatu yang selama ini selalu ditentang keras oleh Madrid dan Vinicius sendiri.
Dugaan Rasisme dan Reaksi Berantai di Tribun
Menurut laporan ofisial pertandingan, Vinicius melaporkan kepada wasit bahwa ia mendengar nyanyian dan ucapan bernada rasial dari sektor tribun tak lama setelah golnya. Protokol anti-rasisme UEFA sempat diaktifkan: pengumuman peringatan dikumandangkan melalui pengeras suara stadion, dan kapten kedua tim dipanggil wasit untuk menenangkan situasi. Pertandingan akhirnya dilanjutkan setelah ketegangan mereda, dengan sembilan menit waktu tambahan di akhir babak kedua.
UEFA dikabarkan telah menunjuk inspektur untuk meninjau rekaman CCTV dan laporan delegasi pertandingan. Benfica berpotensi menghadapi sanksi mulai dari denda hingga penutupan sebagian tribun jika dugaan tersebut terbukti. Sementara itu, kubu Madrid disebut memberikan dukungan penuh kepada Vinicius, yang sudah berkali-kali menjadi korban pelecehan serupa sepanjang kariernya di kompetisi Eropa.
Statistik Akhir dan Misi Berat Benfica di Bernabéu
Secara keseluruhan, Madrid menutup laga dengan penguasaan bola 58 persen, melepaskan 14 tembakan dengan 6 shots on target, sementara Benfica mencatatkan 11 tembakan dan 3 tepat sasaran. Courtois mengamankan clean sheet berkat tiga penyelamatan penting, termasuk satu di menit ke-88 yang menggagalkan sundulan jarak dekat dari situasi sepak pojok. Wasit total mengeluarkan lima kartu kuning, tiga untuk Benfica dan dua untuk Madrid, tanpa kartu merah meski tensi laga sangat tinggi hingga detik akhir.
Dengan keunggulan agregat 1-0, Madrid kini menjadi favorit kuat melaju ke babak 16 besar saat leg kedua digelar di Santiago Bernabéu pekan depan. Bagi Mourinho dan Benfica, misi membalikkan defisit di kandang lawan sudah cukup berat, dan kini beban itu bertambah dengan sorotan tajam di luar lapangan. Satu hal yang pasti: drama di Da Luz malam ini belum selesai, dan seluruh mata pecinta sepak bola akan tertuju pada Madrid pekan depan.
Comments (0)