Badung Tangani Krisis Air Enam Subak di Kecamatan Petang
Dinamika iklim dan penurunan debit air irigasi kembali menekan sektor pertanian di wilayah hulu Kabupaten Badung. Sebanyak enam kawasan subak di Kecamatan
Dinamika iklim dan penurunan debit air irigasi kembali menekan sektor pertanian di wilayah hulu Kabupaten Badung. Sebanyak enam kawasan subak di Kecamatan Petang dilaporkan mengalami krisis pasokan air, memicu ancaman gagal tanam bagi para petani lokal yang menggantungkan produktivitas lahannya pada aliran irigasi permukaan.
Kondisi defisit air ini menimpa Subak Bergiding, Subak Penglumbaran, Subak Buangga, serta Subak Babakan Bengkel I, II, dan III. Wilayah hilir menjadi zona paling rentan akibat ketimpangan distribusi air irigasi yang kian menyusut sejak beberapa pekan terakhir.
Distribusi Hilir Terhambat Debit Terbatas
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Kabupaten Badung, Anak Agung Ngurah Raka Sukadana, mengungkapkan bahwa hambatan struktural utama terletak pada kapasitas aliran yang tidak mampu menjangkau ujung petak persawahan. Ketidakseimbangan antara volume pasokan hulu dan kebutuhan di hilir memperparah kondisi tanaman padi yang membutuhkan suplai konstan.
“Yang terdampak terutama lahan pertanian di bagian hilir karena debit dan distribusi air irigasi terbatas,” terang Raka Sukadana saat memaparkan evaluasi lapangan.
Secara agroklimat, kawasan Petang memegang peranan krusial sebagai lumbung pangan dan daerah tangkapan air. Terganggunya ekosistem irigasi tradisional subak di kawasan ini tidak hanya memengaruhi stabilitas ekonomi rumah tangga petani, tetapi juga mengancam rantai ketahanan pangan daerah jika tidak diintervensi dengan kebijakan mitigasi yang terukur.
Strategi Darurat dan Koordinasi Antar-Subak
Menghadapi risiko penurunan hasil panen, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Badung segera merancang operasi penanganan cepat. Pendekatan sosiokultural diterapkan melalui mediasi antar-pekaseh untuk mengatur giliran pasokan air secara lebih adil.
Langkah taktis yang ditempuh pemerintah daerah mencakup sejumlah instrumen operasional:
- Manajemen Pembagian Aliran: Melakukan koordinasi intensif bersama Pekaseh Subak Batulantang dan Subak Bukit guna membagi kuota debit air secara bergilir menuju subak terdampak.
- Mobilisasi Pompa Darurat: Pengadaan unit pompa air portabel beserta dukungan biaya operasional bahan bakar guna menyedot sumber air terdekat.
- Penyaluran Armada Tangki: Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Badung mengerahkan tiga unit truk tangki air langsung ke petak-petak persawahan kritis.
“Sebanyak tiga truk tangki disiapkan untuk mendistribusikan air ke areal pertanian yang mengalami kekurangan pasokan,” tambah Raka Sukadana mengonfirmasi langkah sinergis lintas instansi tersebut.
Mitigasi Jangka Panjang Berbasis Air Tanah
Mengandalkan pasokan air permukaan yang fluktuatif di tengah anomali cuaca menuntut solusi jangka panjang yang lebih resilien. Oleh karena itu, Disperpa Badung bersama instansi teknis tengah mematangkan rencana diversifikasi sumber air melalui eksplorasi air tanah dalam.
Proyek percontohan direncanakan menyasar pembuatan sumur bor di kawasan Munduk Beng, Subak Buangga, Desa Getasan. Langkah ini diharapkan mampu menjadi penyangga hidrologis saat debit sungai menyusut ekstrem pada masa mendatang.
Kajian hidrogeologi lanjutan tengah disiapkan untuk membuka peluang pembangunan sumur bor di titik-titik rawan kekeringan lainnya di Petang. Sinergi antara kearifan lokal sistem kelembagaan subak dan infrastruktur modern diharapkan mampu menjaga ketahanan sektor pertanian Bali dari ancaman krisis iklim yang semakin nyata.
Comments (0)