Final Piala Dunia 2026 Berakhir Ricuh, Paredes di Pusat Badai

Skor akhir 1-2 baru saja tertera di papan skor MetLife Stadium ketika suasana final Piala Dunia 2026 berubah mencekam. Hanya hitungan detik setelah wasit meniup peluit panjang, kericuhan pecah di teng...

Aug 10, 2026 - 04:42
0 0
Final Piala Dunia 2026 Berakhir Ricuh, Paredes di Pusat Badai

Skor akhir 1-2 baru saja tertera di papan skor MetLife Stadium ketika suasana final Piala Dunia 2026 berubah mencekam. Hanya hitungan detik setelah wasit meniup peluit panjang, kericuhan pecah di tengah lapangan — dan dari tayangan ulang terlihat jelas Leandro Paredes berada di pusat badai. Gelandang bertahan Argentina itu memicu adu mulut yang dengan cepat berkembang menjadi aksi saling dorong yang melibatkan belasan pemain, ofisial, hingga staf pelatih dari kedua kubu.

Petugas keamanan stadion dan ofisial pertandingan langsung turun ke lapangan untuk melerai. Butuh waktu hampir lima menit sebelum situasi benar-benar kondusif dan para pemain bisa digiring menuju lorong ruang ganti.

Kronologi Kericuhan di Menit-Menit Akhir

Berdasarkan rekaman pertandingan, percikan insiden muncul sesaat setelah peluit akhir berbunyi. Paredes, yang sepanjang laga tampil penuh emosi sebagai jangkar di lini tengah, terlihat menghampiri sejumlah pemain lawan yang tengah merayakan kemenangan. Adu mulut tak terhindarkan, sebelum gestur provokatif dari sang gelandang memancing reaksi lebih besar dari pemain lain di sekitarnya.

Situasi makin panas ketika pemain cadangan dari kedua tim meninggalkan bangku dan berlari masuk ke area lapangan. Wasit beserta tim ofisial langsung membentuk barikade, sementara sejumlah pemain senior dari kedua negara berusaha menenangkan rekan-rekannya. Paredes akhirnya diseret menjauh oleh rekan setimnya menuju lorong stadion dengan pengawalan ketat ofisial pertandingan.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi mengenai sanksi, tetapi tim disiplin FIFA dipastikan akan meninjau rekaman insiden tersebut. Kartu kuning dan kartu merah yang dikeluarkan dalam situasi pasca-pertandingan tetap tercatat dalam laporan resmi wasit.

Laga Ketat yang Sudah Panas Sejak Menit Awal

Kericuhan usai laga sejatinya bukan kejutan besar jika melihat jalannya pertandingan. Final ini berlangsung dalam tempo tinggi sejak menit pertama. Kubu lawan membuka keunggulan pada menit ke-23 lewat skema serangan balik cepat, sebelum Argentina menyamakan kedudukan pada menit ke-57 melalui sundulan menyambut assist dari sepak pojok. Gol penentu kemenangan lahir pada menit ke-84, memanfaatkan kelengahan lini belakang Argentina di menit-menit krusial.

Secara statistik, laga ini memang layak disebut final yang sengit. Penguasaan bola tercatat nyaris berimbang, 49 berbanding 51 persen. Argentina melepaskan empat shots on target dari 12 percobaan, sementara lawan mereka mencatatkan lima tembakan tepat sasaran dari 11 upaya. Yang paling mencolok adalah angka pelanggaran: total 27 pelanggaran terjadi sepanjang 90 menit, dengan wasit mengeluarkan enam kartu kuning — tiga di antaranya untuk pemain Argentina.

Paredes sendiri, yang turun sebagai bagian dari starting XI dalam skema formasi 4-3-3, sudah menerima kartu kuning pada babak kedua akibat tekel keras di area tengah. Ketegangan juga sempat memuncak pada menit ke-71 ketika VAR meninjau insiden di kotak penalti, meski akhirnya tidak berbuah penalti bagi kedua pihak.

Emosi pemain memuncak karena ini final, semua orang memberikan segalanya. Tetapi ada batas yang tidak boleh dilintasi, dan kami akan mengevaluasi apa yang terjadi setelah peluit akhir, ujar pelatih Argentina dalam konferensi pers usai laga.

Bukan Pertama Kali Paredes Jadi Sorotan

Bagi penggemar sepak bola dunia, nama Paredes dalam pusaran kontroversi bukanlah hal baru. Pada Piala Dunia 2022 di Qatar, ia memicu keributan besar dalam laga perempat final melawan Belanda ketika dengan sengaja menendang bola ke arah bangku cadangan lawan pada menit-menit akhir. Insiden itu memicu baku hantam kecil di pinggir lapangan dan membuatnya diganjar kartu kuning oleh wasit.

Di level klub, gelandang yang dikenal sebagai metronom lini tengah ini juga memiliki reputasi sebagai pemain bertemperamen tinggi. Catatan kartunya sepanjang karier menunjukkan pola yang konsisten: agresivitas yang menjadi kekuatan sekaligus kelemahan terbesarnya di atas lapangan.

Sanksi FIFA Menanti di Ujung Insiden

Merujuk pada regulasi disiplin FIFA, tindakan provokatif dan keterlibatan dalam kericuhan pasca-pertandingan dapat berujung pada larangan bertanding serta denda, baik untuk pemain maupun federasi. Laporan wasit dan rekaman video akan menjadi bukti utama dalam sidang komite disiplin yang digelar dalam beberapa hari ke depan.

Apa pun keputusan FIFA nanti, satu hal pasti: final Piala Dunia 2026 akan dikenang bukan hanya karena drama 90 menit di lapangan, tetapi juga karena kericuhan yang menodai momen yang seharusnya menjadi perayaan sepak bola terbesar di planet ini. Dan nama Leandro Paredes, sekali lagi, terukir di tengah kontroversi pada panggung terbesar itu.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
indah-permata

Reporter Kriminal. Meliput Polri, kejaksaan, dan pengadilan pidana.

Comments (0)

User