Gianni Infantino: Arsitek di Balik 48 Tim Piala Dunia 2026

Skor akhir 3-3, dan Argentina keluar sebagai juara dunia lewat adu penalti 4-2 di Stadion Lusail, 18 Desember 2022. Lionel Messi membukukan dua gol (menit ke-23 via penalti hasil pemeriksaan VAR dan m...

Gianni Infantino: Arsitek di Balik 48 Tim Piala Dunia 2026

Skor akhir 3-3, dan Argentina keluar sebagai juara dunia lewat adu penalti 4-2 di Stadion Lusail, 18 Desember 2022. Lionel Messi membukukan dua gol (menit ke-23 via penalti hasil pemeriksaan VAR dan menit ke-108), Di María mencetak gol ketiga (menit ke-36) berkat assist Messi, sementara Kylian Mbappé melengkapi hat-trick kedua dalam sejarah final Piala Dunia setelah Geoff Hurst (1966), masing-masing di menit ke-80, 81, dan 118. Statistik pertandingan mencatat penguasaan bola Argentina 54 persen berbanding 46 persen, dengan 10 tembakan dan 7 shots on target, melawan 15 tembakan serta 5 shots on target milik Prancis. Gol kedua Messi sempat dicek VAR untuk memastikan tidak ada posisi offside. Di panggung itu, sosok yang menyerahkan trofi bukanlah kepala negara, melainkan Presiden FIFA, Gianni Infantino.

Infantino lahir di Brig, Swiss, pada 23 Maret 1970. Lulusan hukum Universitas Fribourg ini mengawali karier di UEFA pada 2000 dan menjadi Sekretaris Jenderal UEFA pada 2009. Pada 26 Februari 2016, ia memenangi Kongres Luar Biasa FIFA di Zurich pada putaran kedua dengan 115 suara, mengungguli Sheikh Salman bin Ibrahim Al Khalifa (88 suara), dan resmi menjadi presiden ke-9 FIFA menggantikan Sepp Blatter yang tumbang akibat skandal korupsi.

Pemulihan Finansial dan Rekor Pendapatan

Mandat pertama Infantino dihabiskan untuk memulihkan kredibilitas dan keuangan FIFA. Hasilnya terukur dari data: pada siklus 2019-2022, FIFA mencatat pendapatan 7,5 miliar dolar AS, rekor tertinggi dalam sejarah organisasi, dengan cadangan dana menembus 4 miliar dolar AS. Hadiah Piala Dunia 2022 totalnya 440 juta dolar AS, dan juara Argentina membawa pulang 42 juta dolar AS.

Kepercayaan kongres mengalir deras: Infantino terpilih kembali tanpa lawan pada Kongres FIFA ke-69 di Paris (5 Juni 2019) dan kembali tanpa pesaing di Kigali, Rwanda, pada 16 Maret 2023. Target ambisiusnya untuk siklus 2023-2026 adalah pendapatan 11 miliar dolar AS, di tengah ekspansi kompetisi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Ekspansi Format: Dari 32 ke 48 Tim

Keputusan paling monumental era Infantino adalah perluasan Piala Dunia menjadi 48 tim, yang disahkan Januari 2017. Edisi 2026 yang digelar Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko akan memainkan 104 pertandingan di 16 stadion, naik dari 64 laga, dengan final di MetLife Stadium pada 19 Juli 2026. Total hadiah edisi ini 1 miliar dolar AS, lebih dari dua kali lipat Qatar 2022, dan setiap tim kini membawa starting XI terbaiknya dengan ambisi mencatat sejarah.

Format baru juga menyentuh level klub: Piala Dunia Antarklub edisi 2025 di Amerika Serikat memakai format 32 tim, menggantikan format tujuh tim yang lama. Konsekuensinya, kalender internasional makin padat dan isu beban pemain menjadi perdebatan paling sengit di antara klub-klub Eropa.

Kutipan Kontroversial dan Kritik yang Menyertai

“Hari ini saya merasa sebagai orang Qatar. Hari ini saya merasa sebagai orang Arab. Hari ini saya merasa sebagai orang Afrika. Hari ini saya merasa sebagai orang gay. Hari ini saya merasa sebagai orang penyandang disabilitas,” kata Infantino dalam konferensi pers di Doha, 18 Desember 2022.

Pernyataan itu menjadi salah satu momen paling kontroversial dalam kariernya. Kritik datang dari banyak arah: nasib pekerja migran di Qatar, dampak lingkungan turnamen, transparansi pengambilan keputusan FIFA, hingga dugaan benturan kepentingan. Pada 2023, kejaksaan Swiss sempat menyelidiki pertemuan pribadi Infantino dengan Jaksa Agung saat itu, Michael Lauber; kasus itu akhirnya ditutup tanpa dakwaan terhadap Infantino.

Angka-Angka yang Menanti di 2026

Di sisi regulasi, era Infantino melahirkan aturan baru: hanya kapten tim yang boleh berdiskusi dengan wasit, sementara pemain lain yang memprotes berisiko diganjar kartu kuning. FIFA juga terus memperluas penggunaan VAR ke seluruh kompetisinya. Di lapangan, tren kompetitifitas meningkat: Maroko menjadi tim Afrika pertama yang menembus semifinal Piala Dunia pada 2022, dengan kiper Yassine Bounou mencatat empat clean sheet dan hanya satu gol kebobolan sebelum semifinal.

Tren ini tak lepas dari kesenjangan yang menyempit: tim-tim nonunggulan kini datang dengan formasi modern, persiapan data yang lebih baik, dan pengalaman bermain yang lebih banyak.

Terlepas dari kontroversi, satu hal tidak terbantahkan: era Infantino mengubah struktur sepak bola dunia secara permanen. Dari Kongres Zurich 2016 ke final Lusail 2022, dari 32 ke 48 tim, dari hadiah 440 juta ke 1 miliar dolar AS, angka-angka itulah yang akan menjadi warisannya. Pada 19 Juli 2026, giliran MetLife Stadium menjadi saksi: siapa pun yang mengangkat trofi, tangan Infantino-lah yang menyerahkannya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
reza-pahlevi

Reporter Pengadilan. Meliput kasus-kasus landmark di PN, PT, dan MA.

Comments (0)

User