Bank Korea Naikkan Suku Bunga Pertama dalam 3,5 Tahun Demi Jinakkan Inflasi
SEOUL — Keputusan mengejutkan mengguncang pasar keuangan Korea Selatan pada Jumat pagi. Bank of Korea (BOK) mengumumkan kenaikan suku bunga acuan sebesar 2
SEOUL — Keputusan mengejutkan mengguncang pasar keuangan Korea Selatan pada Jumat pagi. Bank of Korea (BOK) mengumumkan kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 1,75 persen. Ini adalah kenaikan pertama dalam tiga setengah tahun terakhir — sejak November 2018 — saat ekonomi global bergulat dengan lonjakan harga energi dan pangan pasca-pandemi. Ruang rapat dewan gubernur di Jung-gu, Seoul, mendadak menjadi pusat perhatian para ekonom dan pelaku pasar yang berpacu memperkirakan langkah bank sentral selanjutnya.
Di luar gedung BOK, wartawan berdesakan menunggu pernyataan resmi. Beberapa analis yang hadir tampak terkejut karena sebagian besar prediksi sebelumnya mengarah pada penahanan suku bunga hingga kuartal ketiga. Namun, tekanan inflasi yang terus menanjak — mencapai rekor tertinggi dalam satu dekade — memaksa otoritas moneter untuk bertindak cepat. Gubernur BOK, Rhee Chang-yong, dalam konferensi pers sore itu menegaskan bahwa prioritas utama adalah stabilitas harga.
“Kami tidak bisa lagi menunda penyesuaian. Inflasi inti sudah jauh di atas target 2 persen, dan ekspektasi inflasi masyarakat mulai tidak terkendali. Kenaikan suku bunga ini adalah sinyal bahwa kami serius menjaga daya beli rakyat,” ujar Rhee dengan nada tegas, sesekali menekankan meja di depannya.##
Latar Belakang: Inflasi yang Membandel
Kenaikan harga konsumen di Korea Selatan telah menjadi momok bagi rumah tangga berpenghasilan menengah ke bawah. Data terakhir menunjukkan Indeks Harga Konsumen (IHK) Mei 2022 melonjak 5,4 persen secara tahunan — level tertinggi sejak Agustus 2008. Tekanan utama datang dari sektor energi dan pangan: harga minyak mentah global yang masih tinggi, ditambah gangguan rantai pasok akibat perang Rusia-Ukraina, mendorong biaya transportasi dan bahan pangan impor. Minyak goreng dan tepung terigu menjadi dua komoditas yang paling dikeluhkan ibu rumah tangga di pasar tradisional. Pemerintah sebelumnya telah menggelontorkan subsidi dan pemotongan bea masuk untuk menekan harga, namun efeknya hanya sementara. BOK pun berada di persimpangan: jika terlambat menaikkan suku bunga, inflasi bisa mengakar dan sulit dikendalikan; jika terlalu agresif, risiko memperlambat pemulihan ekonomi pasca-COVID semakin besar. “Ini adalah keputusan yang sangat berat,” kata seorang staf senior BOK yang enggan disebut namanya. ##Dampak Langsung: Beban Rumah Tangga dan Korporasi
Kenaikan suku bunga acuan sebesar 0,25 persen berarti bunga pinjaman bank umum akan ikut naik dalam beberapa pekan ke depan. Bagi masyarakat Korea yang memiliki utang rumah tangga tertinggi di antara negara maju (mencapai 105 persen dari PDB), dampaknya langsung terasa. Premi asuransi cicilan perumahan, kartu kredit, dan pinjaman usaha kecil akan meningkat. Analis memperkirakan konsumsi rumah tangga berpotensi menurun hingga 0,3 persen pada semester kedua tahun ini. Sementara itu, perusahaan menengah dan kecil yang bergantung pada kredit modal kerja juga terpukul. Biaya produksi naik, margin laba menyusut. Namun bagi investor asing, kenaikan suku bunga ini justru membawa angin segar — selisih suku bunga dengan Amerika Serikat yang semakin sempit membuat aset Korea lebih menarik. Indeks KOSPI sempat menguat 1,2 persen pada penutupan perdagangan Jumat. ##Reaksi Pasar dan Analis
Para pelaku pasar bereaksi cepat. Nilai tukar won terhadap dolar AS yang sebelumnya terus tertekan, mendadak menguat sekitar 0,5 persen. Obligasi pemerintah tenor 10 tahun juga naik tipis, menandakan investor mulai memprakirakan siklus pengetatan lebih lanjut. “Ini hanya langkah pertama,” ujar Park Sang-hyun, ekonom utama di HI Investment & Securities.“BOK akan kembali menaikkan suku bunga pada Agustus atau September, mungkin sebesar 25 basis poin lagi. Tergantung data inflasi Juli dan pertumbuhan ekonomi kuartal kedua,” tambah Park dalam wawancara telepon dengan Beritainti.com.Di sisi lain, serikat buruh dan kelompok masyarakat sipil mengkritik kebijakan ini. Mereka menilai kenaikan suku bunga justru memberatkan kaum marjinal yang belum pulih dari pandemi. “Pemerintah seharusnya fokus pada stabilisasi harga melalui intervensi langsung, bukan menaikkan suku bunga yang hanya akan membuat pengangguran bertambah,” ujar Kim Ji-ho, aktivis di Korean Confederation of Trade Unions. ##
Comments (0)