Bima Gelar Lawata Fashion Week untuk Kenalkan Tenun ke Turis Mancanegara
Pemerintah Kota Bima, Nusa Tenggara Barat, secara resmi menggelar perhelatan budaya bertajuk Lawata Fashion Week guna mempromosikan kain tenun tradisional
Pemerintah Kota Bima, Nusa Tenggara Barat, secara resmi menggelar perhelatan budaya bertajuk Lawata Fashion Week guna mempromosikan kain tenun tradisional khas Mbojo ke panggung internasional. Acara yang dipusatkan di kawasan Pantai Lawata tersebut disambut hangat oleh puluhan wisatawan mancanegara yang disuguhi keindahan gerak Tari Wura Bongi Monca sebagai simbol penyambutan tamu kehormatan.
Perpaduan antara lanskap pesisir Teluk Bima dan kekayaan wastra nusantara menjadi daya tarik utama perhelatan ini. Di tengah dorongan kebangkitan sektor pariwisata daerah, integrasi antara pertunjukan busana dan atraksi budaya lokal dipandang sebagai langkah strategis dalam memperluas penetrasi pasar kerajinan lokal ke kancah global.
Diplomasi Budaya Lewat Wastra Tradisional Mbojo
Kain tenun Bima (Tembe Nggoli dan motif tradisional lainnya) selama berabad-abad menjadi representasi identitas sosial dan filosofi hidup masyarakat Bima. Melalui Lawata Fashion Week, karya para perajin lokal tidak hanya ditampilkan dalam bentuk busana adat tradisional, melainkan juga ditransformasikan menjadi rancangan modern siap pakai yang relevan dengan selera pasar internasional.
"Langkah ini bukan sekadar pameran estetika, melainkan strategi konkret untuk menaikkan kelas tenun Bima agar mampu bersaing di pasar mode etnik global sekaligus mendongkrak pendapatan perajin lokal," ujar perwakilan Dinas Pariwisata Kota Bima di sela-sela perhelatan.
Dalam analisis ekonomi kreatif, pemanfaatan busana tenun sebagai komoditas pariwisata memiliki efek berganda (multiplier effect) yang signifikan. Beberapa faktor pendorong nilai ekonomi tenun Bima meliputi:
- Keaslian Material dan Pewarnaan Alami: Konsistensi perajin mempertahankan serat alami dan pewarna nabati yang kini sangat diminati segmen pasar mode berkelanjutan (sustainable fashion).
- Kompleksitas Motif Geometris: Ragam corak seperti kakando dan bunga satako yang memiliki nilai historis mendalam.
- Pemberdayaan Perempuan: Sebagian besar proses produksi dikerjakan oleh kaum ibu di sentra-sentra tenun rumahan, sehingga berdampak langsung pada ketahanan ekonomi keluarga.
Sinergi Wisata Bahari dan Penguatan UMKM Lokal
Pemilihan Pantai Lawata sebagai lokasi utama mencerminkan upaya pemerintah daerah dalam mengoptimalkan destinasi wisata ikonik. Lawata yang menghadap langsung ke perairan tenang Teluk Bima memberikan latar panggung alami yang memperkuat citra eksotis wastra lokal.
Kunjungan wisatawan mancanegara yang hadir menyaksikan pagelaran ini menjadi momentum penting untuk menguji daya tarik produk lokal secara langsung. Respon positif wisatawan terhadap kelembutan tekstur dan keunikan motif tenun membuka peluang kemitraan ekspor dan perdagangan langsung tanpa perantara.
Tantangan Standardisasi dan Akses Pasar Global
Kendati memiliki potensi besar, ekspansi tenun Bima ke pasar dunia masih dihadapkan pada sejumlah tantangan struktural. Keterbatasan kapasitas produksi massal, fluktuasi pasokan bahan baku benang berkualitas, serta minimnya sertifikasi indikasi geografis masih menjadi pekerjaan rumah bersama.
Pemerintah daerah bersama pemangku kepentingan industri kreatif perlu memperkuat pendampingan desain dan fasilitasi digitalisasi pemasaran bagi para penenun. Dengan demikian, ajang seperti Lawata Fashion Week tidak berhenti sebagai agenda seremonial tahunan semata, melainkan bertransformasi menjadi katalisator ekosistem industri kreatif yang berkelanjutan di Nusa Tenggara Barat.
Comments (0)