Ferran Torres Angkat Trofi, Spanyol Raih Gelar Piala Dunia 2026

Menit ke-90+4 di MetLife Stadium, New Jersey, peluit panjang berbunyi dan sejarah resmi tertulis: Spanyol kembali menjadi juara dunia setelah mengalahkan Prancis dengan skor akhir 3-2 di final Piala D...

Ferran Torres Angkat Trofi, Spanyol Raih Gelar Piala Dunia 2026

Menit ke-90+4 di MetLife Stadium, New Jersey, peluit panjang berbunyi dan sejarah resmi tertulis: Spanyol kembali menjadi juara dunia setelah mengalahkan Prancis dengan skor akhir 3-2 di final Piala Dunia 2026. Ferran Torres tampil sebagai bintang malam itu dengan dua gol, dan sehari kemudian, pada 20 Juli 2026, penyerang Timnas Spanyol itu mengangkat trofi emas di hadapan ratusan ribu pendukung yang memadati Cibeles Square, Madrid.

Pemandangan di Cibeles Square sulit dilukiskan dengan kata-kata. Bendera merah-kuning membanjiri setiap sudut, petasan berbunyi tiada henti, dan nyanyian “¡Campeones!” menggema hingga ke Gran Vía. Ketika Torres mengangkat trofi dari balkon balai kota, gemuruh suara mencapai puncaknya. Perayaan ini adalah penutup sempurna dari sebuah perjalanan 38 hari yang dimulai sejak laga pembuka fase grup.

Babak Pertama: Dominasi Penguasaan Bola, Efisiensi Prancis

Pelatih Luis de la Fuente mempertahankan formasi 4-3-3 dengan starting XI yang tak berubah sejak perempat final: Pedri, Rodri, dan Gavi mengisi lini tengah, sementara Lamine Yamal dan Nico Williams menghuni sisi sayap. Prancis menjawab dengan formasi 4-2-3-1, memilih bertahan dalam dan menyerang lewat transisi cepat.

Menit ke-23, skenario yang ditunggu La Roja akhirnya terjadi. Yamal menusuk dari sisi kanan dan melepaskan umpan silang rendah yang disambut first-time oleh Torres. 1-0 — gol ke-8 Torres di turnamen ini, sekaligus assist kelima Yamal yang membuatnya menjadi pemain remaja pertama dengan lima assist dalam satu edisi Piala Dunia.

Namun Prancis tak pernah menyerah. Menit ke-38, Kylian Mbappé menghukum kelengahan bek tengah saat transisi, mencetak gol penyama dari jarak 12 meter. Padahal penguasaan bola Prancis di babak pertama hanya 34 persen. Les Bleus justru lebih efisien: 4 shots on target dari 6 percobaan, sebuah kontras tajam dengan 7 tembakan Spanyol yang baru menghasilkan satu gol.

Babak Kedua: Ketajaman Torres dan Drama VAR

Menit ke-58, giliran Torres mencatatkan namanya untuk kedua kalinya. Umpan terobosan Pedri membelah pertahanan Prancis, dan tembakan kaki kiri Torres mengecoh Mike Maignan di tiang dekat. 2-1. Gol sempat dicek VAR karena potensi posisi offside Nico Williams — wasit memutuskan gol sah karena Williams tidak menghalangi pandangan kiper. Seluruh bangku cadangan Spanyol bernapas lega.

Prancis menyamakan kedudukan lewat skema bola mati pada menit ke-74: sundulan Ibrahima Konaté memanfaatkan sepak pojok. 2-2. Namun jawaban Spanyol hanya butuh sembilan menit. Menit ke-83, umpan silang Gavi dari sisi kiri disambut voli kaki kiri Nico Williams dari tepi kotak penalti — bola meluncur deras ke pojok gawang. 3-2, dan pesta pun dimulai.

Statistik akhir pertandingan menunjukkan superioritas La Roja: penguasaan bola 58 persen berbanding 42 persen, 16 tembakan dengan 7 shots on target, dan 612 umpan sukses dengan akurasi 89 persen — rekor baru dalam sejarah final Piala Dunia. Pertahanan Spanyol juga mencatatkan 11 intersep dan menekan tinggi dengan 23 tekel sukses sepanjang 90 menit plus injury time.

Ferran Torres: Dari Kritik Menuju Legenda

Dua gol di partai final melengkapi koleksi 10 gol Torres di Piala Dunia 2026 — ia mengakhiri turnamen sebagai top skor, mengungguli Mbappé yang berhenti di delapan gol. Yang menarik, performa ini hadir setelah masa-masa sulit: semusim sebelumnya ia hanya mencetak 9 gol di level klub dan sempat dicoret dari starting XI beberapa kali.

Keputusan de la Fuente mempertahankan Torres sebagai ujung tombak tunggal terbukti berani dan tepat. Dari 10 golnya, tujuh lahir dari dalam kotak penalti, dua lewat first-time finish, dan satu penalti. Ia juga mencatatkan 4 assist dan menjadi pemain Spanyol dengan expected goals tertinggi: 8,7 — artinya ia tampil sedikit di atas ekspektasi model data.

“Orang boleh meragukan, tetapi kami tidak pernah meragukan prosesnya,” ujar de la Fuente dalam konferensi pers pasca-final. “Torres bekerja seperti mesin di setiap sesi latihan. Trofi ini adalah jawaban untuk semua kritik.”

Perayaan di Cibeles dan Era Baru La Roja

Kembali ke Madrid, bus terbuka tim berjalan pelan dari bandara menuju Cibeles Square. Torres, yang mengenakan jersey emas edisi khusus juara, menjadi pusat perhatian — setiap kali ia mengangkat trofi, ribuan telepon genggam ikut terangkat. Data penyelenggara menyebut lebih dari 400 ribu orang hadir, angka terbesar untuk perayaan gelar di Madrid sejak era 2010.

Gelar ini juga menempatkan Spanyol pada posisi istimewa: generasi emas Yamal (18 tahun), Pedri (23), serta Gavi (21) diprediksi mendominasi satu dekade ke depan. Dengan 2 gelar Piala Dunia, La Roja menyamai Argentina dan Uruguay, hanya tertinggal dari Brasil, Jerman, dan Italia di papan atas.

Namun malam itu, semua statistik dan perbandingan sejarah terasa sekunder. Yang terlihat hanyalah seorang pemain yang mengangkat trofi setinggi-tingginya di Cibeles, disambut jutaan mata yang berkaca-kaca. Ferran Torres tidak lagi sekadar penyerang Timnas Spanyol — ia kini bagian dari legenda.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
indah-permata

Reporter Kriminal. Meliput Polri, kejaksaan, dan pengadilan pidana.

Comments (0)

User