Buya Hamka Tunjukkan Keteladanan Toleransi Hadapi Adiknya yang Menjadi Pendeta

Kisah sejarah keluarga ulama besar Indonesia, Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah atau yang lebih dikenal sebagai Buya Hamka, menyimpan dinamika sosiol

Sep 10, 2026 - 00:07
0 0
Buya Hamka Tunjukkan Keteladanan Toleransi Hadapi Adiknya yang Menjadi Pendeta

Kisah sejarah keluarga ulama besar Indonesia, Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah atau yang lebih dikenal sebagai Buya Hamka, menyimpan dinamika sosiologis dan teologis yang mendalam. Di balik kepemimpinannya sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama dan tokoh sentral Muhammadiyah, Buya Hamka memiliki adik kandung berlainan ibu bernama Abdul Wadud Karim Amrullah (akrab disapa Awka atau Willy Amrullah) yang memilih jalan hidup berbeda dengan memeluk agama Kristen dan melayani sebagai pendeta di Amerika Serikat.

Kronologi Perjalanan Abdul Wadud ke Amerika Serikat

Perjalanan spiritual dan perpindahan keyakinan Awka tercatat melalui serangkaian fase hidup yang panjang dan penuh dinamika personal:

  1. Dekade 1960-an: Abdul Wadud merantau ke Amerika Serikat untuk menempuh pendidikan serta bekerja, di mana ia kemudian menetap di California dan menikahi perempuan asal Amerika Serikat, Vera Ellen George.
  2. Tahun 1977: Awka secara resmi menerima sakramen baptis dan berpindah keyakinan menjadi Kristen, sebuah keputusan personal yang mengubah arah perjalanan hidupnya secara fundamental.
  3. Dekade 1980-an: Setelah mendalami teologi Kristen, Abdul Wadud ditahbiskan menjadi seorang pendeta dan mendedikasikan hidupnya melayani jemaat berbahasa Indonesia di California hingga akhir hayatnya.

Respons Buya Hamka dan Nilai Kemanusiaan

Ketika kabar perpindahan agama adiknya sampai ke tanah air, publik mengira hubungan persaudaraan mereka akan retak mengingat posisi Hamka sebagai figur otoritas Islam tertinggi saat itu. Namun, Buya Hamka justru merespons situasi tersebut dengan kedewasaan spiritual dan kehangatan persaudaraan yang luar biasa.

"Perbedaan keyakinan tidak serta-merta memutus tali persaudaraan darah. Keimanan adalah urusan personal hamba dengan Tuhannya, sementara silaturahmi adalah kewajiban akhlak antarsesama manusia," tutur Buya Hamka dalam berbagai catatan refleksi keluarganya.

Ketika Awka kembali berkunjung ke Jakarta, Buya Hamka menyambutnya di rumah dengan penuh kasih sayang tanpa memperdebatkan perbedaan dogma secara konfrontatif. Sikap ini menjadi rujukan sosiologis penting mengenai bagaimana nilai toleransi dipraktikkan secara riil di ranah domestik oleh seorang ulama karismatik.

Ikhtisar Perjalanan Hidup Dua Saudara

Tabel berikut merangkum profil singkat kedua tokoh dalam dinamika keluarga besar Haji Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul):

Aspek Komparasi Buya Hamka (Abdul Malik) Willy Amrullah (Abdul Wadud)
Peran Utama Ketua Umum MUI Pertama, Ulama, Sastrawan Pendeta, Pelayan Jemaat Diaspora
Wilayah Kiprah Indonesia (Nasional & Global) Amerika Serikat (California)
Karya Monumental Tafsir Al-Azhar, Novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck Pelayanan Sosial & Komunitas Kristen Indonesia-AS

Refleksi Keberagaman dalam Konteks Modern

Kisah hubungan antara Buya Hamka dan Abdul Wadud memberikan pelajaran berharga bagi masyarakat kontemporer mengenai batasan antara keteguhan prinsip akidah dan kelembutan interaksi sosial (muamalah). Keteladanan Hamka memperlihatkan bahwa keberagamaan yang matang tidak melahirkan kebencian atau diskriminasi, melainkan mengedepankan dialog etis serta rasa hormat terhadap hak asasi tiap individu dalam menentukan pilihan spiritualnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
citra-maharani

Reporter HAM. Fokus pada isu hak asasi, kebebasan sipil, dan reformasi hukum.

Comments (0)

User