Oct 11, 2026
Olahraga

Argentina Juara Dunia 2022 Usai Drama 3-3 dan Adu Penalti

Skor akhir 3-3 selama 120 menit, lalu Argentina menutup drama final Piala Dunia 2022 dengan kemenangan 4-2 dalam adu penalti atas Prancis di Lusail Stadium, Lusail, Qatar, Minggu (18/12/2022) malam WI...

Argentina Juara Dunia 2022 Usai Drama 3-3 dan Adu Penalti

Skor akhir 3-3 selama 120 menit, lalu Argentina menutup drama final Piala Dunia 2022 dengan kemenangan 4-2 dalam adu penalti atas Prancis di Lusail Stadium, Lusail, Qatar, Minggu (18/12/2022) malam WIB. Lionel Messi mencetak dua gol, Angel Di Maria satu gol, sementara Kylian Mbappe membalas dengan hat-trick yang nyaris membalikkan segalanya. Ini bukan sekadar laga puncak, melainkan pertunjukan taktik dan mental yang berlangsung selama dua jam lebih dan berakhir dengan air mata di dua kubu.

Babak Pertama: Argentina Kuasai Ruang, Prancis Kehilangan Arah

Sejak menit awal, pelatih Argentina Lionel Scaloni menurunkan starting XI dengan formasi 4-3-3 yang dimodifikasi, menempatkan Di Maria di sisi kiri untuk mengeksploitasi celah pertahanan Prancis. Penguasaan bola Argentina melonjak hingga 54 persen pada babak pertama, dengan 6 shots on target berbanding 0 milik Prancis. Menit ke-23, Di Maria dilanggar di kotak terlarang, dan wasit menunjuk titik putih. Messi yang maju sebagai eksekutor tidak menyia-nyiakan peluang, melepaskan tendangan ke sudut kanan gawang Hugo Lloris. Skor 1-0.

Menit ke-36, Argentina menggandakan keunggulan lewat serangan balik cepat. Messi menerima bola di tengah, memberi assist kepada Alexis Mac Allister, yang kemudian melepas umpan tarik ke Di Maria. Tanpa ragu, Di Maria menembak ke gawang kosong. Skor 2-0 bertahan hingga turun minum. Prancis tampak lumpuh tanpa sentuhan bola berarti dari Antoine Griezmann dan Ousmane Dembele, yang hanya mencatatkan 11 sentuhan di babak pertama.

Kebangkitan Prancis: Mbappe Mengubah Segalanya dalam Dua Menit

Memasuki babak kedua, pelatih Prancis Didier Deschamps menarik Dembele dan Olivier Giroud, memasukkan Randal Kolo Muani dan Marcus Thuram untuk menambah kecepatan di lini depan. Perubahan ini mengubah tempo. Menit ke-80, Kolo Muani dilanggar Nicolas Otamendi di kotak penalti. Mbappe maju sebagai eksekutor, menaklukkan Emiliano Martinez. Skor 2-1.

Hanya 97 detik berselang, menit ke-81, Mbappe kembali mencetak gol lewat tendangan voli indah setelah menerima umpan dari Thuram. Skor menjadi 2-2. Statistik mencatat Prancis hanya memiliki 3 shots on target sepanjang laga, tetapi dua di antaranya berbuah gol dalam waktu singkat. Argentina yang sempat menguasai 60 persen bola di babak kedua tiba-tiba kehilangan momentum.

Perpanjangan Waktu: Messi dan Mbappe Saling Balas

Menit ke-108, Messi mencetak gol ketiganya di turnamen ini setelah memanfaatkan bola rebound dari tendangan Lautaro Martinez yang ditepis Lloris. Skor 3-2 untuk Argentina. Namun, menit ke-118, Mbappe kembali menyamakan kedudukan lewat penalti setelah Gonzalo Montiel dianggap handball oleh VAR. Skor 3-3. Mbappe menyelesaikan hat-trick pertamanya di final Piala Dunia sejak 1966, sekaligus menjadi pemain kedua yang mencetak tiga gol di laga puncak.

"Kami kehilangan kendali selama 10 menit, dan Prancis menghukum kami. Tapi mental para pemain luar biasa. Mereka tidak pernah menyerah," ujar Scaloni dalam konferensi pers usai laga.

Adu Penalti: Martinez Pahlawan, Argentina Juara

Di adu penalti, Emiliano Martinez menjadi pembeda. Ia menepis tendangan Kingsley Coman dan Aurelien Tchouameni. Argentina mencetak empat gol lewat Messi, Paulo Dybala, Leandro Paredes, dan Gonzalo Montiel yang menjadi eksekutor terakhir. Skor adu penalti 4-2. Total, Argentina mencatatkan 10 shots on target sepanjang 120 menit, penguasaan bola 56 persen, dan 12 peluang tercipta. Prancis hanya 5 shots on target, tetapi konversi mereka luar biasa efisien.

Kemenangan ini mengakhiri penantian 36 tahun Argentina sejak gelar 1986. Messi, yang tampil dalam 7 laga dan mencetak 7 gol, resmi menyempurnakan koleksi trofinya. Di sisi lain, Mbappe pulang dengan top skor turnamen (8 gol) dan hat-trick di final, namun tanpa trofi. Drama di Lusail akan dikenang sebagai salah satu final terbaik dalam sejarah Piala Dunia, sebuah pertarungan antara generasi yang pergi dan generasi yang datang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS fajar-ramadhan

Editor Hukum. Alumni FH UI. Meliput pengadilan, MA, dan judicial review.

Comments (0)

User