BROMO — 1.096 Siswa SMPK PENABUR Pelajari Budaya Suku Tengger
Sebanyak 1.096 siswa SMPK PENABUR Jakarta diterjunkan langsung ke kawasan lereng Gunung Bromo untuk mengikuti program pembelajaran berbasis pengalaman bert
Sebanyak 1.096 siswa SMPK PENABUR Jakarta diterjunkan langsung ke kawasan lereng Gunung Bromo untuk mengikuti program pembelajaran berbasis pengalaman bertajuk Spirit of Adventure. Berpusat di Desa Tosari, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, kegiatan luar ruang berskala masif ini dirancang untuk memperkenalkan kehidupan sosio-kultural masyarakat adat Suku Tengger sekaligus membentuk ketahanan karakter generasi muda di tengah era digitalisasi.
Langkah institusional ini merefleksikan pergeseran pedagogi modern, di mana pembelajaran kontekstual di luar kelas dinilai lebih efektif dalam menanamkan empati sosial, toleransi, dan kemandirian. Selama program berlangsung, ribuan siswa berinteraksi langsung dengan warga lokal, mengamati sistem pertanian lereng gunung, hingga mendalami kearifan lokal yang telah diwariskan turun-temurun oleh masyarakat Tengger.
Mengintegrasikan Nilai Budaya dan Pendidikan Karakter
Kawasan Bromo tidak hanya diposisikan sebagai destinasi pariwisata alam, melainkan laboratorium sosial yang kaya nilai filosofis. Para siswa diajak memahami bagaimana masyarakat Suku Tengger menjaga keharmonisan antara manusia, alam, dan spiritualitas melalui tradisi leluhur yang teguh dipertahankan.
"Pendidikan abad ke-21 tidak cukup hanya bertumpu pada keunggulan akademis di ruang kelas. Melalui interaksi langsung dengan kearifan lokal Tengger, peserta didik diajak mengasah kepekaan sosial, memahami keberagaman budaya nusantara, serta menumbuhkan resiliensi mental."
Keterlibatan langsung dalam aktivitas harian warga pedesaan memberikan perspektif baru bagi para pelajar metropolitan. Mereka belajar mengenai pola hidup bersahaja, etos kerja agraris, serta struktur sosial masyarakat adat yang menjunjung tinggi gotong royong.
Kronologi dan Rangkaian Agenda Spirit of Adventure
Pelaksanaan program terstruktur ini melalui sejumlah fase pembelajaran yang sistematis guna memastikan capaian edukasi berjalan optimal:
- Fase Orientasi dan Adaptasi Lingkungan: Rombongan siswa tiba di Desa Tosari dan melakukan adaptasi iklim mikro pegunungan serta tata tertib sosial masyarakat adat.
- Eksplorasi Budaya dan Tradisi Adat: Siswa berdialog dengan tokoh masyarakat dan pemuka adat dukun pandita untuk mempelajari kosmologi Tengger serta upacara Yadnya Kasada.
- Aktivitas Lapangan dan Keberlanjutan Ekosistem: Peserta melakukan observasi konservasi alam di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) dan praktik agrikultur terasering.
- Refleksi dan Evaluasi Pembelajaran: Setiap kelompok menyusun laporan komprehensif mengenai pembelajaran nilai hidup, kepemimpinan, dan kerja sama tim.
Dampak Ekonomi dan Penguatan Pariwisata Edukatif
Selain memberikan dampak edukatif bagi siswa, kehadiran 1.096 pelajar beserta tim pendamping turut menggerakkan perekonomian lokal secara signifikan. Sektor akomodasi warga (homestay), penyedia transportasi jip lokal, pemandu wisata, hingga pelaku UMKM kuliner di Desa Tosari mencatatkan peningkatan aktivitas ekonomi yang substansial.
Secara analitis, kolaborasi institusi pendidikan dengan desa wisata berbasis adat ini memperkuat model educational tourism berkelanjutan. Praktik ini membuktikan bahwa pelestarian warisan budaya dapat berjalan selaras dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal tanpa mengorbankan integritas tradisi.
Comments (0)