Fimelahood Playdate Hadirkan Petualangan Menaklukkan Rasa Takut Bersama Ibu
Jakarta – Fimela kembali menggelar Fimelahood Playdate edisi spesial dengan tema “Berpetualang Menaklukkan Rasa Takut Bersama Ibu”. Bertempat di hamparan rumput hijau area terbuka Gelora Bung Ka...
Jakarta – Fimela kembali menggelar Fimelahood Playdate edisi spesial dengan tema “Berpetualang Menaklukkan Rasa Takut Bersama Ibu”. Bertempat di hamparan rumput hijau area terbuka Gelora Bung Karno, Senayan, Sabtu (24/5), acara yang dimulai pukul 07.00 WIB ini sukses menyatukan lebih dari 45 pasangan ibu dan anak dalam satu pagi penuh petualangan. Maskot rubah oranye Fimelahood yang berdiri di pintu masuk langsung mencuri perhatian, membuat anak-anak yang semula malu-malu berani bersalaman dan berfoto.
Suhu udara yang sejuk dan cuaca cerah seakan mendukung misi hari itu: menjadikan rasa takut sebagai batu loncatan, bukan penghalang. Para ibu dan anak yang berasal dari berbagai penjuru Jabodetabek berkumpul dengan satu tujuan—membangun keberanian bersama.
Ruang Aman untuk Menumbuhkan Keberanian
Berbeda dari edisi sebelumnya, Playdate kali ini dirancang khusus untuk anak usia 4 hingga 8 tahun dengan pendekatan psikologi perkembangan. Survei internal Fimela terhadap 200 orang ibu menunjukkan 68 persen responden mengaku anaknya pernah mengalami kecemasan yang mengganggu aktivitas harian, mulai dari takut gelap, takut bertemu orang baru, hingga cemas berpisah. Berangkat dari temuan itu, Fimelahood Playdate hadir bukan sekadar ajang rekreasi, melainkan ruang aman tempat ibu dan anak menghadapi ketakutan bersama-sama.
“Kami ingin menghapus stigma bahwa rasa takut adalah kelemahan. Justru, itu bisa menjadi bahan bakar untuk tumbuh jika didampingi dengan tepat. Dan siapa yang lebih tepat selain ibu?” ujar Amanda Putri, Editor in Chief Fimela, saat ditemui di sela acara. Ia menambahkan, seluruh aktivitas telah melalui kurasi ketat bersama tim psikolog anak dari Rumah Konsultasi Tumbuh Kembang agar tidak hanya menyenangkan, tetapi juga terapeutik.
Lima Pos Petualangan, Lima Pelajaran Keberanian
Acara dikemas dalam bentuk sirkuit petualangan yang terdiri dari lima pos tematik, masing-masing merepresentasikan ketakutan yang jamak dialami anak. Di Pos Kegelapan, tenda hitam pekat disulap menjadi lorong misteri. Anak bersama ibu harus meraba dan menebak objek tersembunyi hanya dengan sentuhan. Awalnya terdengar jeritan kecil, tetapi tawa lepas akhirnya pecah saat mereka berhasil menemukan boneka bertekstur lembut di ujung lorong.
Beranjak ke Pos Ketinggian, tersedia mini rope course setinggi 120 cm lengkap dengan harness pengaman. Satu per satu anak meniti balok titian sambil memegang erat tangan ibunya. “Seru, Bun! Aku mau lagi!” teriak Rayhan (5), yang sempat ragu di awal. Sementara di Pos Suara, rekaman gemuruh petir dan suara kendaraan besar diputar bertahap. Anak diajak mengidentifikasi sumber suara dan mengubahnya menjadi cerita lucu, sehingga respons takut perlahan berganti rasa ingin tahu.
Dua pos lainnya, Pos Kegagalan dan Pos Sosial, tak kalah menggugah. Di Pos Kegagalan, setiap pasangan harus menyusun menara dari 20 balok kayu yang sengaja didesain tidak stabil. Setiap kali roboh, fasilitator mengajak anak bernapas dalam-dalam dan berkata, “Tidak apa, kita coba lagi.” Ibu berperan memvalidasi emosi, bukan memperbaiki. Sementara di Pos Sosial, anak diajak memainkan kartu emosi bersama teman baru, sementara ibu mengobservasi dari jarak 3 meter—melatih anak membangun kepercayaan diri tanpa bergantung seratus persen pada ibu.
“Kuncinya adalah hadir tanpa menghakimi,” ujar Rani Puspita, fasilitator yang juga terapis bermain. “Anak-anak belajar bahwa perasaan takut itu normal, dan ibu adalah tempat pulang yang paling aman.” Setiap anak yang menyelesaikan seluruh pos mendapatkan buku ‘Petualangan Rasa Berani’—berisi stiker apresiasi dan lembar refleksi untuk dilanjutkan di rumah.
Ikatan Emosional yang Kian Erat
Di sela istirahat, banyak ibu berbagi pengalaman. Mira (32), ibu dari Alif (6), mengaku terharu. “Alif biasanya takut gelap, bahkan tidur harus pakai lampu terang. Di Pos Kegelapan tadi dia sempat menolak, tapi setelah saya gandeng dan bisikin cerita petualangan favoritnya, dia berani masuk. Saya belajar, anak butuh waktu dan kehadiran, bukan paksaan.”
Santi (35), ibu dari anak dengan spektrum autisme, merasakan atmosfer inklusif. “Biasanya acara seperti ini terlalu ramai untuk anak saya. Tapi panitia menyediakan quiet zone dengan beanbag, headphone peredam, dan mainan sensori. Anak saya bisa istirahat dan kembali ikut saat sudah tenang. Ini pengalaman pertama yang benar-benar ramah,” tuturnya.
Survei singkat pasca-acara menunjukkan hasil positif: 85 persen peserta melaporkan anak mereka menunjukkan peningkatan keberanian, sementara 92 persen ibu merasa lebih percaya diri mendampingi anak saat menghadapi situasi menakutkan. Acara ditutup dengan sesi “Pelukan Berani”—momen hening saat setiap ibu memberikan pelukan erat penuh afirmasi, menjadi penanda bahwa setelah segala petualangan, kehangatan tetap yang utama.
Visi Jangka Panjang Fimelahood Playdate
Tingginya antusiasme mendorong Fimela untuk menjadikan Playdate sebagai agenda dua bulanan yang akan berpindah ke kota-kota besar seperti Bandung, Surabaya, dan Medan. Tak hanya itu, tim sedang menyusun modul petualangan dalam bentuk video edukasi dan panduan cetak yang akan diakses gratis melalui platform digital Fimela. “Kami ingin membangun generasi berani yang dimulai dari rumah, dan ibu adalah arsitek pertamanya,” tutup Amanda.
Comments (0)