Dukungan ke Infantino Tergerus: Israel Menarik Diri Jelang Pilpres FIFA 2027
Kabar mengejutkan datang dari Timur Tengah jelang Kongres FIFA 2027. Federasi Sepak Bola Israel (IFA) resmi menjadi anggota terbaru yang mencabut dukungannya terhadap pencalonan Gianni Infantino sebag...
Kabar mengejutkan datang dari Timur Tengah jelang Kongres FIFA 2027. Federasi Sepak Bola Israel (IFA) resmi menjadi anggota terbaru yang mencabut dukungannya terhadap pencalonan Gianni Infantino sebagai Presiden FIFA untuk periode berikutnya. Keputusan ini menambah daftar federasi yang berpaling dari presiden asal Swiss itu dan memanaskan peta persaingan menuju pemilihan presiden pada kongres tahun depan.
Langkah IFA bukan sekadar manuver administratif. Dalam hitungan elektoral, setiap suara federasi anggota adalah aset berharga dalam pemilihan presiden FIFA. Dengan 211 federasi anggota yang berhak memilih, kebutuhan mayoritas suara membuat setiap pencabutan dukungan menjadi sinyal yang tidak bisa diabaikan begitu saja.
Jejak Kepemimpinan yang Mulai Diuji
Infantino memasuki arena kepemimpinan FIFA pada Februari 2016 melalui Kongres Luar Biasa di Zurich, menggantikan Sepp Blatter yang lengser di tengah badai skandal korupsi. Kemenangan perdananya kala itu melewati pemungutan suara dua putaran yang ketat, jauh dari gambaran pemilihan tanpa lawan yang kemudian ia alami pada 2019 dan 2023.
Pada Kongres 2019 di Paris dan Kongres 2023 di Kigali, Infantino berhasil mempertahankan kursinya tanpa pesaing. Namun peta itu mulai berubah. Kini memasuki akhir masa jabatan, pertanyaan soal regenerasi kepemimpinan mulai mengemuka di berbagai kawasan, dan dukungan yang ditarik satu per satu menandai pergeseran dinamika internal FIFA. Jika tren ini berlanjut, posisi Infantino yang sebelumnya tampak tak tergoyahkan akan menghadapi ujian terberatnya sejak menjabat.
Dimensi Politik Timur Tengah dalam Sepak Bola Global
Keputusan IFA tidak bisa dilepaskan dari konteks politik yang membayangi hubungan sepak bola Israel dengan dunia. Selama bertahun-tahun, Federasi Sepak Bola Palestina (PFA) secara konsisten mengangkat isu terkait kondisi sepak bola di wilayah konflik ke forum FIFA. Tuntutan agar FIFA menjatuhkan sanksi kepada Israel telah beberapa kali mencuat dan menjadi agenda yang dibahas dalam berbagai kongres.
FIFA sendiri memilih jalur penuh kehati-hatian dengan meminta kajian hukum independen terhadap tuntutan tersebut. Sikap ini dinilai sebagian pengamat sebagai upaya menjaga netralitas, tetapi di sisi lain memicu kekecewaan dari blok negara-negara yang mendukung Palestina. Di tengah ketegangan itu, keputusan IFA menarik dukungan untuk Infantino justru terkesan strategis: menarik dukungan di panggung FIFA tidak berarti memutus hubungan dengan organisasi itu sendiri.
Menariknya, langkah ini datang dari federasi yang selama ini tidak terlalu vokal dalam politik internal FIFA. Pilihan waktu yang berdekatan dengan masa kampanye pemilihan menunjukkan bahwa isu ini lebih dari sekadar perbedaan administratif.
Peta Persaingan Menuju Kongres 2027
Dengan masa jabatan Infantino yang akan berakhir pada 2027, bursa calon presiden FIFA mulai ramai diperbincangkan. Sejumlah pengamat menyebut nama Zvonimir Boban, mantan petinggi UEFA yang dikenal kritis terhadap Infantino, sebagai kandidat potensial, meskipun belum ada pengumuman resmi dari kandidat mana pun. Beberapa federasi di Eropa dan kawasan lain dikabarkan tengah menggalang dukungan untuk mencari wajah baru.
Secara matematis, Infantino masih berada di posisi yang kuat. Dari 211 federasi, dukungan dari konfederasi seperti UEFA, CAF, dan AFC selama ini menjadi pilar kekuatannya. Namun setiap federasi yang menarik diri berarti satu suara hilang, dan dalam sistem pemilihan FIFA, koalisi kawasan sering kali bergerak bersama. Jika satu federasi menarik dukungan, federasi lain di kawasan yang sama berpotensi mengikuti.
Yang juga patut diperhatikan adalah arah kebijakan Infantino selama dua periode terakhir. Ekspansi Piala Dunia menjadi 48 tim, peningkatan pendanaan solidaritas untuk federasi anggota, hingga keberhasilan mengamankan sponsor besar menjadi catatan positif yang kerap ia tonjolkan. Namun kritik terhadap transparansi dan kepemimpinan yang terlalu personal terus menghantui.
Langkah IFA menjadi pengingat bahwa kursi kepresidenan FIFA tidak pernah benar-benar aman. Pemilihan di Kongres 2027 akan menjadi ujian akhir bagi Infantino, sekaligus momentum bagi federasi anggota untuk menentukan arah organisasi sepak bola dunia dalam satu dekade ke depan.
Apakah gelombang pencabutan dukungan ini akan meluas, atau justru menjadi kasus yang terisolasi? Jawabannya akan terlihat dalam hitungan bulan ke depan, ketika kampanye para kandidat mulai memasuki babak yang lebih intensif.
Comments (0)