Kim Sang-sik: Arsitek Kebangkitan Timnas Vietnam di Asia Tenggara

Skor akhir 5-3 untuk keunggulan agregat Timnas Vietnam atas Thailand pada final ASEAN Championship 2024 bukan sekadar deretan angka. Itu adalah pukulan telak yang memutus tiga gelar beruntun Thailand ...

Aug 24, 2026 - 12:00
0 0
Kim Sang-sik: Arsitek Kebangkitan Timnas Vietnam di Asia Tenggara

Skor akhir 5-3 untuk keunggulan agregat Timnas Vietnam atas Thailand pada final ASEAN Championship 2024 bukan sekadar deretan angka. Itu adalah pukulan telak yang memutus tiga gelar beruntun Thailand sekaligus menobatkan Kim Sang-sik sebagai pelatih Korea Selatan kedua yang mengangkat trofi turnamen ini setelah Park Hang-seo pada 2018. Di tengah euforia malam Bangkok, pelatih kelahiran 1976 itu membuktikan diri bukan sekadar penerus estafet, melainkan arsitek baru kebangkitan sepak bola Vietnam.

Penunjukan Kim pada Mei 2024 bukan tanpa risiko. Ia menggantikan Philippe Troussier yang didepak setelah Timnas Vietnam terpuruk di kualifikasi Piala Dunia 2026. Eks kapten Seongnam Ilhwa yang pernah menukangi Jeonbuk Hyundai Motors di K League 1 itu datang membawa filosofi sederhana namun tajam: disiplin tanpa kehilangan keberanian menyerang. Dalam hitungan bulan, jejaknya mulai terasa di ruang ganti maupun di lapangan.

Perombakan Starting XI dan Identitas Baru

Salah satu perubahan paling mencolok adalah keberaniannya merombak starting XI. Kim tidak segan menepikan nama-nama yang dianggap menurun dan memberi kepercayaan kepada pemain muda seperti Nguyen Hai Long, sekaligus menjadikan Nguyen Xuan Son, striker naturalisasi kelahiran Brasil, sebagai poros serangan. Di tangannya, formasi 3-4-2-1 menjadi identitas utama: tiga bek tengah membangun serangan dari bawah, dua wing-back naik-turun tanpa lelah, dan dua gelandang serang bebas bergerak di belakang penyerang tunggal.

Pola itu langsung terlihat dari statistik penguasaan bola. Rata-rata penguasaan bola Vietnam sepanjang turnamen tercatat sekitar 56 persen, jauh lebih stabil dibanding periode akhir era Troussier yang kerap kehilangan kendali lini tengah. Shots on target pun membaik dengan rata-rata di atas enam tembakan tepat sasaran per laga, dan distribusi gol tidak lagi bergantung pada satu nama. Meski tak ada yang mencetak hat-trick di turnamen ini, kontribusi gol datang merata dari lini tengah, sayap, hingga bek yang ikut naik saat bola mati.

Final Bangkok: Drama Perpanjangan Waktu

Jalan menuju gelar tidak mulus. Di leg pertama di Viet Tri, Vietnam menang 2-1 berkat dua gol Xuan Son di babak kedua, salah satunya lahir dari assist cantik Nguyen Hoang Duc. Namun, leg kedua di Rajamangala Stadium menjadi ujian mental terberat. Thailand tampil menekan, memimpin lebih dulu, lalu sempat memanfaatkan momen kontroversial di menit ke-64 ketika Supachok Sarachat mencetak gol saat pemain Vietnam berhenti karena mengira terjadi pelanggaran. Tanpa bantuan VAR yang memang tidak tersedia di turnamen ini, keputusan itu memicu protes keras.

Skor agregat sempat imbang dan laga berlanjut ke perpanjangan waktu. Di sinilah tangan dingin Kim teruji. Ia menaikkan intensitas serangan, dan menit ke-104 Nguyen Hai Long melepaskan tembakan dari tepi kotak penalti yang tak mampu dihalau kiper Thailand. Gol itu menjadi titik balik. Vietnam menutup laga dengan kemenangan 3-2 di kandang lawan dan skor akhir agregat 5-3. Drama gelap hadir di penghujung laga: Xuan Son mengalami cedera patah tulang dan harus digotong keluar lapangan di tengah selebrasi. Top scorer dengan tujuh gol itu tetap menjadi pahlawan, tetapi kehilangannya menjadi pekerjaan rumah besar bagi Kim.

Sebelum final, Kim juga menunjukkan kecerdasan membaca lawan. Di semifinal, Vietnam menekuk Singapura di dua leg, termasuk clean sheet di leg pertama, berkat disiplin pertahanan dan jebakan offside yang rapi. Sepanjang turnamen, catatan kartu kuning/merah Vietnam juga tergolong minim, cermin pengendalian emosi yang ia tanamkan sejak sesi latihan pertama.

Warisan dan Tantangan Berikutnya

Gelar ini menempatkan Kim Sang-sik sejajar dengan Park Hang-seo di hati suporter Vietnam. Namun, tantangan berikutnya jauh lebih berat: kualifikasi Piala Asia 2027, regenerasi skuad, dan mengisi lubang yang ditinggalkan Xuan Son. Kim sendiri enggan berpuas diri.

"Saya tidak membangun tim untuk satu turnamen, tetapi untuk masa depan yang lebih panjang," ujar Kim. "Kemenangan ini bukan akhir, melainkan awal dari standar baru."

Yang menarik, Kim justru menolak disebut penyelamat. Baginya, keberhasilan ini adalah buah kerja kolektif pemain, staf, dan federasi yang memberinya kepercayaan penuh. Dengan modal trofi ASEAN di lemari dan fondasi taktik yang sudah terbentuk, tantangan Kim berikutnya adalah membuktikan bahwa era keemasan Vietnam tidak hanya milik satu generasi. Jika konsistensi di bawahnya bertahan, bukan tidak mungkin skor akhir di turnamen-turnamen besar berikutnya akan kembali berpihak pada Timnas Vietnam.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
indah-permata

Reporter Kriminal. Meliput Polri, kejaksaan, dan pengadilan pidana.

Comments (0)

User