BALI — Jurnalis Gelar Doa Bersama untuk Lima Pewarta Hilang
DENPASAR — Lilin-lilin kecil menyala temaram di tengah keheningan Kota Denpasar, Bali, pada Minggu (13/9/2026). Puluhan wartawan dari bermacam platform med
DENPASAR — Lilin-lilin kecil menyala temaram di tengah keheningan Kota Denpasar, Bali, pada Minggu (13/9/2026). Puluhan wartawan dari bermacam platform media—cetak, televisi, radio, hingga media siber—berkumpul bersama dalam sebuah lingkaran solidaritas. Rasa duka, cemas, dan harapan bercampur menjadi satu ketika doa-doa dipanjatkan untuk keselamatan lima insan pers yang dinyatakan hilang kontak saat menjalankan tugas jurnalistik meliput erupsi dahsyat Gunung Anak Krakatau. Aksi doa bersama di hari keenam pencarian ini menjadi simbol bahwa di balik kompetisi berita, ada rasa persaudaraan yang erat di antara para pemburu informasi.
Peristiwa hilangnya lima wartawan tersebut menjadi sorotan nasional dan memicu keprihatinan mendalam dari berbagai organisasi pers. Mereka hilang kontak sejak awal pekan lalu saat berusaha menyajikan laporan visual serta informasi terkini dari zona paling terdampak aktivitas vulkanik. Kehadiran jurnalis di medan bahaya kerap menjadi satu-satunya mata dan telinga bagi publik, namun risiko yang membayangi pekerjaan ini kerap membayar harga yang sangat mahal.
Menelusuri Kronologi dan Pelik Peliputan di Zona Merah
Berdasarkan informasi yang dihimpun, komunikasi terakhir dengan kelima awak media terjadi pada Selasa lalu saat Gunung Anak Krakatau mengalami peningkatan aktivitas erupsi secara drastis dengan melontarkan abu vulkanik hingga ribuan meter ke udara. Hingga saat ini, proses pencarian telah memasuki hari keenam—atau lebih dari 144 jam hilang kontak—tanpa adanya tanda-tanda keberadaan yang jelas dari kelima jurnalis tersebut. Tim SAR Gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI AL, Polri, dan relawan lokal terus berjibaku menembus cuaca buruk serta gelombang tinggi di sekitar perairan Selat Sunda.
Analisis di lapangan menunjukkan bahwa dinamika erupsi gunung api laut memiliki tingkat risiko yang sangat sulit diprediksi. Lontaran material pijar, ancaman gelombang tsunami sekunder, hingga gas beracun merupakan ancaman nyata bagi siapa pun yang mendekati zona bahaya tersebut tanpa peralatan mitigasi memadai.
"Peliputan bencana bukanlah misi bunuh diri. Namun ketika panggilan tugas memanggil untuk menyampaikan realitas kebencanaan kepada publik, garis batas antara keselamatan pribadi dan profesionalisme kerap menjadi sangat tipis," tegas I Made Suardana, koordinator aksi solidaritas jurnalis di Bali.
Evaluasi Protokol Keselamatan dan Tantangan Perusahaan Pers
Tragedi ini memicu diskursus kritis mengenai standar operasional prosedur (SOP) peliputan di wilayah berisiko tinggi (*high-risk coverage*). Banyak pihak menilai bahwa edukasi keselamatan dan penyediaan Alat Pelindung Diri (APD) standar kebencanaan masih belum merata di kalangan pekerja media Indonesia.
| Aspek Mitigasi | Kondisi Peliputan Umum | Standar Ideal Peliputan Kebencanaan |
|---|---|---|
| Peralatan Pelindung | Masker standar, helm seadanya | Respirator gas, helm standar industri, rompi pelampung khusus |
| Komunikasi Darurat | Telepon seluler biasa (rentan hilang sinyal) | Telepon satelit dan suar lokasi darurat (EPIRB/PLB) |
| Asuransi & Training | Sering kali tidak memadai | Asuransi risiko tinggi & pelatihan Hostile Environment Awareness |
Penataan regulasi keselamatan peliputan harus menjadi prioritas utama manajemen media. Perusahaan pers bertindak tidak hanya sebagai penyedia sarana kerja, tetapi juga penanggung jawab utama keselamatan jiwa wartawan yang ditugaskan di lapangan ekstrem.
Harapan pada Tim SAR dan Kepedulian Kolektif
Komunitas jurnalis di Bali dalam pernyataan resminya mendesak agar pemerintah dan instansi terkait terus memaksimalkan seluruh sumber daya yang ada. Penggunaan teknologi terkini seperti drone pemindai suhu tubuh (thermal) serta perluasan radius pemantauan udara sangat diharapkan dapat membuahkan hasil dalam waktu dekat.
Doa bersama yang digelar di Bali hanyalah salah satu dari gelombang solidaritas yang mengalir di seluruh tanah air. Di balik krisis ini, harapan tetap menyala agar kelima jurnalis dapat ditemukan dalam keadaan selamat dan kembali berkumpul bersama keluarga serta kawan sejawat mereka.
Comments (0)