Dukungan untuk Infantino Rontok Usai Kasus Penjualan Saham Piala Dunia
Babak penentu pemilihan presiden FIFA memasuki masa paling mencekam bagi Gianni Infantino. Jika kontestasi ini dianalogikan sebagai sebuah pertandingan, maka skor akhir peta dukungan saat ini menunjuk...
Babak penentu pemilihan presiden FIFA memasuki masa paling mencekam bagi Gianni Infantino. Jika kontestasi ini dianalogikan sebagai sebuah pertandingan, maka skor akhir peta dukungan saat ini menunjukkan sang petahana tengah kehilangan penguasaan bola di area pertahanannya sendiri. Tekanan terbesar kali ini tidak datang dari lapangan hijau, melainkan dari kasus penjualan saham penyelenggaraan Piala Dunia yang kembali mencuat dan menggerus kepercayaan sejumlah federasi anggota. Dukungan yang sebelumnya terlihat solid mulai berpaling, dan papan skor politik di Zurich mencatat pergeseran yang tidak bisa dianggap remeh.
Bagi pengamat politik sepak bola, situasi ini terasa seperti laga yang berjalan dramatis di menit-menit akhir. Setiap federasi yang menyatakan sikap adalah satu tembakan ke arah gawang, dan setiap dukungan yang mundur adalah gol bunuh diri bagi kubu petahana. Ironisnya, serangan kali ini tidak datang dari rival lama di ruang ganti, melainkan dari isu tata kelola yang selama ini menjadi kartu truf utama Infantino dalam mempertahankan takhtanya.
Kartu Merah dari Kasus Penjualan Saham Piala Dunia
Kasus penjualan saham hak penyelenggaraan Piala Dunia menjadi pukulan telak yang sulit diantisipasi tim kepresidenan. Layaknya bek tengah yang lengah saat menghadapi serangan balik cepat, kubu Infantino tertangkap basah oleh pertanyaan-pertanyaan soal transparansi yang selama ini mereka klaim sebagai standar baru FIFA. Di ruang konferensi, topik ini berubah menjadi kartu kuning yang cepat berubah menjadi kartu merah bagi citra bersih yang coba dibangun sejak era kepemimpinan sebelumnya diguncang skandal besar.
Yang membuat situasi semakin pelik adalah momennya. Infantino dan timnya tidak sedang menghadapi lawan yang mudah; mereka menghadapi kalender pemilihan yang terus berdetak seperti waktu tambahan di babak kedua. Setiap hari yang lewat tanpa jawaban tuntas atas kasus saham ini memberi amunisi baru bagi kubu penantang. Di media sosial dan koridor federasi, narasi yang berkembang bukan lagi soal prestasi turnamen, melainkan soal integritas dan arah masa depan organisasi.
Dukungan Mulai Berpaling
Peta dukungan mulai berubah seperti formasi yang dirombak pelatih di tengah pertandingan. Sejumlah federasi yang dulu berdiri paling depan memberi dukungan kini memilih bersikap menunggu, bahkan sebagian dilaporkan mulai membuka komunikasi dengan kandidat alternatif. Jika dihitung seperti penguasaan bola, porsi dukungan Infantino menurun drastis dalam beberapa pekan terakhir, sementara blok yang netral justru membengkak — pertanda buruk bagi petahana yang butuh mayoritas mutlak.
Para penantang pun mulai menata starting XI mereka. Calon-calon potensial dari konfederasi Afrika dan Eropa dikabarkan aktif melakukan lobi, memanfaatkan celah yang terbuka lebar. Dalam pemilihan seperti ini, assist politik dari federasi kecil bisa menjadi penentu, dan saat ini banyak federasi kecil justru memilih bermain aman: tidak mengambil risiko mendukung petahana sebelum kasus saham Piala Dunia menemukan titik terang. Sikap menunggu ini, dalam istilah sepak bola, adalah parkir bus yang merugikan tim yang tengah tertinggal.
Belum lagi faktor generasi baru dalam sepak bola global. Para pemimpin federasi muda menuntut akuntabilitas yang lebih transparan, dan mereka memandang kasus ini sebagai ujian nyata. Bagi kelompok ini, dukungan kepada Infantino bukan lagi soal prestasi turnamen seperti jumlah penonton atau pendapatan siaran, melainkan soal apakah organisasi layak dipercaya mengelola kepentingan 211 federasi anggota.
Taktik Bertahan di Tengah Tekanan
Menghadapi badai ini, kubu Infantino tidak tinggal diam. Strategi mereka menyerupai taktik bertahan ala tim yang unggul tipis di laga kandang: menyerahkan inisiatif, menutup ruang, dan berharap serangan lawan tidak menghasilkan gol. Prestasi masa jabatan seperti format baru Piala Dunia dengan 48 peserta, Piala Dunia Antarklub yang diperluas, dan lonjakan pendapatan komersial terus digaungkan sebagai clean sheet yang layak dipertahankan.
Namun strategi ini berisiko. Dalam sepak bola, tim yang hanya bertahan tanpa sesekali melancarkan serangan balik biasanya dihukum di menit akhir. Begitu pula dalam politik FIFA: membiarkan narasi kasus saham menguasai pemberitaan tanpa counter yang meyakinkan sama saja dengan membiarkan lawan bebas menguasai bola. Tim kampanye petahana kini butuh jawaban faktual yang cepat, bukan sekadar pernyataan normatif yang bisa dibantah di meja VAR.
Pertarungan ini juga memiliki dimensi psikologis. Pemilihan presiden FIFA bukan ajang yang bisa dimenangkan hanya dengan angka pendapatan; ia dimenangkan dengan sentuhan personal di ruang pertemuan federasi. Di titik inilah Infantino selama ini unggul — kemampuannya membangun relasi langsung dengan pemimpin federasi. Namun ketika isu integritas mencuat, relasi personal hanya bernilai jika dibungkus kredibilitas, dan kredibilitas itulah yang sedang diuji oleh kasus penjualan saham Piala Dunia.
Bola kini berada di kaki kubu petahana. Apakah mereka akan melepaskan tembakan penyelamatan, atau justru tersandung offside oleh kasus yang terus mengejar? Waktu terus berjalan, dan skor akhir dukungan baru akan benar-benar diketahui saat suara dihitung. Yang jelas, peta politik FIFA tidak pernah setegang ini dalam satu dekade terakhir, dan setiap federasi kini memegang peran seperti penentu adu penalti: satu keputusan, dan segalanya bisa berubah.
Comments (0)