FP1 Moto2 Inggris 2026: Mario Aji Sempat Memimpin, Finis Posisi 18

Posisi ke-18 menjadi hasil akhir yang harus diterima Mario Aji pada sesi latihan bebas pertama (FP1) Moto2 Inggris 2026 di Sirkuit Silverstone, Jumat (7/8) pagi waktu setempat. Pembalap asal Magetan i...

Aug 09, 2026 - 00:57
0 0
FP1 Moto2 Inggris 2026: Mario Aji Sempat Memimpin, Finis Posisi 18

Posisi ke-18 menjadi hasil akhir yang harus diterima Mario Aji pada sesi latihan bebas pertama (FP1) Moto2 Inggris 2026 di Sirkuit Silverstone, Jumat (7/8) pagi waktu setempat. Pembalap asal Magetan itu sebenarnya sempat membuat kejutan dengan bertengger di posisi terdepan pada menit-menit awal, sebelum perlahan tergusur dan menutup sesi 45 menit dengan catatan waktu terbaik 2 menit 05,834 detik, terpaut 1,187 detik dari pembalap tercepat sesi.

Hasil ini terasa menyesakkan karena margin di kelas intermediate musim ini sangat rapat. Selisih antara posisi lima hingga posisi 18 hanya 0,6 detik — satu lap bersih saja bisa mengubah segalanya. Dari total 14 lap yang dibukukan Mario Aji, tiga di antaranya konsisten berada di kisaran 2 menit 05 detik, sinyal bahwa kecepatan sesungguhnya ada di sana.

Sesi pagi itu sendiri berlangsung dalam kondisi khas Silverstone — suhu udara 16 derajat Celsius dengan angin kencang yang menerpa sektor-sektor cepat. Beberapa pembalap sempat kehilangan kendali di Tikungan 1, meski tidak ada insiden serius hingga bendera finis dikibarkan.

Start Menjanjikan: Sempat Puncaki Timesheet

Menit ke-6, Mario Aji menjadi salah satu pembalap pertama yang kembali ke lintasan setelah lap instalasi. Memanfaatkan trek yang masih lengang, pembalap Idemitsu Honda Team Asia itu melesat dengan waktu 2 menit 07,412 detik — cukup untuk membawanya ke puncak timesheet ketika mayoritas rival masih berkutat di garasi.

Tahta sementara itu bertahan hampir empat menit sebelum para pembalap unggulan mulai unjuk gigi. Slipstream di Hangar Straight yang panjangnya nyaris 800 meter menjadi senjata para rival untuk menggerus catatan waktu pembalap bernomor 64 tersebut. Menjelang menit ke-20, namanya sudah melorot ke luar sepuluh besar.

Pembalap tercepat sesi akhirnya membukukan 2 menit 04,647 detik, diikuti dua rival lain yang sama-sama menembus kisaran 2 menit 04 detik. Tiga besar itu menjadi patokan bahwa kunci kecepatan di Silverstone terletak pada keberanian mempertahankan throttle di tikungan-tikungan cepat.

Time Attack Akhir Sesi Jadi Titik Lemah

Memasuki menit ke-35, strategi dua run yang disiapkan kru tidak berjalan sesuai rencana. Mario Aji masuk pit untuk memasang ban belakang kompon segar, tetapi keluar dari pit lane justru terjebak di tengah rombongan pembalap yang melambat untuk mencari ruang kosong. Lap pertamanya pada run penutup hanya menyentuh 2 menit 06,1 detik.

Pada percobaan terakhir, ia akhirnya mempertajam waktu menjadi 2 menit 05,834 detik, namun bendera finis keburu berkibar. Ia terparkir di posisi 18 dari 29 pembalap dengan top speed 274,6 km/jam — angka yang sebenarnya kompetitif, hanya terpaut 2 km/jam dari pembalap tercepat di speed trap.

Data telemetri menunjukkan masalah utama terletak di Sektor 3, kombinasi tikungan cepat Copse-Maggotts-Becketts, di mana ia kehilangan 0,4 detik dari waktu optimalnya sendiri. Ironisnya, di Sektor 1 dan Sektor 2, catatan waktunya justru masuk jajaran sepuluh besar.

"Hasil ini bukan cerminan kecepatan kami yang sebenarnya. Mario punya ritme bagus pada run pertama, tetapi kami salah membaca jendela lintasan di akhir sesi. Ada banyak data positif untuk dibawa ke sesi berikutnya," ujar manajer tim seusai FP1.

Menanti Rebound di Sesi Practice

Kans memperbaiki posisi terbuka lebar pada sesi practice yang digelar Jumat sore waktu setempat. Suhu aspal yang diprediksi naik hingga 35 derajat Celsius akan mengubah karakter grip ban, dan di sinilah kemampuan kru membaca data FP1 akan diuji. Musim lalu, Mario Aji sukses lolos langsung ke Q2 dari sesi practice di sirkuit yang sama — modal mental yang tidak bisa dianggap remeh.

Bagi Mario Aji, akhir pekan ini juga krusial untuk mendongkrak posisinya di klasemen sementara. Paruh kedua musim kerap menjadi momen kebangkitannya, dan Silverstone secara historis bersahabat dengan gaya balapnya yang halus dalam mengelola ban belakang.

Misinya kini jelas: mempertajam Sektor 3 dan memaksimalkan slipstream saat time attack. Jika dua hal itu terpenuhi, tiket langsung ke Q2 bukan sekadar angan-angan. Posisi 18 di FP1 hanyalah titik awal, bukan vonis akhir pekan. Silverstone masih menyimpan banyak cerita, dan Mario Aji punya dua hari untuk menulis ulang narasinya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
fajar-ramadhan

Editor Hukum. Alumni FH UI. Meliput pengadilan, MA, dan judicial review.

Comments (0)

User