Gianni Infantino Pimpin FIFA dengan Gaya Baru

Skor akhir dalam kepemimpinan sepak bola dunia mungkin tidak diukur dengan angka, tetapi Gianni Infantino telah mencetak gol besar sejak mengambil alih kursi presiden FIFA. Sejak menit pertama kepemim...

Aug 07, 2026 - 04:03
0 0
Gianni Infantino Pimpin FIFA dengan Gaya Baru

Skor akhir dalam kepemimpinan sepak bola dunia mungkin tidak diukur dengan angka, tetapi Gianni Infantino telah mencetak gol besar sejak mengambil alih kursi presiden FIFA. Sejak menit pertama kepemimpinannya pada 2016, pria asal Swiss ini telah mengubah wajah organisasi sepak bola tertinggi di dunia dengan pendekatan yang lebih agresif dan transparan.

Perjalanan Menuju Puncak FIFA

Menit ke-26 Februari 2016 menjadi momen bersejarah ketika Infantino terpilih sebagai presiden FIFA dalam kongres luar biasa di Zurich. Ia menggantikan Sepp Blatter yang tersandung kasus korupsi besar. Dengan formasi kepemimpinan baru, Infantino membawa visi reformasi total. Starting XI-nya terdiri dari tim eksekutif baru yang fokus pada pengembangan sepak bola global, bukan hanya Eropa dan Amerika Selatan.

Penguasaan bola dalam konteks kekuasaan FIFA kini berada di tangan Infantino. Ia memperkenalkan program pengembangan sepak bola yang memberikan dana lebih besar kepada federasi-federasi kecil. Shots on target kebijakannya langsung mengenai sasaran: peningkatan jumlah negara yang aktif berpartisipasi dalam kompetisi FIFA. Dari 211 federasi anggota, hampir semuanya kini menerima dukungan finansial yang belum pernah terjadi sebelumnya.

"Kami harus memastikan sepak bola menjadi olahraga global yang sesungguhnya, bukan hanya untuk segelintir negara kaya," ujar Infantino dalam pidato pembukaannya.

Perubahan Format dan Inovasi Kompetisi

Menit ke-2017, Infantino mengumumkan perubahan besar pada Piala Dunia. Format 32 tim yang sudah bertahan lama dirombak menjadi 48 tim mulai edisi 2026. Keputusan ini menuai pro dan kontra. Namun, data menunjukkan peningkatan partisipasi dari benua Afrika dan Asia. Assist terbesar datang dari kebijakan distribusi slot yang lebih merata.

Skor akhir dari kebijakan ini terlihat dari kualifikasi Piala Dunia 2026 yang melibatkan lebih banyak negara berkembang. Formasi kompetisi baru ini memungkinkan tim-tim kecil merasakan atmosfer Piala Dunia. Kartu kuning diberikan kepada kritik yang menilai format ini terlalu padat, namun Infantino berdalih bahwa ini adalah langkah untuk menyebarkan kegembiraan sepak bola ke seluruh dunia.

VAR (Video Assistant Referee) juga menjadi salah satu warisan penting era Infantino. Teknologi ini diperkenalkan secara resmi di Piala Dunia 2018 dan kini digunakan di hampir semua liga profesional dunia. Statistik menunjukkan penurunan kesalahan keputusan wasit hingga 30 persen setelah penerapan VAR. Offside yang sebelumnya sering menjadi kontroversi kini bisa ditentukan dengan presisi milimeter.

Kontroversi dan Kritik

Tidak semua berjalan mulus. Menit ke-2022, Piala Dunia di Qatar menjadi sorotan tajam. Isu hak asasi manusia, kondisi pekerja migran, dan larangan minuman beralkohol di stadion menjadi kartu merah bagi reputasi Infantino. Ia bahkan melontarkan pernyataan kontroversial yang mengundang reaksi negatif dari berbagai pihak.

Penguasaan bola komunikasi Infantino sering dianggap terlalu defensif. Ia kerap menyerang kritikus dengan nada emosional, seperti yang terjadi pada konferensi pers sebelum final Piala Dunia 2022. Namun, secara bisnis, Piala Dunia Qatar mencatatkan pendapatan fantastis. FIFA mengumumkan pendapatan lebih dari 7 miliar dolar AS dalam siklus 2019-2022, meningkat 1 miliar dari siklus sebelumnya.

Menit ke-2023, Infantino kembali membuat gebrakan dengan mengumumkan Piala Dunia Antarklub yang diperluas menjadi 32 tim. Format ini dimulai pada 2025 di Amerika Serikat. Banyak yang menilai ini sebagai upaya untuk menyaingi Liga Champions UEFA. Shots on target kebijakan ini masih dipertanyakan, terutama soal jadwal yang semakin padat bagi para pemain elite.

Kartu kuning juga diberikan kepada FIFA terkait transparansi kontrak sponsor. Beberapa investigasi jurnalistik mengungkap kesepakatan yang tidak jelas dengan mitra komersial di kawasan Timur Tengah. Namun, Infantino selalu membantah tuduhan tersebut dan menekankan bahwa semua keputusan diambil untuk kepentingan sepak bola global.

Warisan dan Tantangan ke Depan

Skor akhir kepemimpinan Infantino hingga saat ini masih menjadi perdebatan. Di satu sisi, ia berhasil meningkatkan pendapatan FIFA secara signifikan dan memperluas partisipasi. Di sisi lain, gaya kepemimpinannya yang otoriter dan kontroversial meninggalkan banyak pertanyaan.

Menit ke-2026, Piala Dunia di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko akan menjadi ujian terbesar bagi Infantino. Dengan 48 tim dan tiga negara tuan rumah, turnamen ini akan menjadi yang terbesar dalam sejarah. Clean sheet dalam hal penyelenggaraan sangat diharapkan untuk membuktikan bahwa format baru ini berhasil.

Infantino telah menegaskan bahwa ia akan maju kembali pada pemilihan presiden FIFA 2027. Dengan dukungan kuat dari federasi-federasi Afrika dan Asia, peluangnya untuk kembali terpilih sangat terbuka lebar. Namun, tekanan dari media dan kelompok masyarakat sipil akan terus mengawasi setiap langkahnya.

Assist terakhir yang bisa diberikan Infantino adalah meninggalkan warisan yang lebih bersih dan lebih inklusif. Sepak bola adalah olahraga paling populer di dunia, dan presiden FIFA memegang kunci untuk memastikan bahwa keindahan permainan ini dapat dinikmati oleh semua orang, tanpa terkecuali. Hanya waktu yang akan menjawab apakah Gianni Infantino akan dikenang sebagai reformis sejati atau sekadar penguasa yang haus kekuasaan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
fajar-ramadhan

Editor Hukum. Alumni FH UI. Meliput pengadilan, MA, dan judicial review.

Comments (0)

User