Spanyol Juara Piala Dunia 2026, Messi Tertunduk di Final MetLife
Skor akhir: Spanyol 2-1 Argentina. Peluit panjang di MetLife Stadium, New Jersey, menandai salah satu malam paling emosional dalam sejarah Piala Dunia. Lionel Messi, kapten Albiceleste yang membela ne...
Skor akhir: Spanyol 2-1 Argentina. Peluit panjang di MetLife Stadium, New Jersey, menandai salah satu malam paling emosional dalam sejarah Piala Dunia. Lionel Messi, kapten Albiceleste yang membela negaranya untuk terakhir kalinya di turnamen empat tahunan ini, tertunduk lesu di tengah lapangan sementara para pemain La Roja berlarian merayakan gelar juara dunia kedua mereka. Sepak bola kadang kejam, dan malam ini ia memilih sisi yang berbeda dari sang maestro.
Dari sisi statistik, Spanyol memang tampil lebih superior. Penguasaan bola 63 persen berbanding 37 persen menjadi cerminan dominasi anak asuh Luis de la Fuente sejak menit pertama. Shots on target 8 berbanding 3 juga memperlihatkan efektivitas serangan Spanyol yang jauh lebih tajam dibanding lini depan Argentina yang dipimpin Messi dan Julián Álvarez. Total tembakan pun berpihak pada Eropa: 17 berbanding 9.
Babak Pertama: Gelandang Spanyol Mengunci Permainan
Argentina turun dengan formasi 4-3-3, menempatkan Messi di sisi kanan dengan kebebasan bergerak ke tengah, sementara Spanyol menjawab dengan 4-2-3-1 yang mengandalkan Rodri sebagai jangkar. Sejak kick-off, pressing tinggi La Roja membuat lini belakang Argentina kesulitan membangun serangan dari bawah. Enzo Fernández dan Alexis Mac Allister praktis kehilangan ruang di lini tengah.
Kebuntuan pecah pada menit ke-34. Berawal dari pergerakan Pedri di half-space, bola dialirkan ke Lamine Yamal di sisi kanan. Winger muda itu mengirimkan umpan silang mendatar yang disambar Nico Williams dengan sepakan first-time ke sudut jauh gawang Emiliano Martínez. Gol 1-0 untuk Spanyol, dan assist itu menjadi bukti sahih bahwa duet sayap Spanyol adalah yang paling mematikan di turnamen ini.
Argentina mencoba merespons lewat skema bola mati, namun sundulan Cristian Romero pada menit ke-41 masih melambung tipis di atas mistar Unai Simón. Hingga turun minum, Albiceleste hanya mencatatkan satu shots on target — angka yang jauh dari kata meyakinkan untuk tim yang berstatus juara bertahan.
Babak Kedua: Drama VAR dan Gol Penentu Yamal
Lionel Scaloni melakukan perubahan di jeda pertandingan, memasukkan Leandro Paredes untuk menambah stabilitas. Hasilnya sempat terlihat. Pada menit ke-49, Messi dijatuhkan di kotak penalti setelah duel dengan Pau Cubarsí. Wasit awalnya melanjutkan permainan, namun tinjauan VAR mengubah keputusan menjadi penalti. Menit ke-52, Messi maju sebagai algojo dan dengan dingin mengecoh Unai Simón ke arah berlawanan. Skor 1-1, dan stadion meledak oleh sorakan suporter Argentina.
Namun momentum itu tidak bertahan lama. Spanyol kembali mengambil kendali lewat penguasaan bola yang sabar. Argentina dipaksa bertahan rendah, dan kartu kuning mulai berhamburan — Rodrigo De Paul pada menit ke-61 dan Paredes pada menit ke-70 karena pelanggaran taktis untuk memutus transisi cepat lawan.
Puncak drama terjadi pada menit ke-78. Rodri memenangkan duel di tengah, bola bergulir ke Pedri yang langsung mengirim umpan terobosan membelah dua bek Argentina. Lamine Yamal berlari memanfaatkan ruang, mengecoh Nahuel Molina, lalu melepaskan tendangan keras kaki kiri yang bersarang di pojok gawang. 2-1 untuk Spanyol — gol yang kelak akan diputar ulang selama bertahun-tahun.
Di sisa waktu, Argentina mengurung pertahanan lawan. Sebuah tandukan Julián Álvarez pada menit ke-86 dianulir karena offside tipis yang dikonfirmasi VAR. Empat menit tambahan waktu tidak cukup. Tirai pertandingan pun turun.
Malam Perpisahan yang Pahit untuk Sang Kapten
Kamera televisi menangkap momen yang akan menjadi gambar ikonik turnamen ini: Messi tertunduk, kedua tangan di pinggang, menatap rumput MetLife dalam keheningan. Di usianya yang tak lagi muda, ini kemungkinan besar adalah laga kompetitif terakhirnya bersama tim nasional. Satu gol dari titik putih malam ini menambah koleksinya, tetapi trofi yang ia dambakan melayang ke tangan generasi baru Spanyol.
"Kami sudah memberikan segalanya. Sepak bola tidak selalu memberi apa yang pantas kamu dapatkan, dan malam ini kami harus menerima itu dengan kepala tegak," ujar Lionel Scaloni dalam konferensi pers pascalaga.
"Menghadapi Messi adalah ujian terberat bagi tim mana pun. Para pemain saya menunjukkan kedewasaan luar biasa. Gelar ini untuk seluruh rakyat Spanyol," kata Luis de la Fuente.
Spanyol kini resmi menyandang status juara dunia dengan generasi emas baru yang dipimpin Yamal, Pedri, dan Nico Williams. Sementara bagi Argentina dan Messi, malam di New Jersey ini menjadi penutup sebuah era — era yang memberi dunia begitu banyak keajaiban, dan berakhir dengan air mata serta kepala yang tertunduk.
Comments (0)