Bursa Calon Presiden FIFA 2027: Lima Nama Mengancam Dominasi Infantino
Skor akhir belum tertulis, tetapi wasit sudah meniup peluit awal untuk pertarungan paling ketat di dunia administrasi sepak bola global. Maret 2027 bakal menjadi matchday penentu ketika kongres FIFA m...
Skor akhir belum tertulis, tetapi wasit sudah meniup peluit awal untuk pertarungan paling ketat di dunia administrasi sepak bola global. Maret 2027 bakal menjadi matchday penentu ketika kongres FIFA memilih pemegang tampuk kekuasaan baru, dan lima kandidat kuat sudah memasuki starting XI bursa pengganti Gianni Infantino. Setelah hampir dua dekade di puncak—termasuk masa Sepp Blatter yang berakhir skandalus—FIFA kembali menghadapi pergantian era yang bisa mengubah formasi kekuasaan sepak bola dunia.
Infantino sendiri masih menyandang ban kapten sejak 2016, namun spekulasi soal ketiadaan dukungan mutlak untuk periode keempat telah membuka celah bagi para penantang. Seperti pertandingan besar yang diwarnai duel taktis, pemilihan presiden FIFA bukan sekadar soal popularitas, melainkan perhitungan suara dari 211 federasi anggota yang tersebar di enam konfederasi. Penguasaan bola dalam konteks ini berarti kontrol terhadap jaringan asosiasi nasional, hak suara dari benua Afrika, Asia, dan Amerika Selatan yang seringkali menjadi kingmaker.
Babak Pertama: Peta Kekuasaan dan Aliansi Konfederasi
Menit ke-23 dari perjalanan menuju 2027, barisan calon sudah terlihat dari siluet politik mereka. UEFA dan CONMEBOL secara tradisional memegang banyak suara berkat basis komersial dan prestasi, namun AFC serta CAF memiliki jumlah federasi terbanyak yang bisa membalikkan arah angin. Kandidat yang ingin meraih clean sheet dalam pemilihan harus memenangkan hati minimal 105 federasi plus satu suara, dan itu tak bisa dicapai tanpa aliansi antar-benua.
Seperti formasi 4-3-3 yang menuntut keseimbangan sayap, para calon harus membangun koalisi yang merentang dari Eropa hingga Oseania. Nama pertama yang kerap disebut adalah Prince Ali bin Al Hussein dari Yordania. Mantan penantang Infantino pada 2015 dan 2016 ini memiliki catatan krusial sebagai reformis yang pernah memimpin perubahan aturan offside teknologi dan transparansi keuangan. Dukungannya dari Asia Barat dan jaringan kerabat kerajaan memberinya assist politik yang signifikan, meski ia harus memperbaiki rekor gol—memenangkan suara—di benua Eropa yang skeptis terhadap elite Timur Tengah.
Kemudian ada figur yang berasal dari lini belakang eksekutif Eropa, Aleksander Čeferin. Presiden UEFA ini sejatinya merupakan bek tengah andalan sepak bola kontinental, namun ia pernah mengeluarkan pernyataan kartu kuning tersendiri soal ambisi ke FIFA. Jika Čeferin berubah haluan dan memutuskan maju, ia akan membawa shots on target berupa infrastruktur finansial Liga Champions dan hubungan kuat dengan federasi-federasi elite Eropa. Namun, kelemahannya adalah basis suara di Afrika dan Asia yang masih menganggap UEFA terlalu dominan dalam pembagian kue komersial.
Babak Kedua: Kandidat dari Luar Eropa yang Siap Cetak Gol
Memasuki menit ke-67, dua figur dari AFC muncul sebagai penyerang tajam yang bisa mencetak hat-trick suara melalui blok Asia-Afrika. Salman bin Ibrahim Al Khalifa, presiden AFC asal Bahrain, adalah operator silir yang paham betul cara kerja mesin politik FIFA. Kepemimpinannya di konfederasi terbesar secara geografis memberinya akses langsung ke puluhan suara Asia, ditambah hubungan diplomatik hangat dengan CAF. Salman bukan tipe pemain yang mencetak gol spektakuler di depan publik, tetapi lebih seperti gelandang pengangkut air yang mengalirkan bola—dalam hal ini dukungan—ke gawang kemenangan secara perlahan tapi pasti.
Di sisi lain, ada nama yang selama ini lebih banyak beroperasi di balik layar: Nasser Al-Khelaifi. Presiden Paris Saint-Germain dan jaringan media beIN Sports ini adalah prototipe administrator modern yang memahami sepak bola sebagai industri hiburan. Kekuatan finansial Qatar dan pengalamannya mengelola klub elite memberinya VAR tersendiri dalam membaca tren bisnis global. Namun, kandidatur Al-Khelaifi berisiko terjebak dalam posisi offside politik akibat isu sentralisasi kekuasaan Timur Tengah dan tuduhan monopoli media yang kerap menghantui namanya. Ia butuh assist dari figur netral untuk membersihkan citra tersebut sebelum Maret 2027 tiba.
Kandidat kelima yang masuk daftar adalah mantan eksekutif Inggris, David Gill. Mantan CEO Manchester United dan wakil presiden UEFA ini adalah tipikal pemain yang tidak pernah mendapat kartu merah selama karier administrasinya. Reputasinya yang bersih di FA dan UEFA menjadikannya opsi aman bagi federasi-federasi kecil yang muak dengan konflik kepentingan. Gill tidak memiliki gol indah dalam bentuk proyek megah, tetapi catatan clean sheet-nya dalam tata kelola keuangan klub dan federasi bisa jadi daya tarik di era yang mendambakan transparansi pasca-skandal FIFA.
Injury Time: Tantangan dan Skenario Menuju Maret 2027
Menjelang penutupan babak reguler, laga pemilihan presiden FIFA masih dipenuhi variabel tak terduga. Infantino belum secara resmi mengibarkan bendera putih, dan jika ia memutuskan bertarung untuk periode berikutnya, semua kalkulasi di atas bisa berubah total. Seperti pertandingan yang memasuki injury time, keputusan menit-menit akhir—termasuk dukungan dari CONCACAF dan OFC—akan menentukan siapa yang mengangkat trofi kekuasaan di kantor pusat Zurich.
Penguasaan bola dalam politik FIFA tidak diukur dari siapa yang paling sering tampil di media, melainkan siapa yang menguasai ruang ganti federasi-federasi kecil. Dari lima nama yang berada di starting XI calon pengganti, tidak ada yang benar-benar unggul mutlak. Prince Ali membawa misi reformasi, Čeferin membawa kekuatan Eropa, Salman membawa blok Asia-Afrika, Al-Khelaifi membawa dana segar, dan Gill membawa tata kelola bersih. Siapapun yang akhirnya berdiri di podium Maret 2027, ia harus mampu membuktikan bahwa skor akhir pemilihannya bukan sekadar kemenangan politik, tetapi juga kemenangan untuk 211 anggota yang menunggu arah baru.
"Pemilihan presiden FIFA adalah laga 90 menit tanpa wasit VAR untuk kesalahan politik. Yang menang bukan yang paling kuat, melainkan yang paling pintar mengalokasikan suara," ujar seorang analisis hubungan internasional sepak bola yang memantau pergerakan kongres FIFA sejak era transisi Blatter.
Dengan jarak masih lebih dari dua tahun, setiap calon memiliki waktu untuk menambah kecepatan di sayap, memperkuat lini tengah aliansi, dan memastikan tidak ada <
Comments (0)