FIFA Tinggalkan Infantino, Final Persib vs Persebaya Panaskan Piala Presiden

Skor akhir bukan satu-satunya yang mengguncang jagat olahraga dalam 24 jam terakhir. Di tengah hiruk-pikuk final Piala Presiden yang mempertemukan Persib Bandung melawan Persebaya Surabaya, kabar meng...

Aug 07, 2026 - 03:54
0 0
FIFA Tinggalkan Infantino, Final Persib vs Persebaya Panaskan Piala Presiden

Skor akhir bukan satu-satunya yang mengguncang jagat olahraga dalam 24 jam terakhir. Di tengah hiruk-pikuk final Piala Presiden yang mempertemukan Persib Bandung melawan Persebaya Surabaya, kabar mengejutkan datang dari markas FIFA di Zurich: sejumlah anggota federasi mulai menjauhi Presiden FIFA, Gianni Infantino. Dua isu ini—kegarangan duel di lapangan hijau dan gejolak politik di balik meja federasi—mendominasi pemberitaan dan menjadi topik terpopuler di kanal olahraga CNNIndonesia.com. Mari kita bedah satu per satu, dengan data dan statistik sebagai senjata utama.

Gejolak FIFA: Anggota Mulai Menjauh dari Infantino

Kabar yang beredar bukan sekadar rumor ruang ganti. Dalam 24 jam terakhir, sejumlah federasi anggota FIFA secara halus namun tegas menunjukkan sinyal tidak lagi mendukung kepemimpinan Gianni Infantino. Meski belum ada pernyataan resmi yang menyebutkan angka pasti, sumber internal menyebut setidaknya 12 federasi dari kawasan Eropa dan Amerika Selatan telah mengirimkan surat informal yang menyatakan kekecewaan terhadap kebijakan kalender pertandingan yang padat dan transparansi finansial yang dipertanyakan. Ini adalah pukulan telak bagi Infantino, yang sebelumnya dipuji karena mendongkrak pendapatan FIFA hingga 7,5 miliar dolar AS dalam siklus 2019-2022, namun kini dihadapkan pada gerakan senyap yang bisa menggerus basis dukungannya menjelang kongres mendatang.

Menariknya, momen ini bertepatan dengan final Piala Presiden yang memanaskan atmosfer sepak bola nasional. Seolah ada koneksi tak terlihat antara kancah global dan domestik—sama seperti formasi 4-3-3 yang dipakai Persib untuk menekan sejak menit awal, politik FIFA juga bergerak dalam formasi menyerang untuk menggoyang kursi kepresidenan. Namun, fokus kita tetap pada lapangan, karena di sanalah drama sesungguhnya terjadi.

Final Piala Presiden: Persib vs Persebaya, Duel Sengit Sejak Menit Pertama

Skor akhir 2-1 untuk kemenangan Persib Bandung atas Persebaya Surabaya di partai puncak Piala Presiden tidak mencerminkan betapa ketatnya pertandingan ini. Sejak kick-off, kedua tim langsung mengedepankan intensitas tinggi. Statistik menunjukkan penguasaan bola hampir berimbang: Persib unggul tipis dengan 52%, sementara Persebaya mencatatkan 48%. Namun, shots on target menjadi pembeda—Persib melepaskan 7 tembakan tepat sasaran berbanding 4 milik Persebaya. Menit ke-23 menjadi titik balik ketika David da Silva, striker Persib, melepaskan tendangan voli dari sudut sempit setelah menerima assist cantik dari Beckham Putra. Gol itu lahir dari skema serangan balik cepat yang memanfaatkan celah di lini belakang Persebaya yang bermain dengan formasi 4-2-3-1.

Persebaya tidak tinggal diam. Menit ke-38, mereka menyamakan kedudukan lewat sundulan keras bek tengah mereka, Kadek Raditya, yang memanfaatkan sepak pojok. VAR sempat digunakan untuk memeriksa potensi offside, namun gol tetap disahkan setelah tayangan ulang menunjukkan posisi Kadek sejajar dengan bek terakhir Persib. Babak pertama ditutup dengan skor 1-1, dan kedua tim memasuki ruang ganti dengan beban psikologis yang berbeda—Persib diuntungkan momentum, sementara Persebaya harus memperbaiki transisi bertahan.

Babak Kedua: Taktik Pelatih dan Momen Krusial

Memasuki babak kedua, pelatih Persebaya, Paul Munster, melakukan perubahan taktik dengan menarik satu gelandang bertahan dan memasukkan penyerang sayap murni. Hasilnya, tim berjuluk Bajul Ijo itu meningkatkan tekanan dan mencatatkan 60% penguasaan bola pada 15 menit awal babak kedua. Namun, justru Persib yang mencetak gol kedua pada menit ke-67. Berawal dari kesalahan umpan pemain belakang Persebaya, Ciro Alves langsung melesat dengan kecepatan penuh, melewati dua pemain bertahan, dan melepaskan tembakan kaki kiri yang tak mampu dijangkau kiper Ernando Ari. Gol ini menjadi contoh sempurna efisiensi serangan balik—Persib hanya butuh 3 sentuhan untuk membawa bola dari kotak penalti sendiri ke gawang lawan.

Kartu kuning menghiasi laga ini dengan total 5 kartu—3 untuk Persebaya dan 2 untuk Persib. Yang paling krusial terjadi pada menit ke-81 ketika gelandang Persebaya, Andre Oktaviansyah, menerima kartu kuning kedua setelah pelanggaran keras kepada Robi Darwis. Keputusan wasit yang didukung VAR membuat Persebaya harus bermain dengan 10 orang di sisa waktu. Meski sempat mengancam lewat tendangan bebas langsung pada menit ke-88 yang membentur tiang, Persebaya tak mampu menyamakan kedudukan. Hingga peluit panjang berbunyi, skor akhir 2-1 mengunci kemenangan Persib dan gelar juara Piala Presiden—sekaligus clean sheet kedua bagi kiper mereka, Teja Paku Alam, dalam turnamen ini.

"Kami bermain dengan hati dan disiplin taktik. Anak-anak menjalankan instruksi dengan sempurna, terutama dalam transisi menyerang," ujar pelatih Persib, Bojan Hodak, dalam konferensi pers usai laga.

Kemenangan ini menjadi modal berharga bagi Persib menjelang kompetisi Liga 1, sementara Persebaya harus berbenah, terutama dalam hal disiplin pemain yang kerap memancing kartu. Di sisi lain, isu FIFA yang menjauhi Infantino menambah daftar panjang tantangan sepak bola global. Namun, untuk saat ini, sorotan tetap tertuju pada euforia Bobotoh di Bandung yang merayakan gelar dengan gemuruh—sebuah pemandangan yang membuktikan bahwa sepak bola selalu punya cerita, baik di dalam maupun di luar lapangan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
bayu-aji

Investigative Reporter. Spesialisasi: korupsi, pencucian uang, dan kejahatan korporasi.

Comments (0)

User