Enzo Maresca: Arsitek di Balik Treble Manchester City

Skor akhir 1-0 untuk Manchester City atas Inter Milan di final Liga Champions, Stadion Olimpiade Atatürk, Istanbul, 10 Juni 2023. Gol tunggal Rodri pada menit ke-68 menjadi pembeda, sekaligus mengant...

Aug 24, 2026 - 01:51
0 0
Enzo Maresca: Arsitek di Balik Treble Manchester City

Skor akhir 1-0 untuk Manchester City atas Inter Milan di final Liga Champions, Stadion Olimpiade Atatürk, Istanbul, 10 Juni 2023. Gol tunggal Rodri pada menit ke-68 menjadi pembeda, sekaligus mengantar The Citizens meraih treble pertama dalam sejarah klub: Premier League, Piala FA, dan trofi Si Kuping Besar. Di balik malam bersejarah itu, tersimpan kontribusi besar Enzo Maresca, pelatih Manchester City yang berdiri di samping Pep Guardiola dan menjadi otak taktik di balik layar.

Jalannya laga tidak semanis skor akhir. Sejak menit awal, City membangun serangan dengan formasi 3-2-4-1, John Stones naik ke lini tengah membentuk double pivot bersama Rodri. Namun menit ke-36, petaka kecil datang: Kevin De Bruyne cedera dan ditarik keluar, digantikan Phil Foden. Inter langsung berani keluar dan bermain dengan garis pertahanan tinggi, beberapa kali menjebak penyerang City dalam posisi offside. Menit ke-58, Bernardo Silva melepaskan tembakan yang ditepis André Onana, sebelum Ederson melakukan penyelamatan krusial pada menit ke-89 saat Romelu Lukaku menyundul bola dari jarak dekat. VAR sempat memeriksa insiden di kotak penalti City ketika Lautaro Martinez terjatuh setelah beradu fisik dengan Manuel Akanji, namun wasit Szymon Marciniak memutuskan tidak ada pelanggaran.

Angka-angka membuktikan dominasi tipis City: penguasaan bola 54 persen berbanding 46 persen, shots on target 4-1, dan akurasi umpan 92 persen. Menariknya, Inter justru mencatat lebih banyak tembakan total, 14 berbanding 7. Duel keras di lini tengah juga membuat wasit mengeluarkan beberapa kartu kuning. Efektivitas di depan gawanglah yang menjadi pembeda — dan itulah hasil kerja Maresca di lapangan latihan.

Peran Maresca di Balik Layar: Jembatan Taktik Guardiola

Maresca bukan sekadar asisten yang memindahkan taktik dari papan tulis ke lapangan. Ia adalah analis sekaligus pelatih yang menyiapkan starting XI dalam sesi latihan, mengoreksi posisi para gelandang, dan merancang skema pressing. Saat Guardiola sibuk berkomunikasi dengan pemain di pinggir lapangan, Maresca yang berdiri di belakangnya kerap mencatat pergeseran posisi lawan dan meneruskannya lewat instruksi singkat.

Perannya paling terlihat di lini tengah. Rodri, Gundogan, dan Bernardo Silva adalah produk sistem 3-2-4-1 yang dirancang agar setiap umpan punya tiga opsi ke depan. Maresca juga bekerja keras pada skema set-piece — area yang kerap menjadi pembeda di laga ketat seperti final ini. Ia pula yang mendorong transisi cepat ke sisi sayap, tempat Jack Grealish dan Foden memanfaatkan ruang di antara bek sayap lawan.

Perjalanan Karier: Dari Gelandang Sevilla ke Bangku Cadangan City

Karier Maresca dimulai sebagai gelandang. Ia menimba ilmu di Juventus, lalu mencapai puncak sebagai pemain bersama Sevilla dengan dua gelar Piala UEFA pada 2006 dan 2007. Namun transformasi terbesarnya justru terjadi setelah gantung sepatu. Maresca menangani tim muda Parma, lalu bergabung dengan akademi Manchester City pada 2020 dan membawa tim Elite Development Squad memenangi Premier League 2. Ia sempat mencoba peruntungan sebagai kepala pelatih Parma pada 2021, meski masa baktinya singkat, sebelum kembali ke City sebagai tangan kanan Guardiola pada musim 2022-2023.

Dari situlah lahir filosofi yang ia bawa ke ruang ganti: penguasaan bola yang progresif, pressing tinggi, dan full-back yang masuk ke tengah. Ia percaya posisi bukan sekadar tempat berdiri, melainkan cara menciptakan keunggulan numerik. Hasilnya terlihat nyata — Erling Haaland, yang sepanjang musim mencetak hat-trick demi hat-trick di Premier League, menjadi mesin gol berkat alur serangan yang disiapkan dari lini belakang.

Filosofi Bola dan Masa Depan

Gaya Maresca kerap disebut sebagai Guardiola murni, dengan sentuhan Italia di lini belakang. Timnya ingin mengontrol ritme lewat umpan pendek, tapi tanpa ragu mengirim bola panjang saat lawan menekan. Ia juga menuntut transisi kilat — begitu bola hilang, lima detik pertama adalah segalanya.

"Kami ingin menjadi protagonis lewat bola. Tapi penguasaan tanpa progresi hanya sekadar statistik. Yang penting adalah seberapa cepat kami merebut bola kembali setelah kehilangannya," begitu filosofi yang kerap ia tanamkan di sesi latihan City.

Setelah treble ini, nama Maresca naik daun. Beberapa klub mulai meliriknya sebagai calon kepala pelatih, dan reputasinya di ruang analisis kini setara dengan gelar yang ia bantu raih. Clean sheet Ederson di final — yang pertama City di final Liga Champions — juga ikut mencatatkan namanya dalam sejarah. Di laga lain musim itu, Gundogan mencetak dua gol di final Piala FA, salah satunya berkat assist De Bruyne, mempertegas kedalaman skuad yang ia bantu bentuk.

Satu hal yang pasti: tanpa Maresca, orkestra Guardiola di Istanbul mungkin tidak seindah itu. Ia adalah contoh nyata bahwa gelar dibangun dari kerja senyap di pinggir lapangan, bukan hanya sorotan kamera di tengah lapangan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
reza-pahlevi

Reporter Pengadilan. Meliput kasus-kasus landmark di PN, PT, dan MA.

Comments (0)

User