Argentina Juara Piala Dunia 2026, Keributan Gavi-Paredes Warnai Final Dramatis

Skor akhir 2-1 untuk kemenangan Argentina atas Spanyol di laga puncak Piala Dunia 2026 yang digelar di East Rutherford, N.J., pada Minggu dinihari waktu setempat, tidak cukup menggambarkan gelora emos...

Argentina Juara Piala Dunia 2026, Keributan Gavi-Paredes Warnai Final Dramatis

Skor akhir 2-1 untuk kemenangan Argentina atas Spanyol di laga puncak Piala Dunia 2026 yang digelar di East Rutherford, N.J., pada Minggu dinihari waktu setempat, tidak cukup menggambarkan gelora emosi yang terjadi selama 90 menit plus drama tambahan usai wasit meniup peluit panjang. La Albiceleste berhasil mengangkat trofi ketiga dalam sejarah mereka berkat gol penentu di menit ke-81, sementara keributan pasca-pertandingan antara Gavi dengan Leandro Paredes dan Thiago Almada mencuri perhatian dan membuat malam final ini terkenang jauh melebihi statistik biasa.

Starting XI yang diturunkan Lionel Scaloni memakai formasi 4-3-3 klasik dengan Emiliano Martínez sebagai penjaga gawang terakhir yang gagal meraih clean sheet namun tetap menjadi dinding krusial di momen-momen genting. Sementara Luis de la Fuente membalas dengan formasi 4-3-3 yang identik, mengandalkan trio gelandang muda Spanyol untuk mengontrol tempo permainan. Penguasaan bola mencatat angka 52% untuk La Furia Roja dan 48% untuk Argentina, namun dominasi statistik itu tidak berbanding lurus dengan shots on target yang justru didominasi oleh juara Amerika Selatan dengan 8 berbanding 5.

Babak Pertama: La Albiceleste Tekan Bertubi-tubi

Menit ke-12, Argentina hampir membuka keunggulan saat Lautaro Martínez melepaskan tendangan voli dari dalam kotak penalti, namun kiper Unai Simón berhasil melakukan reflex save yang spectacular. Tekanan bertubi-tubi dari formasi 4-3-3 Scaloni membuat lini belakang Spanyol sempat kewalahan, terutama di sayap kanan yang menjadi jalur serangan favorit Ángel Di María.

Gol pembuka akhirnya tercipta di menit ke-34. Sebuah umpan terobosan brilian dari Lionel Messi menembus jebakan offside yang sempat diperiksa VAR selama dua menit, sebelum akhirnya dinyatakan valid. Messi mencatatkan assist krusialnya di final ini, melepaskan Julian Álvarez yang dengan tenang mengecoh Simón dengan tembakan low drive ke sudut kiri bawah gawang. Spanyol sempat protes keras dengan dalih offside, namun garis semi-automated offside technology menunjukkan bahwa bahu Álvarez masih sejajar dengan bek terakhir Spanyol. Wasit juga mengeluarkan kartu kuning kepada Rodri karena protes berlebihan atas keputusan tersebut.

Spanyol mencoba bangkit dengan mengandalkan short passing di area tengah. Gavi, yang beroperasi sebagai box-to-box midfielder, tampil agresif dengan 3 tackles sukses di babak pertama. Namun, Argentina terus mengancam melalui transisi cepat. Di menit ke-43, Messi melepaskan free kick berbahaya yang membentur mistar gawang, menyelamatkan Spanyol dari kebobolan kedua menjelang turun minum. Skor 1-0 bertahan hingga jeda dengan penguasaan bola 51% berpihak pada Spanyol meski shots on target Argentina lebih berbahaya.

Babak Kedua: Gol Penentu dan Kontroversi VAR

Masuk babak kedua, De la Fuente melakukan adjustment taktis dengan menurunkan fullback kanan lebih tinggi untuk menambah lebar serangan. Hasilnya, Spanyol berhasil menyamakan kedudukan di menit ke-67. Nico Williams Jr. yang masuk sebagai super-sub melesat dari sisi kiri, mengirimkan crossing rendah yang berhasil disundul Lamine Yamal. Assist dari Nico Williams itu mencatatkan kontribusi vitalnya setelah masuk di menit ke-58 menggantikan Ferran Torres. East Rutherford langsung bergemuruh saat La Furia Roja menyamakan skor menjadi 1-1.

Argentina tidak tinggal diam. Scaloni segera merespons dengan memasukkan Thiago Almada untuk menambah kreativitas di lini serang. Duel di tengah lapangan semakin panas, dan wasit harus mengeluarkan kartu kuning untuk Leandro Paredes di menit ke-74 setelah tackle keras terhadap Pedri yang berpotensi menghentikan serangan balik cepat. Spanyol kehilangan ritme sementara Argentina memanfaatkan momen emosional tersebut untuk kembali menekan.

Momen magis terjadi di menit ke-81. Messi mengambil bola di tengah lapangan, melakukan dribble melewati dua pemain Spanyol, lalu melepaskan through ball presisi kepada Lautaro Martínez yang berlari dari belakang bek. Tembakan first time Martínez dari sudut sempit merobek gawang Simón, membawa Argentina unggul 2-1. Spanyol kembali meminta intervensi VAR dengan klaim handball Messi dalam proses buildup, namun setelah ditinjau selama tiga menit, wasit menegaskan tidak ada indikasi pelanggaran. Gol itu pun sah dan menjadi penentu skor akhir.

Duel Pasca-Whistle: Gavi Terjatuh di Tengah Keributan

Peluit panjang yang menandakan Argentina sebagai juara dunia langsung diikuti oleh ledakan emosi dari kedua kubu. Pemain Argentina bergegas merayakan di tengah lapangan, sementara para pemain Spanyol tampak terpukul dengan hasil yang mengecewakan. Namun, suasana yang seharusnya penuh selebrasi berubah tegang saat terjadi insiden di pinggir lapangan.

Gavi, yang sejak menit ke-89 sudah bermain dengan emosi tinggi setelah menerima kartu kuning karena dissent, terlibat adu argumen dengan Leandro Paredes. Bek tengah Argentina yang juga sudah mengantongi kartu kuning sebelumnya tampak memprovokasi dengan gestur yang memancing reaksi. Tak lama kemudian, Thiago Almada ikut mendekat dan terjadi keributan fisik di antara ketiga pemain tersebut. Dalam pusaran itu, Gavi terjatuh ke permukaan lapangan setelah bersentuhan dengan Paredes dan Almada.

Officials serta rekan-rekan setim dari kedua negara segera berlari melerai sebelum situasi semakin memanas. Gavi yang terjatuh berhasil diangkat oleh rekan setimnya dalam kondisi emosional yang masih meluap-luap. Meski tidak ada kartu merah tambahan yang dikeluarkan wasit usai insiden tersebut karena peluit panjang sudah ditiuplah, laporan match commissioner kemungkinan besar akan meninjau kembali rekaman video untuk menentukan sanksi disipliner bagi para pelaku. Tidak ada pemain yang mencetak hat-trick di final ini, namun drama yang tercipta jauh melampaui ekspektasi sebuah laga puncak.

Dari sisi data, Argentina menutup pertandingan dengan 8 shots on target dari total 14 tembakan, sementara Spanyol hanya mengemas 5 shots on target dari 11 percobaan. Penguasaan bola 52% versus 48% tidak banyak berarti bagi La Furia Roja yang gagal mempertahankan konsistensi finishing di area krusial. Formasi 4-3-3 yang dipakai kedua tim ternyata menghasilkan pertarungan taktis yang intens, namun mentalitas juara Argentina di momen kritis menjadi pembeda utama. Sebuah final yang akan dikenang bukan hanya karena trofi, tetapi juga keributan pasca-laga yang melibatkan Gavi, Paredes, dan Almada sebagai epilog yang tak terduga.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
fajar-ramadhan

Editor Hukum. Alumni FH UI. Meliput pengadilan, MA, dan judicial review.

Comments (0)

User