5 Pelatih Bergaji Tinggi Gagal di Fase Grup Piala Dunia 2022

Skor akhir 4-2 untuk Jepang atas Spanyol di Matchday terakhir Grup E menjadi pukulan telak bagi Timnas Jerman. Meski menang 4-2 atas Kosta Rika di laga simultan, Der Panzer harus puas finis di peringk...

Oct 10, 2026 - 18:14
0 0
5 Pelatih Bergaji Tinggi Gagal di Fase Grup Piala Dunia 2022

Skor akhir 4-2 untuk Jepang atas Spanyol di Matchday terakhir Grup E menjadi pukulan telak bagi Timnas Jerman. Meski menang 4-2 atas Kosta Rika di laga simultan, Der Panzer harus puas finis di peringkat ketiga klasemen Grup E dengan koleksi 4 poin, terpaut selisih gol dari Spanyol yang menemani Jepang ke fase gugur. Kegagalan ini menorehkan luka kedua berturut-turut bagi Jerman setelah tersingkir di fase grup Piala Dunia 2018.

Menit ke-10, Serge Gnabry membuka keunggulan Jerman atas Kosta Rika. Sempat berbalik tertinggal 2-1 lewat gol Keysher Fuller menit ke-58 dan Juan Vargas menit ke-70, Die Mannschaft bangkit melalui Kai Havertz (menit ke-73, 85) dan Niclas Füllkrug (menit ke-89). Namun kemenangan itu sia-sia lantaran Jepang menumbangkan Spanyol di Stadion Khalifa, memastikan Jerman angkat koper lebih cepat.

Hansi Flick dan Beban Gaji Rp94 Miliar per Tahun

Di balik kegagalan taktis di lapangan, ada ironi finansial yang mencolok. Hansi Flick tercatat sebagai salah satu pelatih dengan bayaran tertinggi di Piala Dunia 2022, menerima upah sekitar 5 juta pound sterling atau setara Rp94 miliar per tahun. Angka itu menempatkannya di jajaran elite juru taktik dunia, sejajar dengan nama-nama besar yang juga harus menelan pil pahit di babak penyisihan.

Secara statistik, Jerman sebenarnya mendominasi hampir semua aspek. Melawan Kosta Rika, penguasaan bola Der Panzer mencapai 74 persen dengan 11 shots on target dari 32 percobaan. Formasi 4-2-3-1 yang diusung Flick memang produktif di sepertiga akhir, tetapi rapuh saat transisi bertahan. Dua gol Kosta Rika lahir dari kelengahan lini belakang yang sama yang menghantui Jerman sepanjang turnamen.

Kegagalan Flick bukan sekadar soal hasil. Starting XI yang ia turunkan kerap berubah-ubah tanpa pola jelas. Eksperimen memainkan Joshua Kimmich sebagai bek kanan, misalnya, mengundang kritik karena mengorbankan kreativitas lini tengah. Flick juga dianggap terlambat melakukan rotasi, terutama saat melawan Jepang di mana Jerman unggul 1-0 lewat gol Ilkay Gündogan dari titik penalti menit ke-33, sebelum runtuh dan kalah 2-1.

Daftar Pelatih Bergaji Tinggi yang Tersingkir Lebih Awal

Flick tidak sendirian. Sejumlah juru taktik dengan kontrak fantastis mengalami nasib serupa:

1. Hansi Flick (Jerman) — Rp94 miliar per tahun, tersingkir di peringkat ketiga Grup E.
2. Roberto Martinez (Belgia) — berpenghasilan tinggi, membawa generasi emas Belgia finis ketiga Grup F.
3. Carlos Queiroz (Iran) — meski bergaji lebih rendah, ekspektasi federasi membumbung tinggi sebelum kalah dari Amerika Serikat.
4. Gerardo Martino (Meksiko) — gagal membawa El Tri ke fase gugur untuk pertama kali sejak 1978.
5. Luis Fernando Suarez (Kosta Rika) — meski bertahan hingga laga terakhir, tersingkir di dasar grup.

Menariknya, dari daftar tersebut, rata-rata pelatih berpenghasilan tinggi gagal mengoptimalkan kedalaman skuad. Belgia, misalnya, hanya mencetak satu gol dari tiga laga fase grup, meski memiliki pemain sekelas Kevin De Bruyne dan Romelu Lukaku. Statistik menunjukkan shots on target Belgia hanya 13 dari 38 percobaan sepanjang babak penyisihan.

"Kami tidak layak lolos. Ini kegagalan yang harus saya tanggung," ujar Hansi Flick dalam konferensi pers usai laga, dikutip dari keterangan resmi federasi.

Analisis Taktis: Ketika Dominasi Tanpa Efisiensi

Jika ditelaah lebih dalam, pola kegagalan kelima pelatih bergaji tinggi ini punya kemiripan. Mereka mengandalkan penguasaan bola tinggi tetapi minim konversi. Jerman mencatatkan total penguasaan bola rata-rata 63 persen di fase grup, namun hanya mencetak 6 gol dari 3 pertandingan. Rasio gol per shots on target mereka hanya 0,54 — jauh di bawah Jepang yang mencapai 0,83.

Faktor lain adalah lemahnya adaptasi terhadap taktik lawan. Jepang di bawah Hajime Moriyasu berhasil memanfaatkan serangan balik cepat dengan formasi 3-4-2-1, memaksa bek sayap Jerman naik terlalu tinggi. Dua gol Samurai Biru lahir dari skema serupa dalam rentang delapan menit (menit ke-75 dan 83), menunjukkan kegagalan Flick membaca momentum.

Pelajaran bagi federasi sepak bola dunia jelas: gaji besar tidak menjamin hasil di turnamen pendek. Piala Dunia 2022 menjadi bukti bahwa efisiensi, kedalaman skuad, dan fleksibilitas taktik lebih menentukan daripada nama besar di bangku cadangan. Jerman kini harus berbenah menjelang Euro 2024 di kandang sendiri, dengan bayang-bayang kegagalan Flick yang masih menghantui.

Bagi para penggemar, statistik berbicara lebih lantang dari narasi: Der Panzer pulang dengan 4 poin, dua gol kemasukan identik dari serangan balik, dan satu gelar pelatih bergaji tertinggi yang tak berujung trofi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
indah-permata

Reporter Kriminal. Meliput Polri, kejaksaan, dan pengadilan pidana.

Comments (0)

User