Argentina Juara Piala Dunia 2026 Usai Bungkam Spanyol 3-2
Skor akhir 3-2 untuk Argentina. Stadion New York/New Jersey di East Rutherford berubah menjadi lautan biru-putih pada 20 Juli 2026 ketika Lionel Messi menuntaskan gol kemenangan di menit ke-90+4 melal...
Skor akhir 3-2 untuk Argentina. Stadion New York/New Jersey di East Rutherford berubah menjadi lautan biru-putih pada 20 Juli 2026 ketika Lionel Messi menuntaskan gol kemenangan di menit ke-90+4 melalui tendangan bebas yang melengkung indah ke sudut kiri gawang Unai Simón. Dari tribun VIP, Ketua Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA), Claudio Tapia, yang sejak sebelum kick-off terlihat memberi isyarat penuh keyakinan ke arah bangku cadangan tim, melompat dan memeluk para ofisial begitu peluit panjang berbunyi. Gelar ini menjadi trofi Piala Dunia ketiga dalam sejarah La Albiceleste setelah edisi 1978 dan 2022.
Laga final kali ini mempertemukan dua sekolah sepak bola terbaik dunia dalam duel taktik yang berlangsung sengit sejak menit pertama. Spanyol datang dengan status juara bertahan Euro dan rekor tak terkalahkan terpanjang di turnamen, sementara Argentina membawa skuad yang nyaris seluruhnya merupakan sisa-sisa generasi emas edisi Qatar. Pertandingan yang disaksikan lebih dari 82 ribu penonton itu berjalan sesuai ekspektasi: penguasaan bola Spanyol yang dominan melawan efisiensi serangan balik Argentina.
Babak Pertama: Duel Gengsi Dua Sekolah Sepak Bola
Luis de la Fuente menurunkan starting XI dengan formasi 4-3-3 khas Spanyol, mengandalkan trio gelandang untuk mengendalikan ritme permainan. Scaloni menjawab dengan formasi 4-4-2 berbentuk berlian, memadukan kecepatan Julián Álvarez dan Lautaro Martínez di lini depan dengan jangkauan operan Enzo Fernández di lini tengah. Menit ke-12, Spanyol membuka keunggulan. Umpan terobosan Pedri menembus garis pertahanan Argentina, lalu Lamine Yamal melepaskan tendangan kaki kiri yang tak mampu dihalau Emiliano Martínez. Gol sempat diperiksa VAR selama dua menit karena dugaan posisi offside Yamal, namun keputusan akhir menyatakan gol sah. Skor menjadi 1-0.
Argentina tidak menunggu lama untuk merespons. Menit ke-28, kombinasi cepat di sisi kanan berujung umpang silang Enzo Fernández yang diselesaikan Julián Álvarez dengan sontekan pertama ke tiang dekat. Assist Enzo Fernández tercatat sebagai assist keenamnya di turnamen ini, menyamai rekor assist terbanyak dalam satu edisi Piala Dunia. Skor imbang 1-1. Penguasaan bola babak pertama berpihak ke Spanyol dengan 58 persen berbanding 42 persen, namun Argentina lebih efisien dengan empat shots on target berbanding tiga milik lawan. Menit ke-45+2, tepat sebelum turun minum, Yamal kembali mencetak gol keduanya lewat skema serangan balik cepat yang dimulai dari kaki Nico Williams. Spanyol unggul 2-1 dan membawa keunggulan itu ke ruang ganti, dengan Cristian Romero harus menerima kartu kuning karena pelanggaran keras kepada Rodri.
Babak Kedua: Keputusan Berani Scaloni dan Momen Messi
Scaloni membuat perubahan drastis saat turun minum: mengganti Di María dengan Nicolás González dan menggeser Messi ke posisi playmaker bebas di belakang dua penyerang. Keputusan ini mengubah wajah permainan Argentina. Menit ke-58, Messi melepaskan tendangan pojok akurat yang disambut sundulan keras Lautaro Martínez di tiang dekat. Skor berubah 2-2 dan assist keempat Messi di Piala Dunia ini tercatat resmi. Momentum sepenuhnya berpihak ke Argentina ketika Spanyol harus bermain dengan sepuluh pemain di menit ke-74 setelah Rodri menerima kartu kuning kedua akibat tekel terlambat kepada Alexis Mac Allister.
Dengan keunggulan jumlah pemain, Argentina menekan habis-habisan. Spanyol bertahan dalam formasi 4-4-1 yang rapat, sementara Unai Simón tampil gemilang dengan tiga penyelamatan krusial. Menit ke-90+4, segalanya berubah. Pelanggaran Fabián Ruiz kepada Julián Álvarez di jarak 24 meter dari gawang memberi Argentina tendangan bebas terakhir. Messi, yang sudah mencetak enam gol di turnamen ini, berdiri di belakang bola dengan sorak sorai 82 ribu penonton memenuhi stadion. Eksekusinya melengkung melewati pagar betis Spanyol dan bersarang tepat di sudut kiri gawang. Gol tanpa assist itu menjadi gol ke-30 Messi di pentas Piala Dunia, memecahkan rekor sepanjang masa, sekaligus mengunci skor akhir 3-2.
Analisis Statistik dan Kata-kata Pelatih
Statistik akhir pertandingan memperlihatkan betapa tipisnya jarak kedua tim. Penguasaan bola dimenangi Spanyol dengan 53 persen, tetapi Argentina unggul dalam shots on target dengan 7 berbanding 5. Argentina juga lebih efisien dalam konversi peluang, mencetak tiga gol dari 12 percobaan, sementara Spanyol membutuhkan 16 tembakan untuk dua gol. Dari sisi disiplin, Spanyol menerima dua kartu kuning dan satu kartu merah, sedangkan Argentina hanya satu kartu kuning. Catatan offside cukup tinggi: empat kali Argentina dan tiga kali Spanyol terjebak garis pertahanan lawan.
“Kami tahu Spanyol akan menguasai bola selama berjam-jam jika dibiarkan. Kuncinya adalah kesabaran, disiplin posisi, dan memanfaatkan setiap peluang kecil,” kata Scaloni dalam konferensi pers seusai laga. “Para pemain menjalankan instruksi dengan sempurna, dan Messi kembali membuktikan bahwa ia adalah pemain terbaik yang pernah ada.” Sementara itu, Tapia, yang isyarat-isyaratnya sebelum kick-off sempat menjadi perbincangan di media sosial, menegaskan bahwa kemenangan ini adalah buah dari pembinaan berkelanjutan AFA. “Ini bukan kebetulan. Ini hasil dari kerja bertahun-tahun, dari akademi hingga tim senior,” ujarnya. Bagi Argentina, pesta di East Rutherford baru saja dimulai, dan nama Messi akan selamanya terukir di kalender sepak bola dunia.
Comments (0)