Adidas Tuai Kecaman Global Usai Tampilkan Mantan Tentara Israel
Raksasa apparel olahraga asal Jerman, Adidas, kembali terjebak dalam pusaran kontroversi geopolitik global. Langkah perusahaan menampilkan mantan tentara I
Raksasa apparel olahraga asal Jerman, Adidas, kembali terjebak dalam pusaran kontroversi geopolitik global. Langkah perusahaan menampilkan mantan tentara Israel (IDF), Shalev Biton, dalam kampanye pemasaran sepatu adaptif terbarunya memicu gelombang kritik tajam dari publik internasional serta seruan boikot yang meluas di berbagai platform digital.
Iklan yang dirancang untuk mempromosikan lini produk alas kaki bagi penyandang disabilitas dan amputasi tersebut menuai resistensi keras karena latar belakang figur yang dipilih. Keterlibatan figur militer dalam kampanye komersial dinilai mencederai sensitivitas kemanusiaan, terutama di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah yang terus menjadi sorotan komunitas internasional.
Kronologi dan Eskalasi Kontroversi Kampanye
Perkembangan reaksi publik terhadap peluncuran kampanye ini berlangsung cepat dalam hitungan hari. Berikut kronologi bergulirnya polemik di ruang publik:
- Peluncuran Kampanye Inklusivitas: Adidas merilis materi promosi global untuk lini sepatu adaptif yang ditujukan bagi atlet dan individu penyandang amputasi guna memperkuat citra inklusivitas jenama.
- Identifikasi Figur Kampanye: Publik mengidentifikasi Shalev Biton sebagai salah satu model utama, yang diketahui merupakan mantan personel militer Israel yang mengalami cedera saat bertugas.
- Gelombang Protes Digital: Muncul kecaman masif di media sosial dengan tagar boikot, di mana para aktivis kemanusiaan dan konsumen menilai pemilihan talent tersebut tidak sensitif terhadap krisis kemanusiaan di Gaza.
- Tekanan Reputasi Merek: Kritik merambat ke ranah pasar konsumen global, menuntut pertanggungjawaban etis serta evaluasi menyeluruh terhadap standar uji tuntas (due diligence) pemasaran korporasi.
"Langkah pemasaran korporasi global di era hiper-konektivitas tidak lagi bisa dipisahkan dari persepsi geopolitik konsumen. Ketidaksensitifan dalam seleksi duta merek berisiko menghancurkan ekuitas jenama dalam sekejap," ungkap seorang analis komunikasi korporat global.
Analisis Risiko dan Preseden Pemasaran Adidas
Insiden ini menambah daftar panjang tantangan manajemen reputasi yang dihadapi Adidas dalam beberapa tahun terakhir. Kegagalan melakukan kurasi figur publik yang bebas dari polarisasi politik menunjukkan celah dalam proses mitigasi risiko komunikasi pemasaran jenama multinasional.
| Tahun | Insiden / Kampanye | Fokus Polemik | Dampak Reputasi |
|---|---|---|---|
| 2024 | Sneaker Retro SL72 (Bella Hadid) | Kaitan sejarah Olimpiade Munich 1972 | Penarikan iklan dan permintaan maaf publik |
| 2025 | Sepatu Adaptif (Shalev Biton) | Pelibatan mantan tentara militer aktif | Seruan boikot global dan tekanan etis |
Dampak Strategis terhadap Loyalitas Konsumen
Bagi perusahaan dengan jangkauan global seperti Adidas, sentimen negatif di pasar berkembang—termasuk kawasan Timur Tengah dan Asia Tenggara—memiliki implikasi komersial yang signifikan. Konsumen modern semakin menuntut keselarasan antara nilai etika korporasi dengan aksi nyata di lapangan.
Persepsi konsumen terhadap komitmen inklusivitas Adidas kini terancam terdistorsi oleh kontroversi ini. Keberlanjutan kampanye inklusif tersebut kini berada di bawah bayang-bayang boikot, memaksa manajemen senior untuk segera mengambil langkah strategis guna meredam eskalasi kerugian reputasi jangka panjang.
Sorotan tajam publik kembali menghantam Adidas. Pemilihan figur promosi dinilai mengabaikan sensitivitas krisis kemanusiaan global dan memicu ancaman boikot konsumen. Baca selengkapnya di Beritainti.com
Comments (0)