Atlet Pelatnas Joaquin Alami Gangguan Produktivitas Usai Portugal Tersingkir dari Piala Dunia 2026
JAKARTA — Performa atlet nasional tidak hanya ditentukan oleh kondisi fisik, tetapi juga kestabilan emosi yang berdampak langsung pada produktivitas latiha
Kronologi: Dari Ponsel hingga Lapangan Latihan
Rangkaian peristiwa yang memengaruhi kondisi psikologis Joaquin berlangsung singkat namun signifikan terhadap program latihan hariannya di Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) PBSI, Cipayung.- Pukul 02.00 WIB — Pertandingan babak 16 besar Piala Dunia 2026 antara Portugal melawan Spanyol digelar. Joaquin memilih tidak menonton langsung karena jadwal latihan pagi yang padat.
- Pukul 05.00 WIB — Joaquin terbangun dan langsung memeriksa ponsel untuk mengetahui hasil pertandingan. Ia mendapati Portugal kalah dari Spanyol. Respons spontannya adalah kembali tidur sebagai bentuk pelarian emosional singkat.
- Pukul 07.00 WIB — Sesi latihan pagi dimulai. Namun, kondisi psikologis Joaquin belum sepenuhnya pulih. Suasana hati yang menurun akibat memikirkan kekalahan Portugal berdampak pada intensitas latihan, meskipun ia tetap menjalankan program dari pelatih.
Dampak Psikologis pada Produktivitas Atlet
Joaquin mengakui bahwa hari itu ia menjalani latihan dengan semangat yang menurun. Dalam ekonomi olahraga, kondisi ini dikenal sebagai emotional distraction cost, yakni penurunan output latihan akibat gangguan emosional non-teknis. Sebagai atlet ganda putra yang sedang dipersiapkan untuk turnamen internasional, setiap sesi latihan memiliki nilai investasi tinggi—baik dari segi biaya operasional pelatnas, intensitas pembinaan, maupun peluang prestasi yang dipertaruhkan."Saat latihan pagi ya kurang mood gara-gara mikirin Portugal," ujar Joaquin saat ditemui di Pelatnas PBSI, Cipayung, Rabu (8/7/2026). Ia menegaskan bahwa dukungannya terhadap Portugal muncul karena mengidolakan Cristiano Ronaldo, kapten sekaligus ikon tim nasional tersebut. Namun, Joaquin menilai tingkat kefanatikan yang ia miliki tidak separah rekan sepelatnasnya, Alwi Farhan, yang sebelumnya menyatakan kesedihan mendalam setelah Ronaldo gagal membawa Portugal melaju lebih jauh.
"Tapi saya enggak sesedih Alwi sih. Alwi memang keren, dia mengidolakan Ronaldo banget. Kalau saya suka karakternya Ronaldo, cuma saya enggak kayak Alwi, enggak sefanatik dia," jelas Joaquin. Perbandingan ini menunjukkan adanya ragam tingkat keterikatan emosional atlet terhadap figur publik, yang berpotensi memengaruhi konsistensi performa di lapangan.
Comments (0)