Erick Thohir Gandeng NYU untuk Bangun Fondasi Olahraga Prestasi

Jakarta – Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir kembali menunjukkan komitmennya untuk mendorong transformasi olahraga nasional. Kali ini, ia menandatangani nota kesepahaman strategis dengan Prest...

Erick Thohir Gandeng NYU untuk Bangun Fondasi Olahraga Prestasi

Jakarta – Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir kembali menunjukkan komitmennya untuk mendorong transformasi olahraga nasional. Kali ini, ia menandatangani nota kesepahaman strategis dengan Preston Robert Tisch Institute for Global Sport yang bernaung di bawah New York University (NYU), salah satu institusi pendidikan terkemuka dunia. Penandatanganan ini menjadi penanda babak baru kolaborasi internasional untuk pengembangan ekosistem olahraga Indonesia dari hulu ke hilir.

Kemitraan dengan Lembaga Sports Business Terbaik Dunia

Preston Robert Tisch Institute for Global Sport dikenal sebagai pusat studi manajemen dan bisnis olahraga paling bergengsi di Amerika Serikat. Lembaga ini secara konsisten menghasilkan riset-riset mutakhir tentang ekonomi olahraga, tata kelola federasi, pemasaran event, hingga pengembangan atlet berbasis data. Berkolaborasi dengan NYU berarti Indonesia membuka akses terhadap jejaring akademisi, praktisi, dan alumni yang tersebar di liga-liga profesional global, mulai dari NBA, NFL, hingga Premier League. MoU ini diproyeksikan akan mencakup program pertukaran pengetahuan, kurikulum pelatihan manajer olahraga, serta riset bersama tentang peta potensi atlet muda Tanah Air.

Erick Thohir, yang juga pernah menjabat sebagai pemilik klub sepak bola Inter Milan dan memiliki pengalaman di level eksekutif berbagai organisasi olahraga internasional, memahami betul bahwa kemajuan olahraga tidak hanya ditentukan oleh bakat fisik, melainkan juga oleh sistem manajemen yang profesional. “Kita tidak bisa lagi mengelola olahraga dengan cara-cara konvensional. Dunia telah berubah. Data analytics, sport science, dan governance yang transparan menjadi kunci. Kerja sama dengan Tisch Institute akan mentransfer teknologi dan pengetahuan itu ke Indonesia,” ujar Erick di sela-sela acara penandatanganan.

Membangun Sport Ecosystem dari Akar Rumput

Fokus utama dari nota kesepahaman ini adalah pembangunan kapasitas sumber daya manusia di sektor olahraga. Selama ini, Indonesia kerap menghadapi tantangan dalam regenerasi pelatih, minimnya tenaga sport scientist, serta tata kelola federasi yang belum optimal. Melalui kerja sama ini, pelatih-pelatih nasional akan mendapat kesempatan mengikuti program sertifikasi internasional yang kredibel. Selain itu, para administrator liga di Tanah Air akan dilatih untuk mengadopsi praktik terbaik dalam pengelolaan kompetisi, mulai dari lisensi klub, hak siar, hingga keterlibatan komunitas.

Tak hanya itu, program beasiswa bagi mahasiswa Indonesia yang ingin menempuh studi di bidang sports management dan sports science di NYU turut menjadi salah satu poin penting. Langkah ini diharapkan dapat menciptakan generasi baru profesional olahraga yang nantinya akan kembali membangun ekosistem di dalam negeri. Dengan populasi lebih dari 270 juta jiwa dan basis penggemar olahraga yang sangat besar, Indonesia sesungguhnya menyimpan potensi ekonomi olahraga yang belum tergarap maksimal. Data Kementerian Pemuda dan Olahraga menunjukkan bahwa kontribusi industri olahraga terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional masih di bawah satu persen, jauh tertinggal dari negara-negara maju seperti Amerika Serikat yang mencapai lebih dari 2,5 persen. Kerja sama ini diyakini bisa menjadi katalis untuk mempercepat pertumbuhan tersebut.

Dampak Jangka Panjang bagi Prestasi Atlet

Selain aspek bisnis dan manajemen, transfer pengetahuan di bidang sport performance menjadi sorotan utama. Tisch Institute memiliki laboratorium sport science yang terhubung dengan para ahli biomekanika, nutrisi olahraga, dan psikologi olahraga dari NYU. Nantinya, atlet-atlet Indonesia yang tergabung dalam program pelatnas dapat mengakses metode pelatihan yang lebih personal dan berbasis data. Ini adalah lompatan besar, mengingat selama ini banyak cabang olahraga mengandalkan insting pelatih tanpa dukungan perangkat ilmiah yang memadai.

Sebagai contoh, cabang olahraga seperti angkat besi, bulu tangkis, dan sepak bola akan mendapat manfaat langsung dari analisis kinematika gerakan yang dapat mendeteksi risiko cedera sejak dini. Di sisi lain, pengembangan aplikasi pemantauan beban latihan berbasis kecerdasan buatan juga menjadi bagian dari rencana kerja sama jangka panjang. Erick menekankan bahwa fokus pemerintah saat ini bukan sekadar mengejar medali di ajang sesaat, melainkan membangun fondasi yang berkelanjutan. “Olahraga harus menjadi budaya, bukan sekadar pemburu medali. Jika sistemnya kuat, prestasi akan mengikuti secara alami,” tandasnya.

Penandatanganan MoU ini sekaligus menegaskan posisi Indonesia yang semakin terbuka dalam menjalin aliansi strategis global untuk olahraga. Sebelumnya, Erick juga telah menjajaki kerja sama dengan Jepang dan Australia untuk pengembangan sepak bola usia dini. Dengan tambahan jejaring akademik dari NYU, Indonesia kini memiliki spektrum yang lebih luas untuk melakukan lompatan di panggung olahraga internasional. Publik pun menanti realisasi konkret dari kolaborasi ini dalam bentuk peningkatan peringkat Indonesia di multi-event mendatang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User