Amri/Nita Gagal ke Final Usai Duel 97 Menit Lawan Nomor Satu Dunia

Marathon 97 menit berakhir dengan pil pahit bagi Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah. Pada semifinal Kejuaraan Dunia BWF 2026, ganda campuran Indonesia itu harus mengakui keunggulan pasangan peringkat s...

Aug 24, 2026 - 08:02
0 0
Amri/Nita Gagal ke Final Usai Duel 97 Menit Lawan Nomor Satu Dunia

Marathon 97 menit berakhir dengan pil pahit bagi Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah. Pada semifinal Kejuaraan Dunia BWF 2026, ganda campuran Indonesia itu harus mengakui keunggulan pasangan peringkat satu dunia asal China, Feng Yan Zhe/Huang Dong Ping, dengan skor akhir 1-2 (19-21, 21-19, 17-21). Hasil ini memupus mimpi Amri/Nita untuk menembus partai puncak sekaligus mengamankan medali pertama Indonesia di nomor ganda campuran sejak edisi 2021.

Babak Pertama: Adu Taktik di Lini Depan

Sejak awal, tensi pertandingan langsung terasa. Feng/Huang tampil dengan formasi standar ganda campuran modern, dengan Feng menguasai area belakang sementara Huang rajin menekan di depan net. Pola itu sempat membuat Amri/Nita kesulitan keluar dari tekanan. Pada interval gim pertama, unggulan empat asal Indonesia itu tertinggal 8-11. Meski sempat menyamakan kedudukan 17-17 lewat serangan balik tajam Nita, sektor servis dan pengembalian pertama yang kurang konsisten membuat mereka kehilangan tiga poin beruntun.

Statistik mencatat, di gim pembuka ini Amri/Nita hanya mampu mengonversi 68 persen serangan pertama menjadi poin, jauh di bawah capaian lawan yang menyentuh 81 persen. Feng/Yan Zhe pun menutup gim pertama 19-21 setelah smash silangnya tak mampu diantisipasi Amri. Satu-satunya peluang emas hadir di poin 18-18, ketika Nita gagal memanfaatkan net kill setelah rally 32 pukulan — momen yang di kemudian hari diakui sebagai titik balik.

Babak Kedua: Kebangkitan dan Perubahan Irama

Memasuki gim kedua, Amri/Nita merespons dengan mengubah ritme. Alih-alih terus beradu cepat di depan net, pasangan asuhan pelatih Herry Iman Pierngadi itu memperpanjang rally dan mengarahkan bola ke area belakang Huang Dong Ping yang lebih rawan. Strategi ini terbukti jitu. Amri yang bermain dengan kecepatan servis rata-rata 298 km/jam mulai mendikte jalannya permainan, sementara Nita tampil lebih agresif dalam menyerang posisi kosong di sisi kiri lawan.

Pada menit ke-43 pertandingan, kedudukan 11-7 untuk Indonesia di interval. Keunggulan itu dijaga hingga skor 20-18, lalu ditutup 21-19 melalui dropshot Nita yang menipu Huang di net. Gim kedua ini menjadi bukti kapasitas Amri/Nita yang mampu merebut kendali ketika mereka berani mengubah zona serangan. Sepanjang gim, penguasaan tempo rally lebih banyak berpihak pada Indonesia — 55 persen rally berakhir dengan pukulan Indonesia sebagai penentu.

"Anak-anak sudah tampil luar biasa. Masalahnya hanya di beberapa poin kritis, dan di level ini poin kritis menentukan segalanya. Kami bangga dengan perjuangan mereka," ujar Herry usai pertandingan.

Gim Penentuan: Ketangguhan Feng/Huang di Momen Krusial

Gim ketiga berjalan lebih ketat dari dua gim sebelumnya. Kedua pasangan bergantian memimpin, dengan selisih skor tak pernah melewati dua angka hingga pertengahan gim. Di skor 15-15, terjadilah momen paling krusial: keputusan VAR — dalam hal ini sistem challenge — mengubah pukulan yang awalnya dianggap keluar menjadi in untuk keunggulan Feng/Huang. Insiden itu membuat Amri/Nita kehilangan fokus, dan dua kesalahan pengembalian beruntun memaksa skor menjauh menjadi 15-18.

Feng Yan Zhe, yang mencatat total 11 smash di atas 300 km/jam sepanjang laga, menuntaskan perlawanan Amri/Nita dengan straight kill di poin 21-17. Angka-angka akhir memperlihatkan betapa tipisnya selisih keduanya: shots on target alias pukulan yang jatuh di area sulit lawan tercatat 34 berbanding 31 untuk keunggulan pasangan China, sementara total kesalahan sendiri justru lebih sedikit dilakukan Amri/Nita (23 berbanding 26).

Dengan kekalahan ini, Amri/Nita harus puas berbagi medali perunggu — sebuah capaian yang tetap menjadi pencapaian terbaik Indonesia di nomor ganda campuran dalam lima tahun terakhir. Sementara itu, Feng/Huang melaju ke final dan menambah catatan rekor pertemuan mereka atas Amri/Nita menjadi 5-1. Bagi Nita, kekalahan ini akan menjadi bahan bakar: "Kami belajar bahwa di level semifinal Kejuaraan Dunia, tidak ada poin yang boleh dibuang sia-sia. Ini pengalaman paling berharga dalam karier kami," tuturnya di mixed zone. Pertandingan ini sekaligus menegaskan bahwa ganda campuran Indonesia kembali bersaing di papan atas dunia — tinggal menunggu satu langkah lagi untuk naik podium tertinggi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
bayu-aji

Investigative Reporter. Spesialisasi: korupsi, pencucian uang, dan kejahatan korporasi.

Comments (0)

User