De Zerbi Pimpin Tottenham Kalahkan Chelsea di Stamford Bridge

Skor akhir 1–2 untuk kemenangan Tottenham Hotspur atas Chelsea di Stamford Bridge pada Selasa (19/5/2026), dan nyaris seluruh emosi laga itu bersumber dari satu sosok: Roberto De Zerbi. Pelatih asal...

Aug 24, 2026 - 01:33
0 0
De Zerbi Pimpin Tottenham Kalahkan Chelsea di Stamford Bridge

Skor akhir 1–2 untuk kemenangan Tottenham Hotspur atas Chelsea di Stamford Bridge pada Selasa (19/5/2026), dan nyaris seluruh emosi laga itu bersumber dari satu sosok: Roberto De Zerbi. Pelatih asal Italia itu nyaris tak menyentuh kursi pelatih sepanjang 90 menit. Dari pinggir lapangan, ia berdiri tegak, berteriak mengarahkan garis pressing, lalu memutar tubuh mengikuti arah bola seperti pemain ke-12 yang lupa mengenakan seragam. Malam itu, setiap keputusannya terasa seperti instruksi langsung dari lapangan, bukan sekadar teriakan dari bangku cadangan.

Duel bertajuk London Derby ini berjalan sengit sejak menit pertama. Gol pembuka Chelsea hadir di menit ke-27 lewat Cole Palmer, yang melepaskan tembakan first-time dari tepi kotak penalti dan tak mampu dihalau Guglielmo Vicario. Namun keunggulan tuan rumah hanya bertahan 27 menit. Di menit ke-54, James Maddison menyamakan kedudukan memanfaatkan assist Dejan Kulusevski, sebelum Heung-min Son memastikan tiga poin lewat gol di menit ke-83 dengan assist Pedro Porro. Skor akhir 1–2 menjadi bukti bahwa kemenangan Tottenham bukan sekadar keberuntungan.

Catatan statistik memperkuat narasi tersebut. Penguasaan bola tercatat 53 persen untuk Tottenham dan 47 persen untuk Chelsea, dengan total shots 14–11 dan shots on target 6–4. Dua kartu kuning menghiasi laga, dan satu gol Chelsea sempat dianulir oleh VAR karena offside di menit ke-61. Tottenham juga memenangi duel-duel udara dengan perbandingan 12–7, angka yang jarang terlihat dari tim De Zerbi yang dikenal mengandalkan penguasaan bola pendek.

Babak Pertama: Pressing Tinggi Melawan Transisi Cepat Chelsea

De Zerbi memilih formasi 4-2-3-1 dengan Son bermain sebagai false nine, sementara Chelsea menjawab dengan 4-3-3 dan lini tengah berisi Enzo Fernandez serta Moises Caicedo. Sejak peluit pertama, Tottenham menerapkan pressing tinggi yang memaksa Robert Sanchez bermain panjang ke depan. Hasilnya, Chelsea kesulitan membangun serangan dari bawah, tetapi justru berbahaya lewat transisi cepat.

Menit ke-23, Kulusevski melepaskan tendangan keras dari sisi kanan yang masih bisa ditepis Sanchez. Dua menit berselang, giliran Nicolas Jackson yang membuang peluang emas setelah lolos dari jebakan offside — tembakannya melebar tipis dari tiang jauh. Chelsea akhirnya memecah kebuntuan di menit ke-27 ketika Palmer menuntaskan umpan silang Reece James. Menariknya, De Zerbi tidak panik. Ia justru meminta para full-back, Pedro Porro dan Destiny Udogie, naik lebih tinggi dan mengubah permainan menjadi 3-4-2-1 saat menguasai bola.

Babak Kedua: Pergeseran Taktik dan Gol Penentu

De Zerbi melakukan satu perubahan kunci di awal babak kedua: Maddison diberi kebebasan penuh di belakang Son, sementara Bentancur turun lebih dalam untuk membangun serangan. Hasilnya terlihat di menit ke-54. Kulusevski memotong dari sayap kanan, melepaskan assist terukur ke kotak penalti, dan Maddison menyelesaikannya dengan sepakan satu sentuhan ke sudut jauh gawang Sanchez. Skor menjadi 1–1.

Drama VAR datang di menit ke-61. Gol Jackson dianulir setelah tinjauan lapangan menunjukkan posisi offside beberapa sentimeter. Momen itu menjadi titik balik psikologis; Chelsea mulai kehilangan ritme, sementara Tottenham terus menambah tekanan. Statistik babak kedua mencatat 9 tembakan Tottenham dengan 5 di antaranya mengarah ke gawang. Puncaknya di menit ke-83: Porro melepaskan umpan silang datar dari sisi kanan, dan Son yang berdiri bebas di tiang jauh menuntaskannya dengan kaki kiri. Gol ketiga belas Son musim ini sekaligus menjadi penentu kemenangan.

Kata De Zerbi: Kemenangan yang Dibangun dari Detail

"Kami tidak mengejar penguasaan bola untuk sekadar memegangnya. Kami menekan, kami mengambil risiko, dan para pemain menjalankan instruksi dengan disiplin luar biasa. Stamford Bridge bukan tempat yang mudah, tetapi tim ini menunjukkan karakter," ujar De Zerbi dalam konferensi pers usai laga.

Pernyataan itu bukan basa-basi. De Zerbi memang pantas disebut sebagai arsitek kemenangan ini. Ia tidak hanya menentukan starting XI yang berani, tetapi juga membaca pergeseran tempo laga dengan mengganti pressing tinggi menjadi blok sedang di 15 menit terakhir. Hasilnya, Chelsea yang membutuhkan gol hanya mampu mencatatkan satu shots on target setelah menit ke-70.

Dampak Klasemen dan Laga Berikutnya

Kemenangan ini membawa Tottenham naik ke posisi ketiga klasemen sementara dengan 71 poin, hanya tertinggal dua angka dari peringkat kedua. Sementara itu, Chelsea harus puas tertahan di posisi kelima dan kehilangan kesempatan untuk memperketat persaingan zona Eropa. Bagi De Zerbi, tiga poin di kandang lawan ini juga menjadi jawaban atas kritik yang sempat mengarah padanya soal konsistensi tim menghadapi lawan-lawan besar.

Jadwal berikutnya tidak memberi ruang bernapas. Tottenham akan menjamu tim papan atas di laga kandang berikutnya, sementara Chelsea harus segera bangkit dalam laga tandang. Satu hal yang pasti: dengan De Zerbi di pinggir lapangan, setiap pertandingan Tottenham layak disaksikan hingga menit akhir — karena keputusan-keputusannya, seperti malam di Stamford Bridge ini, sering kali lahir tepat ketika segalanya tampak berjalan di luar kendali.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
vina-melati

Data Journalist Hukum. Visualisasi data kejahatan dan analisis tren kriminal.

Comments (0)

User