5 Eks Pemain MU yang Kini Dipercaya Menjadi Pelatih
Skor akhir 1-5. Middlesbrough harus menyerah telak dari Brighton and Hove Albion pada putaran ketiga Piala FA 2022/2023 di Riverside Stadium, 7 Januari 2023. Namun di tengah kekalahan itu, kamera just...
Skor akhir 1-5. Middlesbrough harus menyerah telak dari Brighton and Hove Albion pada putaran ketiga Piala FA 2022/2023 di Riverside Stadium, 7 Januari 2023. Namun di tengah kekalahan itu, kamera justru lebih sering menyorot pria berkemeja rapi di pinggir lapangan: Michael Carrick. Eks gelandang Manchester United itu berdiri tenang di area teknis, memberi instruksi, dan sesekali meminta starting XI-nya tetap berani membangun serangan dari bawah meski tertinggal jauh. Ia baru saja ditunjuk membesut Middlesbrough pada 24 Oktober 2022, dan malam itu ia belajar banyak dari tim tamu yang tampil dengan formasi 3-4-2-1 khas Brighton.
Carrick bukan satu-satunya mantan pemain MU yang kini dipercaya memegang kursi pelatih. Setidaknya ada lima nama yang menempuh jalur dari lapangan hijau menuju ruang ganti, mulai dari Laurent Blanc yang pernah menangani klub elite Eropa, hingga Carrick yang tengah membangun reputasi di kasta kedua Inggris. Berikut ulasan data selengkapnya.
Michael Carrick: Warisan Passing dan Keberanian Mengubah Gaya
Menit ke-3, Brighton sudah memberi peringatan lewat pressing tinggi yang memaksa bek Middlesbrough melakukan kesalahan. Penguasaan bola pada laga itu tercatat 68 persen berbanding 32 persen untuk tim tamu, dan tuan rumah hanya mampu melepaskan lima shots on target dari 12 percobaan. Namun yang menarik dari Carrick bukan sekadar hasil, melainkan cara ia membangun tim.
Sebelum ke Middlesbrough, pria 41 tahun itu sempat menjadi caretaker Manchester United hanya dalam tiga laga, tepatnya pada 21 November hingga 2 Desember 2021. Hasilnya impresif: dua kemenangan dan satu hasil imbang, dengan clean sheet pada dua laga pertamanya. Ia menyerahkan kursi kepada Ralf Rangnick dengan catatan yang nyaris sempurna. Di Riverside, Carrick menanamkan prinsip penguasaan bola tinggi dan alur serangan dari lini belakang, gaya yang jelas berbeda dengan era manajer sebelumnya.
Kembali ke laga kontra Brighton, dua gol tamu sempat dianulir, satu di antaranya karena offside setelah pengecekan VAR. Skor akhir memang pahit, tetapi dari sisi data Boro tetap menciptakan peluang. Masalahnya justru di transisi bertahan, ketika serangan balik cepat lawan berkali-kali membuka ruang di sisi sayap.
Kami tidak akan mengubah cara bermain hanya karena lawan lebih kuat. Kami belajar dari setiap gol yang masuk, dan itu bagian dari proses panjang membangun tim, ujar Carrick di konferensi pers seusai laga.
Laurent Blanc: Trofi Demi Trofi dari Bordeaux ke Paris
Berbeda kelas pengalaman dengan Carrick, Laurent Blanc sudah melewati hampir semua level kepelatihan. Eks bek tengah yang memperkuat MU pada periode 2001-2003 itu memulai karier pelatih di Bordeaux, membawa tim nasional Prancis, dan puncaknya menangani Paris Saint-Germain. Bersama PSG, Blanc mengoleksi tiga gelar Ligue 1 beruntun ditambah sejumlah trofi domestik, dengan fondasi lini belakang yang sangat solid.
Menariknya, pola permainan Blanc selalu bertumpu pada ball possession. Di PSG, penguasaan bola rata-rata timnya kerap menyentuh angka 65 persen, dan ia tidak ragu menempatkan bek tengah yang piawai membangun serangan. Formasi favoritnya bergeser dari 4-3-3 ke 3-5-2 mengikuti materi pemain yang tersedia, sebuah fleksibilitas yang jarang dimiliki pelatih bertangan dingin.
Blanc membuktikan bahwa status mantan pemain MU bukan jaminan sukses di pinggir lapangan, melainkan modal. Ia kerap menyebut pengalaman berlatih di bawah Sir Alex Ferguson sebagai sekolah taktik yang tidak bisa digantikan oleh buku mana pun, terutama dalam membaca ritme pertandingan sejak menit awal.
Solskjaer, Giggs, dan Rooney: Tiga Jalan yang Berbeda
Dari generasi yang lebih muda, ada Ole Gunnar Solskjaer yang pernah membawa MU menembus final Liga Europa 2020/2021. Sebelumnya ia menorehkan karier manis di Molde dengan dua gelar liga Norwegia. Catatan Solskjaer di Old Trafford memang tanpa trofi besar, tetapi ia dikenal berani mempromosikan pemain muda ke starting XI, sebuah keberanian yang jarang terlihat dari pelatih lain.
Ryan Giggs memilih jalur berbeda. Ia sempat menjadi caretaker MU pada 2014 dan kemudian menangani tim nasional Wales selama lebih dari satu tahun. Sementara itu, Wayne Rooney, pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah MU dengan 253 gol, menjalani sekolah pelatih paling keras: memimpin Derby County di tengah sanksi pengurangan poin, lalu melanjutkan kiprah di DC United dan Plymouth Argyle. Di Plymouth, Rooney menerapkan formasi 4-3-3 dengan pressing ketat sejak menit ke-1, meski hasilnya masih naik-turun.
Kesimpulan: Warisan yang Berlanjut di Pinggir Lapangan
Dari kelima nama tersebut, belum banyak yang mampu merebut trofi besar sejauh ini. Namun semuanya membawa satu kesamaan: DNA menyerang yang ditanamkan Old Trafford. Entah itu hat-trick Solskjaer di final Liga Champions 1999 yang menjadi legenda, assist-assist Carrick di lini tengah, atau kartu kuning dan merah yang ditebus Blanc dengan ketenangan di lini belakang, semuanya tercermin dalam cara mereka melatih.
Data berbicara: total laga resmi yang sudah dijalani kelima pelatih tersebut kini melebihi 1.500 pertandingan. Mereka juga tercatat pernah memimpin tim yang mengoleksi clean sheet beruntun dan mencatatkan penguasaan bola dominan di kompetisi masing-masing. Jika konsisten, bukan tidak mungkin salah satu dari mereka akan kembali duduk di kursi panas klub sebesar Manchester United. Sebab di sepak bola modern, pelatih terbaik lahir dari pemain yang dulu paling paham arti memenangkan duel di setiap menit pertandingan.
Comments (0)