10 Pengkhianatan Terbesar Sepak Bola Inggris: Dari Campbell hingga Grealish

Loyalitas seorang pemain kepada klubnya adalah salah satu komoditas paling mahal dalam sepak bola Inggris. Namun sejarah mencatat, sejumlah bintang memilih memutus tali itu demi trofi, uang, atau ambi...

10 Pengkhianatan Terbesar Sepak Bola Inggris: Dari Campbell hingga Grealish

Loyalitas seorang pemain kepada klubnya adalah salah satu komoditas paling mahal dalam sepak bola Inggris. Namun sejarah mencatat, sejumlah bintang memilih memutus tali itu demi trofi, uang, atau ambisi pribadi. Dari derbi London Utara hingga derbi Manchester, berikut sepuluh kisah pengkhianatan terbesar yang pernah mengguncang sepak bola Inggris, lengkap dengan data dan angka di balik setiap keputusan kontroversial.

Sol Campbell: Garis Putus di Derby London Utara

Tidak ada pengkhianatan yang lebih benderang selain langkah Sol Campbell pada musim panas 2001. Bek tengah yang menghabiskan sembilan tahun dan 255 penampilan bersama Tottenham Hotspur memutuskan hengkang dengan status bebas transfer, langsung ke musuh bebuyutan, Arsenal. Keputusan itu ia bayar dengan hujatan sepanjang karier; spanduk bertuliskan "Judas" menghiasi White Hart Lane setiap kali ia kembali. Namun angka berbicara lain: di musim pertamanya, Campbell mempersembahkan double Premier League dan Piala FA 2001-02, lalu menjadi bagian dari tim Arsenal yang tak terkalahkan sepanjang musim 2003-04. Ia bahkan mencetak gol di final Liga Champions 2006 melawan Barcelona. Bagi pendukung Spurs, namanya adalah kutukan. Bagi buku statistik, ia adalah salah satu bek terbaik generasinya.

Dennis Law: Tendangan Balik yang Menghukum Setan Merah

Sebelum era transfer gila-gilaan, ada satu kisah yang lebih menyakitkan: Dennis Law. Legenda Manchester United dengan 237 gol dan peraih Ballon d'Or 1964 itu justru menjadi algojo klubnya sendiri. Pada laga terakhir musim 1972-73, Law yang saat itu membela Manchester City mencetak gol backheel pada menit-menit akhir di Old Trafford. Skor akhir 1-0 untuk City, dan hasil itu memastikan United terdegradasi ke divisi dua untuk pertama kalinya sejak 1938. Ironisnya, Law tidak pernah merayakan gol itu; ia berjalan tertunduk, sadar betul apa yang baru saja ia lakukan. Dalam wawancara bertahun-tahun kemudian, ia mengaku tidak berniat mencetak gol tersebut. Namun sejarah tetap mencatatnya: gol yang mengirim klub tercintanya turun kasta.

Era 2009: Tevez, Owen, dan Adebayor

Musim 2009 menjadi tahun paling berdarah bagi rivalitas Manchester. Carlos Tevez meninggalkan Manchester United menuju Manchester City dengan nilai transfer 25,5 juta pound, lalu memicu perang kata-kata lewat poster raksasa bertuliskan "Welcome to Manchester" yang dipasang di dekat Old Trafford. Puncaknya terjadi pada Januari 2010: dua gol Tevez membawa City menang 2-1 di Old Trafford pada leg pertama semifinal Piala Liga, lengkap dengan selebrasi tangan menutup telinga di depan pendukung United. Di musim yang sama, Michael Owen justru melangkah dari Newcastle ke Manchester United secara gratis. Suporter Liverpool, klub yang pernah ia bela dengan 118 gol dalam 216 laga, membakar kaus bergambar wajahnya. Owen menjawab dengan gol kemenangan menit ke-96 saat United menang 4-3 atas City pada September 2009. Belum lagi Emmanuel Adebayor yang pindah dari Arsenal ke City senilai 25 juta pound, lalu berlari sepanjang lapangan untuk meluncur tepat di depan tribun pendukung Arsenal usai mencetak gol pada September 2009.

Van Persie, Rooney, Lampard, dan Rekor Grealish

Dekade berikutnya tak kalah panas. Robin van Persie meninggalkan Arsenal ke Manchester United dengan nilai 24 juta pound pada 2012, dan langsung membayar lunas: 26 gol di Premier League mengantar United meraih gelar juara ke-20. Ia mencetak gol kemenangan 2-1 atas Arsenal di Old Trafford pada November 2012, tanpa selebrasi, dan menolak menyebutnya balas dendam. Wayne Rooney sempat mengajukan transfer request pada Oktober 2010 ketika Chelsea mengincarnya, sebelum akhirnya menandatangani kontrak baru dan mencetak rekor 253 gol untuk United. Frank Lampard, ikon Chelsea dengan 211 gol, justru memperkuat Manchester City pada 2014 dan mencetak gol penyeimbang kontra Chelsea dalam laga yang berakhir 1-1 di Etihad. Yang terbaru, Jack Grealish menjadi pengkhianat termahal: 100 juta pound dibayar Manchester City pada 2021, rekor transfer pemain Inggris, setelah 213 penampilan membela Aston Villa sejak kecil. Satu nama yang nyaris masuk daftar ini adalah Steven Gerrard, yang sempat menyerahkan transfer request ke Liverpool pada 2005 demi Chelsea, sebelum akhirnya membatalkan niatnya dan tetap menjadi legenda Anfield.

Sepuluh nama di atas membuktikan satu hal: dalam sepak bola modern, kesetiaan sering kalah telak oleh trofi dan kontrak. Sebagian dari mereka menuai hujatan seumur hidup, sebagian lagi dianggap pahlawan karena prestasi. Yang pasti, setiap kepindahan itu meninggalkan bekas statistik yang tak terhapus, dari degradasi 1973 hingga rekor transfer 100 juta pound. Di Inggris, kisah pengkhianatan bukan sekadar drama, melainkan babak sejarah yang selalu dihitung ulang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
fajar-ramadhan

Editor Hukum. Alumni FH UI. Meliput pengadilan, MA, dan judicial review.

Comments (0)

User