Argentina Juara Piala Dunia 2026, Tumbangkan Spanyol 3-2 di Final
Skor akhir: Argentina 3-2 Spanyol. Albiceleste resmi menyabet gelar juara Piala Dunia 2026 usai memenangi final penuh drama di Stadion New York/New Jersey, East Rutherford, Minggu (20/7/2026). Gol lar...
Skor akhir: Argentina 3-2 Spanyol. Albiceleste resmi menyabet gelar juara Piala Dunia 2026 usai memenangi final penuh drama di Stadion New York/New Jersey, East Rutherford, Minggu (20/7/2026). Gol larut Lautaro Martínez pada menit ke-88 menjadi penentu kemenangan, sekaligus memastikan bintang keempat menghiasi dada Argentina. Sementara itu, Spanyol harus merelakan trofi melayang meski tampil dominan dengan penguasaan bola 61 persen berbanding 39 persen.
Statistik mencerminkan betapa ketatnya pertarungan ini. Argentina melepaskan 12 tembakan dengan 6 shots on target, sedangkan Spanyol membukukan 15 percobaan dan 5 yang mengarah ke gawang. La Roja unggul tendangan sudut 8-4, sementara Argentina lebih sering terperangkap offside dengan catatan 3 berbanding 1. Wasit asal Slovenia, Slavko Vincic, mengeluarkan empat kartu kuning sepanjang 90 menit, dan satu tinjauan VAR di babak kedua menjadi titik paling panas pertandingan.
Babak Pertama: Spanyol Menggebrak, Argentina Merespons
La Roja langsung menekan sejak peluit dibunyikan. Skema formasi 4-3-3 besutan Luis de la Fuente mengalirkan bola lewat poros Rodri dan Pedri di lini tengah. Menit ke-9, Mikel Oyarzabal nyaris membuka skor, namun sundulannya masih membentur mistar gawang Emiliano Martínez. Tekanan itu akhirnya berbuah pada menit ke-18: Lamine Yamal menusuk dari sisi kanan, mengirim umpan silang mendatar yang disambar Nico Williams di tiang jauh. 1-0 untuk Spanyol, dengan Yamal mencatatkan assist.
Argentina yang turun dengan starting XI berpola 4-3-3 sempat kesulitan keluar dari pressing tinggi lawan. Namun sang kapten menjawab pada menit ke-34. Lionel Messi menerima bola di antara lini, memutar badan melewati satu pengawal, lalu melepaskan umpan terobosan presisi yang dituntaskan Julián Álvarez melewati Unai Simón. Skor 1-1 bertahan hingga jeda, dengan Rodrigo De Paul menerima kartu kuning menit ke-41 karena menghentikan serangan balik Pedri di tengah lapangan.
Babak Kedua: Drama VAR dan Momen Panas Messi-Cucurella
Interval tidak menurunkan intensitas. Menit ke-61, Enzo Fernández mengirim umpan lambung matang ke jantung kotak penalti dan Messi menyambutnya dengan sepakan first-time ke sudut bawah gawang. Argentina berbalik unggul 2-1. Spanyol merespons cepat: menit ke-74, Dani Olmo menyambar bola muntah hasil umpan Pedri untuk menyamakan kedudukan menjadi 2-2 dan menghidupkan kembali asa La Roja.
Ketegangan memuncak pada menit ke-67 ketika Messi terjatuh di kotak terlarang setelah berduel dengan bek kiri Spanyol bernomor punggung 24, Marc Cucurella. Vincic memilih melanjutkan permainan, memicu protes keras dari kubu Albiceleste. Enzo Fernández terlihat berdebat sengit dengan sang pengadil di tengah lapangan, sementara Messi menunjuk ke arah Cucurella sembari menuntut tinjauan. VAR sempat memeriksa insiden tersebut, namun keputusan akhir menyatakan bukan penalti. Cucurella akhirnya diganjar kartu kuning pada menit ke-79 setelah menjegal Messi saat Argentina melancarkan serangan balik.
Titik balik datang dua menit jelang waktu normal berakhir. Menit ke-88, Messi — yang malam itu mengemas satu gol dan dua assist — mengirim umpan silang rendah yang disontek Lautaro Martínez, supersub yang masuk menggantikan Thiago Almada pada menit ke-70. Bola bersarang di pojok gawang Unai Simón. 3-2, dan tribun East Rutherford meledak. Emiliano Martínez kemudian memastikan kemenangan dengan penyelamatan gemilang atas tandukan Robin Le Normand di masa injury time.
Analisis Taktik: Transisi Mematikan Melawan Dominasi Posesi
Laga ini adalah pertarungan filosofi klasik. Spanyol mendikte tempo dengan ratusan operan pendek dan rotasi posisi yang cair, tetapi Argentina besutan Lionel Scaloni bermain cerdas: blok pertahanan rapat, lalu transisi vertikal begitu bola direbut. Tiga gol Argentina lahir dari skema serangan cepat yang mengeksploitasi ruang di belakang bek sayap La Roja. Cristian Romero tampil kokoh di jantung pertahanan meski menerima kartu kuning menit ke-83, sementara Alexis Mac Allister bekerja tanpa henti memutus aliran bola Rodri di zona sentral.
"Grup ini tidak pernah berhenti percaya. Kami tahu mereka akan menguasai bola, tetapi sepak bola dimenangi oleh keberanian pada momen-momen besar," ujar pelatih Argentina, Lionel Scaloni, seusai laga.
"Saya bangga dengan para pemain saya. Kami kalah dengan kepala tegak melawan tim yang memiliki pemain terbaik sepanjang masa," kata pelatih Spanyol, Luis de la Fuente.
Messi Menutup Panggung dengan Sempurna
Pada usia 39 tahun, Messi membungkam segala keraguan. Satu gol, dua assist, dan kepemimpinan tanpa kompromi sepanjang 90 menit mengantarnya mengangkat trofi Piala Dunia kedua sebagai kapten. Tidak ada hat-trick, tidak ada clean sheet — tetapi final ini tidak membutuhkan keduanya untuk menjadi klasik sepanjang masa. Argentina juara dunia lagi, dan East Rutherford menjadi saksi malam yang akan dikenang selamanya.
Comments (0)