Gianni Infantino: Dari Kontroversi Menuju Ekspansi Sepak Bola Global

Skor akhir 3-3, dan takdir baru ditentukan lewat adu penalti 4-2 untuk Argentina di Lusail Stadium. Menit ke-118, Kylian Mbappé menyamakan kedudukan untuk ketiga kalinya dan menjadi pemain kedua dala...

Gianni Infantino: Dari Kontroversi Menuju Ekspansi Sepak Bola Global

Skor akhir 3-3, dan takdir baru ditentukan lewat adu penalti 4-2 untuk Argentina di Lusail Stadium. Menit ke-118, Kylian Mbappé menyamakan kedudukan untuk ketiga kalinya dan menjadi pemain kedua dalam sejarah yang mencetak hat-trick di final Piala Dunia. Namun di balik gemuruh stadion itu, ada satu sosok yang duduk di tribun VIP sejak menit pertama: Gianni Infantino, Presiden FIFA yang menyebut edisi 2022 itu sebagai Piala Dunia terbaik sepanjang masa.

Gianni Infantino resmi memimpin FIFA sejak Februari 2016, menggantikan Sepp Blatter yang tersandung kasus korupsi. Saat itu ia menang dengan 115 suara di putaran kedua, mengalahkan kandidat dari Arab Saudi yang meraih 88 suara. Sejak hari itu, ia nyaris tak pernah menghadapi perlawanan: pemilihan 2019 dan 2023 berakhir dengan kemenangan mutlak tanpa penantang tunggal.

Era Infantino: Angka di Balik Kekuasaan

Di balik politik sepak bola, angka finansial bicara paling keras. FIFA mencatat pendapatan 7,5 miliar dolar AS pada siklus 2019-2022, rekor tertinggi dalam sejarah organisasi, dan menargetkan tembus 11 miliar dolar pada siklus berikutnya. Sponsor, hak siar, dan ekspansi format turnamen menjadi mesin uang utama di bawah kepemimpinannya.

Kebijakan yang paling mencolok adalah pembengkakan jumlah peserta. Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko akan memakai formasi 48 tim, naik dari 32 tim yang bertahan selama hampir tiga dekade. Keputusan itu diambil lewat voting bulat Dewan FIFA pada Januari 2017, dan langsung memicu perdebatan soal kualitas pertandingan versus pemerataan kesempatan bagi negara berkembang.

Panggung Terbesar: Qatar 2022 dan Data Final

Final Piala Dunia 2022 menjadi pertandingan yang paling mewakili gaya kepemimpinan Infantino: besar, dramatis, dan penuh angka. Lionel Messi membuka skor dari titik putih menit ke-23, disusul gol Angel Di Maria menit ke-36. Namun hat-trick Mbappé pada menit 80, 81, dan 118 memaksa laga berlanjut ke adu penalti, di mana Emiliano Martínez tampil sebagai pahlawan dengan dua penyelamatan.

Catatan akhir laga memperlihatkan keseimbangan yang nyaris sempurna. Penguasaan bola Argentina sekitar 45 persen berbanding 55 persen untuk Prancis, sementara shots on target kedua tim nyaris identik. VAR berperan besar lewat dua penalti yang diberikan untuk Prancis, dan wasit menganulir beberapa gol karena offside dengan bantuan teknologi garis. Tak ada kartu merah, dan dua starting XI sama-sama bermain penuh dengan skema 4-3-3 hingga babak perpanjangan usai.

Ekspansi dan Kalender yang Kian Padat

Infantino tidak berhenti di Piala Dunia. Ia merombak Piala Dunia Antarklub menjadi turnamen 32 tim yang digelar di Amerika Serikat pada 2025, memindahkan Kongres FIFA, dan menyetujui format baru Piala Dunia 2030 yang digelar tiga negara sekaligus: Spanyol, Portugal, dan Maroko, dengan tiga laga pembuka di Uruguay, Argentina, dan Paraguay sebagai penghormatan sejarah. Sementara itu, Arab Saudi resmi ditunjuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2034, keputusan yang kembali memicu perdebatan soal hak asasi manusia dan musim kompetisi domestik.

“Hari ini saya merasa Qatar, merasa Arab, merasa Afrika, merasa gay, merasa penyandang disabilitas, merasa seperti pendatang,” ujar Infantino di Doha, pernyataan yang langsung menjadi sorotan media dunia.

Pujian dan Tekanan di Papan Atas

Di satu sisi, data mendukung kinerjanya: pendapatan FIFA berlipat, Piala Dunia perempuan 2023 di Australia dan Selandia Baru mencetak rekor penonton, dan jumlah partisipan turnamen usia muda terus naik. Di sisi lain, kritik tak pernah reda, mulai dari tuduhan greenwashing atas Qatar, pengaruh uang negara teluk dalam politik FIFA, hingga jadwal padat yang membebani pemain elite.

Menuju Piala Dunia 2026, pertanyaan terbesarnya sederhana: apakah format 48 tim akan melahirkan pertandingan yang lebih merata, atau justru memperlebar jurang kualitas? Yang pasti, Gianni Infantino telah mengubah FIFA dari organisasi konservatif menjadi mesin ekspansi yang agresif. Skor akhir kepemimpinannya belum bisa dihitung, tapi angka-angka sudah berbicara: lebih dari 1,5 miliar penonton final 2022, pendapatan rekor, dan peta sepak bola dunia yang ditulis ulang dengan tinta khasnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
fajar-ramadhan

Editor Hukum. Alumni FH UI. Meliput pengadilan, MA, dan judicial review.

Comments (0)

User