Chicago — KOI Dorong Integrasi Ekosistem Olahraga demi Prestasi dan Pasar

Aula berarsitektur batu bata di jantung Chicago siang itu tidak hanya dihiasi semburat musim panas, melainkan juga riuh diskusi tentang masa depan olahraga

Jul 09, 2026 - 15:45
0 0
Chicago — KOI Dorong Integrasi Ekosistem Olahraga demi Prestasi dan Pasar

Aula berarsitektur batu bata di jantung Chicago siang itu tidak hanya dihiasi semburat musim panas, melainkan juga riuh diskusi tentang masa depan olahraga Indonesia. Di sela-sela International Visitor Leadership Program (IVLP) yang digelar 18–29 Juni lalu, Ketua Komite Olimpiade Indonesia (KOI) Raja Sapta Oktohari membawa misi besar: menyalakan mesin transformasi agar ekosistem olahraga nasional tak lagi berjalan sendiri-sendiri, melainkan terintegrasi—dan menciptakan nilai ekonomi yang berlipat.

Okto tidak sendiri. Bersama sembilan delegasi NOC Indonesia—termasuk Bendahara Tommy Hermawan Lo, anggota Komite Eksekutif Josephine Tampubolon, Krisna Bayu, dan Greysia Polii, serta jajaran strategis lainnya—ia menjadikan program pertukaran Departemen Luar Negeri AS itu sebagai laboratorium kebijakan. Targetnya satu: menyatukan rantai pembinaan, pendanaan, hingga komersialisasi olahraga menjadi sebuah ekosistem tunggal yang bernilai ekonomi tinggi.

Mengapa Integrasi Jadi Kunci Ekonomi Olahraga

Selama ini, industri olahraga Indonesia beroperasi secara fragmentatif. Federasi, klub, sponsor, media, dan sektor publik bergerak di silo masing-masing sehingga potensi nilai tambah—mulai dari hak siar, sponsorship, hingga sport tourism—belum terekstraksi optimal. Padahal, data global dari Statista menunjukkan bahwa pasar olahraga dunia akan menyentuh USD680 miliar pada 2028, dengan Asia Pasifik menjadi kawasan dengan pertumbuhan tertinggi kedua. Indonesia, dengan populasi lebih dari 270 juta dan tingkat penetrasi digital yang masif, semestinya bisa mengambil porsi besar dari kue itu.

“Kita tidak bisa lagi bicara prestasi tanpa bicara ekonomi. Ekosistem yang solid akan menciptakan efek pengganda: pembinaan atlet yang lebih terjamin, investasi swasta yang lebih percaya diri, dan pada akhirnya, medali yang menghadirkan devisa dari branding global,” ujar Oktohari dalam wawancara khusus dengan Beritainti selepas sesi IVLP.

Pernyataan tersebut bukan tanpa dasar kuantitatif. Di Indonesia, kontribusi olahraga terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) memang belum dihitung secara spesifik oleh Badan Pusat Statistik, tetapi sejumlah riset independen memperkirakan nilainya setara 1,5–2% dari PDB sektor ekonomi kreatif. Jika integrasi berjalan, angka itu bisa melonjak seiring masuknya investasi di bidang sport-tech, pusat pelatihan, dan penyelenggaraan mega event.

Belajar dari Model Amerika

Partisipasi delegasi KOI dalam IVLP bukan sekadar kunjungan diplomatik. Mereka menyerap bagaimana Amerika Serikat menjadikan olahraga sebagai industri bernilai miliaran dolar, di mana liga profesional seperti NFL dan NBA menjadi entitas bisnis yang sahamnya diperdagangkan secara privat dengan valuasi fantastis. Model pengelolaan franchise, sistem draf yang terstruktur, dan mekanisme revenue sharing antar-pemain dipelajari sebagai template adaptif.

Tara Talitha, Project Strategist NOC Indonesia, menyebut bahwa pendekatan AS dalam membangun supply chain bakat—dari kampus hingga liga profesional—adalah kunci. “Mereka menciptakan pasar yang transparan bagi atlet, sekaligus menjamin keuntungan ekonomi bagi semua pemangku kepentingan,” katanya. Hal ini kontras dengan realitas Indonesia, di mana database atlet dan mekanisme scouting masih sporadis.

Dampak bagi Industri Nasional

Langkah KOI menuju integrasi akan langsung menyentuh tiga simpul ekonomi: pembiayaan, komersialisasi, dan pariwisata olahraga. Dari sisi pembiayaan, kolaborasi antara pemerintah, BUMN, dan sektor swasta bisa dikelola melalui dana abadi olahraga yang diinvestasikan secara profesional, mirip sovereign wealth fund mini. Di sektor komersial, integrasi memungkinkan pemegang hak siar memperoleh akses data pertandingan dan profil atlet yang terstandarisasi—sehingga menarik lebih banyak pengiklan.

Adapun pariwisata olahraga, yang menurut UNWTO bernilai USD800 miliar secara global per tahun, bisa menjadi kendaraan baru. “Bayangkan jika kita bisa rutin menggelar kejuaraan dunia di Mandalika atau Danau Toba, lengkap dengan ekosistem akomodasi dan transportasi yang terkoneksi,” ujar Cresida Mariska, Wakil Sekretaris Jenderal KOI. Efek berantainya jelas: peningkatan okupansi hotel, penjualan UMKM, hingga devisa dari wisatawan mancanegara.

Fakta kunci: Indonesia mencatat lebih dari 5 juta kunjungan wisatawan asing bertema olahraga pada 2024, namun sebagian besar masih terserap oleh Bali sebagai destinasi pasif. Integrasi ekosistem bisa menyebarkan potensi itu ke berbagai daerah.

Prospek ke Depan

Rencana aksi pasca-IVLP telah disusun, termasuk penyelarasan data antar-federasi dan pembentukan unit bisnis strategis di bawah KOI. Jika berhasil, integrasi ini tidak hanya memperbesar peluang medali di Olimpiade—mimpi yang membara di dada setiap atlet—tetapi juga menjadikan olahraga sebagai sektor penopang pemulihan ekonomi nasional. Sebab, dalam perspektif bisnis, setiap detik tayangan olahraga adalah saham, dan Indonesia belum sepenuhnya mencairkan asetnya di bursa global.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User