Argentina Menang Adu Penalti, Scaloni Cium Messi di Final Piala Dunia

Skor akhir 4-2 untuk Argentina atas Prancis dalam adu penalti di Stadion Lusail Iconic, Minggu 18 Desember 2022, tidak sekadar menobatkan juara baru. Malam itu, satu gambar bergerak melampaui semua st...

Jul 27, 2026 - 23:50
0 0
Argentina Menang Adu Penalti, Scaloni Cium Messi di Final Piala Dunia

Skor akhir 4-2 untuk Argentina atas Prancis dalam adu penalti di Stadion Lusail Iconic, Minggu 18 Desember 2022, tidak sekadar menobatkan juara baru. Malam itu, satu gambar bergerak melampaui semua statistik: Lionel Scaloni, arsitek muda berusia 44 tahun, mendekap erat Lionel Messi dan mencium pelipis sang kapten. Sebuah gestur yang merangkum perjalanan emosional, taktik brilian, dan ikatan personal yang membawa La Albiceleste mengakhiri puasa gelar selama 36 tahun.

Babak Pertama: Argentina Memperlihatkan Penguasaan Total

Sejak peluit awal dibunyikan oleh wasit Szymon Marciniak, Argentina tampil dengan formasi 4-3-3 fleksibel yang berubah menjadi 4-4-2 saat kehilangan bola. Menit ke-23, Ángel Di María menusuk dari sektor kiri, menusuk jantung pertahanan Prancis, lalu dijatuhkan oleh Ousmane Dembélé di kotak terlarang. Wasit menunjuk titik putih setelah memeriksa VAR. Lionel Messi maju sebagai eksekutor dan dengan dingin memperdaya Hugo Lloris, menempatkan bola ke pojok kanan bawah. Skor 1-0. Itu adalah gol keenam Messi di Qatar 2022, menyamai catatan Mario Kempes pada 1978.

Dominasi Argentina tidak berhenti. Menit ke-36, sebuah serangan balik cepat yang dimotori oleh Alexis Mac Allister menghasilkan assist brilian untuk Di María. Menerima umpan terukur dari Mac Allister, Di María melepaskan tendangan first-time melengkung dari luar kotak penalti yang bersarang telak di sudut kiri gawang Lloris. Gol spektakuler itu membuat Lusail bergemuruh. Statistik babak pertama menunjukkan Argentina memegang penguasaan bola 59% dengan 6 shots on target, sementara Prancis nol shots on target. Les Bleus sama sekali tidak berdaya; Didier Deschamps bahkan melakukan dua pergantian pemain sebelum babak pertama usai, menarik Olivier Giroud dan Dembélé keluar, sebuah langkah langka yang menggambarkan betapa kacaunya timnya.

Babak Kedua: Kebangkitan Mbappé dan Drama Epik

Masuk ke babak kedua, Prancis mengganti formasi menjadi 4-1-4-1 dengan memasukkan Randal Kolo Muani dan Kingsley Coman. Namun tetap saja Argentina yang lebih mengancam. Hingga kemudian, menit ke-80, semuanya berubah. Kolo Muani dijatuhkan oleh Nicolás Otamendi di kotak penalti. Penalti untuk Prancis. Kylian Mbappé, yang sepanjang turnamen menjadi mesin gol, mengeksekusi dengan keras ke kiri Emiliano Martínez. Skor 1-2. Belum selesai perayaan, hanya 97 detik kemudian, Mbappé kembali mencetak gol lewat tendangan voli akrobatik menyambut umpan silang Marcus Thuram. Skor 2-2. Dalam dua menit, Mbappé membalikkan keadaan dan mengirim pertandingan ke extra time. Statistik pergerakan menunjukkan Mbappé mencatat kecepatan puncak 35,3 km/jam malam itu, menjadi pemain tercepat di atas lapangan.

Extra Time dan Adu Penalti yang Menentukan

Di babak tambahan, Argentina kembali unggul. Menit ke-108, Messi mencatatkan brace setelah sepakannya dari jarak dekat memantul ke gawang, meskipun bek Jules Koundé berusaha menyapu bola. Wasit mengesahkan gol setelah teknologi garis gawang mengonfirmasi bola telah melewati garis sepenuhnya. Skor 3-2. Tapi drama belum usai. Menit ke-118, tendangan Gonzalo Montiel mengenai lengan Kolo Muani di kotak penalti. Wasit kembali menunjuk titik putih, dan Mbappé menyelesaikan hat-trick-nya untuk membawa skor menjadi 3-3. Momen itu mencatatkan Mbappé sebagai pemain kedua dalam sejarah final Piala Dunia yang mencetak tiga gol, setelah Geoff Hurst pada 1966.

Adu penalti pun digelar. Emiliano Martínez, spesialis penalti yang sebelumnya juga menjadi pahlawan di semifinal melawan Belanda, kembali menunjukkan kualitasnya. Ia menepis tendangan Kingsley Coman dan membaca arah bola Paulo Dybala dengan sempurna. Sementara itu, eksekutor Argentina: Messi, Dybala, Leandro Paredes, dan Montiel sukses menjalankan tugas. Montiel menjadi penentu kemenangan, mengirim Lloris ke arah yang salah dan memastikan skor akhir 4-2 dalam adu penalti. Argentina menjadi juara dunia untuk ketiga kalinya.

Ciuman Scaloni: Simbol Hubungan Unik Pelatih dan Kapten

Di tengah perayaan, semua lensa kamera tertuju pada satu momen intim: Lionel Scaloni memeluk Lionel Messi dari belakang, lalu mencium kening sang megabintang. Gestur itu langsung menjadi ikon karena merepresentasikan lebih dari sekadar hubungan pelatih-pemain. Scaloni, yang ditunjuk pada 2018 sebagai pelatih sementara setelah pengalaman minim, membangun tim yang berpusat pada Messi, bukan hanya dalam taktik, tetapi sebagai pemimpin emosional. Ia kerap menyebut dirinya sebagai "asisten" para pemain, dan malam itu terbukti.

Scaloni menjadi pelatih termuda ketiga yang memenangi Piala Dunia, setelah Alberto Suppici (Uruguay 1930) dan César Luis Menotti (Argentina 1978). Ia menyusun starting XI yang tidak bergantung pada nama besar, melainkan pada sistem kolektif: Mac Allister, Enzo Fernández, dan Julián Álvarez menjadi pilar tak terduga. Pelukan dan ciuman itu menutup kritik terhadap Messi yang sempat dianggap gagal membawa Argentina ke puncak. Kini, perdebatan GOAT (Greatest of All Time) menemukan babak baru — sebuah diskusi yang kini lebih sulit dibantah.

Data dan Statistik Kunci Laga Final

Untuk memahami sepenuhnya bagaimana Argentina memenangi laga ini, statistik menjadi fondasi objektif:

Penguasaan Bola: Argentina 54% — 46% Prancis.
Total Shots: Argentina 20 — 11 Prancis.
Shots on Target: Argentina 10 — 7 Prancis.
Kartu Kuning: Argentina 4 (Fernández, Acuña, Paredes, Montiel) — Prancis 2 (Rabiot, Thuram).
Offside: Argentina 4 — Prancis 4.
Operan Sukses: Argentina 511 (akurasi 84%) — Prancis 388 (akurasi 79%).
Rating Individu Tertinggi: Lionel Messi (9.2), Kylian Mbappé (9.1), Emiliano Martínez (8.8).

Messi menyelesaikan turnamen dengan 7 gol dan 3 assist, menjadi pemain pertama dalam sejarah yang mencetak gol di babak grup, 16 besar, perempat final, semifinal, dan final Piala Dunia dalam satu edisi. Sementara itu, Mbappé menjadi top skorer dengan 8 gol, mengukuhkan dirinya sebagai penerus takhta yang menunggu giliran.

Malam di Lusail tidak hanya melahirkan juara, tetapi juga mengajarkan bahwa sepak bola, pada akhirnya, adalah tentang ikatan manusia. Sepotong ciuman di pelipis menjadi metafora sempurna: Anda bisa mengambil semua statistik, tetapi gelar ini dibangun di atas kepercayaan — dari seorang pemuda yang tidak dikenal hingga menjadi arsitek abadi, dan seorang genius yang akhirnya pulang membawa cahaya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User