Wasit Hentikan Laga Leeds Vs Man City demi Momen Berbuka Puasa

Pertandingan Liga Inggris antara Leeds United dan Manchester City menyajikan momen yang jauh lebih besar daripada sekadar angka di papan skor. Saat waktu berbuka puasa tiba, wasit menghentikan jalanny...

Aug 12, 2026 - 10:19
0 0
Wasit Hentikan Laga Leeds Vs Man City demi Momen Berbuka Puasa

Pertandingan Liga Inggris antara Leeds United dan Manchester City menyajikan momen yang jauh lebih besar daripada sekadar angka di papan skor. Saat waktu berbuka puasa tiba, wasit menghentikan jalannya laga sejenak, memberi kesempatan kepada para pemain Muslim untuk menepi ke pinggir lapangan dan membatalkan puasa mereka. Stadion yang semula bergemuruh mendadak larut dalam atmosfer penuh hormat — sebuah pemandangan yang memperlihatkan wajah terbaik sepak bola modern.

Momen Berbuka di Pinggir Lapangan

Kamera menangkap pemandangan mengharukan ketika para pemain Muslim Manchester City — Rayan Cherki, Omar Marmoush, Abdukodir Khusanov, dan Rayan Ait-Nouri — berjalan ke tepi lapangan untuk minum dan mengisi kembali energi setelah seharian menahan lapar dan dahaga. Staf tim tampak sigap menyodorkan botol minum, sementara rekan-rekan setim memberikan ruang dan waktu. Tidak ada kebingungan, tidak ada protes — semua berjalan natural, seolah jeda ini memang sudah menjadi bagian dari naskah pertandingan.

Bagi Ait-Nouri dan Khusanov, menjalani puasa Ramadan di tengah ketatnya jadwal kompetisi bukanlah hal baru. Namun melakukannya dalam laga sekelas Liga Inggris, dengan intensitas pressing tinggi dan tempo permainan tanpa ampun, jelas menuntut pengelolaan fisik luar biasa. Data performa menunjukkan pemain yang berpuasa tetap mampu mempertahankan jarak tempuh lari di atas 10 kilometer per laga — bukti nyata profesionalisme dan kekuatan mental mereka di atas lapangan.

Kebijakan Liga Inggris yang Jadi Teladan

Penghentian singkat untuk berbuka puasa bukanlah keputusan dadakan di atas lapangan. Liga Inggris telah menerapkan panduan yang memungkinkan wasit menjeda pertandingan saat waktu maghrib tiba selama bulan Ramadan. Kebijakan ini lahir dari dialog antara operator liga, klub, dan para pemain Muslim yang jumlahnya terus bertambah di kompetisi kasta tertinggi Inggris.

Presedennya sudah ada sejak beberapa musim lalu. Publik sepak bola masih mengingat momen ketika bek Leicester City, Wesley Fofana, membatalkan puasanya di tengah laga kontra Crystal Palace pada 2021 — peristiwa yang kemudian membuka jalan bagi formalisasi jeda berbuka puasa di seluruh pertandingan Liga Inggris. Sejak itu, pemandangan pemain meneguk air atau menyantap kurma di pinggir lapangan saat matahari terbenam menjadi bagian dari kalender Ramadan kompetisi.

Yang menarik, kebijakan ini berjalan tanpa mengorbankan integritas pertandingan. Jeda hanya berlangsung sekitar satu hingga dua menit, dilakukan saat bola mati, dan disepakati kedua tim sebelum kick-off. Tidak ada keuntungan kompetitif yang diperoleh dari penghentian ini — murni penghormatan terhadap kebutuhan ibadah para atlet yang berlaga.

Skuad Multikultural The Cityzens

Manchester City menjadi contoh nyata bagaimana keragaman justru menjadi kekuatan. Dengan formasi racikan Pep Guardiola yang menuntut disiplin taktik tinggi, kehadiran empat pemain Muslim dalam starting XI dan rotasi skuad membuktikan bahwa perbedaan keyakinan tidak pernah menjadi penghalang performa. Marmoush dengan ketajamannya di lini depan, Cherki dengan kreativitasnya sebagai gelandang serang, Ait-Nouri yang rajin menyisir sisi kiri lapangan, dan Khusanov yang kokoh mengawal lini pertahanan — semuanya berpuasa, semuanya tetap tampil penuh.

Leeds United sebagai tuan rumah juga layak mendapat apresiasi setinggi-tingginya. Tidak ada keberatan, tidak ada drama — hanya sikap sportif yang membuat momen ini berjalan khidmat. Suporter di tribun bahkan memberikan aplaus saat jeda berbuka berlangsung, menciptakan salah satu potret toleransi terbaik yang terekam musim ini.

Lebih dari Sekadar Sepak Bola

Di era ketika sepak bola sering dinilai hanya dari penguasaan bola, shots on target, dan poin di klasemen, momen seperti ini mengingatkan kita pada nilai yang lebih dalam. Olahraga adalah bahasa universal, dan toleransi adalah tata bahasanya. Ketika wasit meniup peluit bukan untuk pelanggaran melainkan untuk menghormati ibadah, sepak bola menunjukkan kapasitasnya sebagai perekat sosial lintas budaya dan keyakinan.

Bagi jutaan penonton Muslim di seluruh dunia, pemandangan empat pemain City berbuka puasa di pinggir lapangan adalah representasi yang membanggakan. Bagi penonton lainnya, ini adalah pelajaran bahwa menghormati perbedaan tidak mengurangi keseruan kompetisi — justru memperkaya maknanya. Liga Inggris sekali lagi membuktikan diri bukan hanya sebagai kompetisi terpopuler di dunia, tetapi juga yang paling inklusif.

Skor akhir akan tercatat di buku statistik, tetapi momen jeda berbuka puasa ini akan diingat jauh lebih lama oleh semua yang menyaksikannya. Di lapangan hijau, toleransi selalu keluar sebagai pemenang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
bayu-aji

Investigative Reporter. Spesialisasi: korupsi, pencucian uang, dan kejahatan korporasi.

Comments (0)

User